VIDEO - Korban Eks Lubang Tambang Ingin Jadi Polwan, Ayah Belum Sempat Bawa ke Mal
Natasya Aprilia Dewi sempat meminta untuk didaftarkan ke Pesantren, karena enggan sekolah di SMP biasa.
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sanadi (37) dan Purwanti (28) masih sangat terpukul atas meninggalnya Natasya Aprilia Dewi (10), anak pertamanya dari dua bersaudara.
Sanadi yang sehari-hari bekerja sebagai pemasang wallpaper dinding yang juga bertani itu masih tampak ramah kepada siapa saja yang datang ke rumah.
Berkali-kali warga datang, berkali-kali itu juga dirinya menceritakan mengenai kematian anaknya.
Kendati mengaku sudah ikhlas dengan kepergian anaknya, namun dirinya meminta agar lubang eks tambang batu bara itu segera ditutup.
Ditemui di Tribunkaltim.co di rumah duka, Jalan Kebon Agung, RT 12, Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, suaranya terdengar sangat berat keluar dari mulutnya.
Bahkan, bibir Sanadi tampak masih bergetar saat mengucap nama anaknya. Namun demikian, dirinya tetap menjelaskan mengenai apa yang menimpa keluarganya.
Menurutnya, Natasya Aprilia Dewi panggilan sehari-hari anaknya, merupakan anak yang tergolong penakut, bahkan kendati sudah berusia 10 tahun, anaknya masih tidur dengan orangtuanya.
"Anaknya penakut, kok bisa sampai ke sana. Apalagi itu habis subuh, kan masih gelap," ucapnya mengawali, Jumat (31/5/2019).
Natasya Aprilia Dewi merupakan murid SD Islam kelas IV, yang saat ini sudah kenaikan kelas V. Setelah lulus SD, Natasya Aprilia Dewi sempat meminta untuk didaftarkan ke Pesantren, karena enggan sekolah di SMP biasa.
Bahkan, beberapa hari sebelum korban tenggelam dan meninggal di RSUD IA Moies. Natasya Aprilia Dewi sempat meminta untuk diajak ke Ramayana guna membeli baju lebaran.
Permintaan itu diiyakan oleh Sanadi, lalu berjanji akan membawanya serta adik korban ke mall pada Rabu (29/5) lalu.
"Ia, dia minta ke Ramayana, beberapa kali memang minta ke sana. Senang sekali dia saat saya bilang akan membawanya ke sana, rencananya ya Rabu (29/5) sore mau saya bawa ke sana," ungkapnya.
Namun, Rabu (29/5) pagi sekitar pukul 07.00 Wita, korban diketahui tenggelam di lubang eks tambang batu bara, Jalan Magelang 1, RT 17, Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran.
Warga sekitar yang mengetahui kejadian itu, langsung berupaya untuk menolong korban. Setelah berhasil dievakuasi, sekitar pukul 08.00 Wita, korban langsung dilarikan ke RSUD IA Moies guna perawatan lebih lanjut.
Setelah sempat dibawa ke ruang ICU, sekitar pukul 17.30 Wita korban tetap tidak terselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia karena banyak kemasukan air bercampur lumpur, yang warnanya kehitaman khas batu bara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sanadi-pegang-foto-tasya.jpg)