Berita Eksklusif

Dengar Akan Ada Pembongkaran, Warga di Bantaran Sungai Karang Mumus Bingung Pindah Kemana

Sejumlah warga RT 28, Kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu mengaku belum melihat surat edaran Pemkot Samarinda yang meminta mereka membongkar

Dengar Akan Ada Pembongkaran, Warga di Bantaran Sungai Karang Mumus Bingung Pindah Kemana
Tribunkaltim.co, Nalendro Priambodo
Permukiman padat penduduk di Sungai Karang Mumus persisnya di belakang Jembatan Perniagaan belakang Pasar Segiri Samarinda. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sejumlah warga RT 28, Kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu mengaku belum melihat surat edaran Pemkot Samarinda yang meminta mereka membongkar sendiri bangunannya.

Pembongkaran ini akan dilakukan untuk membantu normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM) lewat pengerukan sedimentasi dan relokasi warga pinggiran sungai. Surat tersebut beredar di media sosial akhir Juni lalu

"Kami cuma tahu dari bisik-bisik tetangga, kalau ada surat edaran itu kami belum lihat fisiknya," kata Ida, warga RT 28 ditemui Tribun, Senin (7/7) di rumahnya.

"Pak RT juga belum kasi tahu. Beliau lagi di rumah sakit," ujar perempuan yang sudah tinggal di lokasi tersebut sejak 1985.

Ida tak sendirian, ada puluhan bangunan berbahan kayu yang berjejer di kawasan tersebut. Kebanyakan warga yang bermukim bekerja di Pasar Segiri.

PEMUKIMAN SKM- Kondisi Sungai Karang Mumus (SKM) kawasan jalan  jembatan Perniagaan belakang Pasar Segiri, dan jalan Hasan Basri, Kamis (4/7).Selama bertahun tahun kawasan SKM ini masih jadi tempat aktifitas kehidupan, termasuk mandi, cuci, kakuss (MCK). (TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO)
PEMUKIMAN SKM- Kondisi Sungai Karang Mumus (SKM) kawasan jalan jembatan Perniagaan belakang Pasar Segiri, dan jalan Hasan Basri, Kamis (4/7).Selama bertahun tahun kawasan SKM ini masih jadi tempat aktifitas kehidupan, termasuk mandi, cuci, kakuss (MCK). (TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO) (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP)

Ada yang bekerja sebagai tukang becak, buruh cabut bulu ayam sampai tukang potong dan sortir sayur mayur.

Warga RT 28 lainnya, Diana mengaku was-was sejak kabar pembongkaran rumah di RT santer beredar. "Saya ngga bisa tidur, mikir nanti mau pindah di mana," katanya.

Sebagai tukang cabut bulu ayam potong dengan penghasilan harian Rp 80 ribu dan menghidupi dua anak, ia tak punya cukup finansial dan pilihan tempat tinggal layak jika nanti diminta pindah.

"Kalau ada uang, mana mau saya tinggal di sini," kata perempuan yang tinggal di lokasi sejak tahun 90 an ini. (*)

Selengkapnya Baca Koran Tribun Kaltim Edisi Selasa (9/7)

Halaman
12
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved