1.889 Anak Balikpapan Mengalami Stunting, Dokter akan Turun Tangan jadi Pengasuh
Sebanyak 1.889 anak di Kota Balikpapan mengalami gangguan pertumbuhan yang tidak sesuai dengan umurnya atau Stunting.
Penulis: Siti Zubaidah | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN - Sebanyak 1.889 anak di Kota Balikpapan mengalami gangguan pertumbuhan yang tidak sesuai dengan umurnya atau Stunting.
Data stunting 2019, usia 0-23 bulan ada 714 anak dari jumlah sasaran 12.389 anak. Sementara usia 24-59 bulan ada 1.175 anak dengan jumlah sasaran 21.729
Total keseluruhan usia 0-59 bulan sebanyak 1.889 anak yang mengalami stunting. Dengan total anak usia 0-59 ada 34.127 orang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan dr. Andi Sri Juliarti mengatakan, kasus stunting di usia 0-7 bulan ada 714 kasus. Namun, kasus stanting menurun dari tahun lalu.
"Data ini berubah, karena setiap bulan anak stunting bertumbuh. Kasusnya naik turun. Jika orang tua sudah sadar bahwa anaknya tidak mengalami stunting bisa saja berat badannya naik.
Ada pula muncul kasus yang baru. Setiap bulan kader melaporkan ke kita kasusnya bisa naik turun," kata Dio sapaan akrab dr. Andi Sri Juliarti.
Perhatian Dinas Kesehatan Kota Balikpapan menyasar anak 0-23 bulan yang totalnya 714 anak. Karena usia ini yang perkembangan keemasan.
"Jadi kita harus jaga betul," kata dr. Andi Sri Juliarti.
Rencananya, pada Hari Bakti Dokter Indonesia tanggal 30 Juni 2019 nanti berdasarkan arahan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat, bahwa dokter harus betul-betul menurunkan angka stunting.
"Jadi di hari itu dokter sendiri akan ikut menjadi orangtua asuhnya balita yang mengalami stunting," katanya.
Di mana, pada Hari Bakti Dokter Indonesia ke 111 nanti para dokter turun langsung memantau kondisi anak-anak stunting.
Dari 714 anak stunting di Balikpapan ada 111 anak yang akan ditangani langsung oleh para dokter.
"Kami dokter di Balikpapan ada 500 orang. Kita bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dari data 0-23 bulan. Para dokter tidak bermaksud mengambil fungsi ahli orang tua.
Kita hanya membantu perawatan gizi, PMT dari Kementerian Kesehatan sudah ada seperti biskuit makanan anak.
Tapi anak stunting itu tidak cukup dengan makanan itu, sehingga kita bantu asupannya dan dibantu mengawasi," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-kota-dkk-balikpapan-dr-andi-sri-juliarti.jpg)