Kaltim Kontribusi Penghasil Migas Terbesar, Tapi 82 Persen Terdapat Desa Tertinggal

Ternyata kontribusi Dana Bagi Hasil (DBH) Migas di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk daerah tertinggal belum sepenuhnya.

Kaltim Kontribusi Penghasil Migas Terbesar, Tapi 82 Persen Terdapat Desa Tertinggal
TribunKaltim.Co/Fachmi Rachman
DISKUSI SKK MIGAS - kepala SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi menyaksikan dua pembicara yaitu Kepala Perwakilan BI Kota Balikpapan, Bimo Epyanto dan Dosen Fakultas Ekonomi Unmul Aji Sofyan Effendi memberikan pemaparan di depan peserta diskusi Kontribusi Kegiatan Usaha Hulu Migas sebagai Penggerak Perekonomian Pengembangan Industri di Daerah di Hotel Grand Jatra Balikpapan, Kamis (11/7). Diskusi ini dilaksanakan untuk memberikan informasi mengenai peran sektor hulu migas bagi pengembangan industri lokal di wilayah Kaltim 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ternyata kontribusi Dana Bagi Hasil (DBH) Migas di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk daerah tertinggal belum sepenuhnya.

Kaltim merupakan daerah penghasil Migas terbesar, namun 82 persen terdapat desa tertinggal. Hal ini dibahas dalam diskusi migas di Hotel Jatra Balikpapan, Kamis, (11/7/2019)

Diskusi Migas yang mengangkat tema kontribusi Kegiatan Usaha Hulu Migas Sebagai Penggerak Perekonomian dan Pengembangan Industri di Daerah dihadiri para narasumber, Bimo Epyanto Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Kota Balikpapan,

Wahyu Widhi Heranata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kaltim, serta Aji Sofyan Effendi Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman.

Acara yang diikuti para mahasiswa serta media di Balikpapan ini dibuka  Syaifuddin Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Dari hasil diskusi tersebut, Pengamat Ekonomi Aji Sofyan Effendi, membeberkan, dana bagi hasil yang pembangunan ekonomi di wilayah Kaltim sangat minim.

"Miris saya, Kaltim yang kaya akan produksi minyak dan gas (Migas) ternyata 82 persen di dalamnya masih ada desa tertinggal," katanya

Melihat hal itu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini merancang formulasi bagaimana agar Dana Bagi Hasil (DBH) Migas bisa dimanfaatkan untuk membangun desa tertinggal.

“Ironisnya Kaltim ini penghasil Migas terbesar tetapi 82 persen desanya sangat tertinggal. Kan ironis itu. Dengan bahasa yang simpel ini perlu kita carikan solusi. Solusinya itu DBH adalah merupakan pertambahan alokasi DBH plus alokasi formula,” katanya.

Selain DBH pemanfaatan Partisipasi Interest (PI) juga bisa diformulasikan untuk membangun desa tertinggal di Kaltim. Dana Coorporate Social Responsibility (CSR) juga bisa lakukan. Hanya saja program ini belum berjalan maksimal.

Pemerintah memberikan bagian 10% PI pada usaha di hulu Migas untuk digarap digarap oleh provinsi Kaltim. Ia mempertanyakan apakah PI sebesar Rp. 600 miliar sudah masuk ke kas daerah atau belum.

Halaman
123
Penulis: Siti Zubaidah
Editor: Samir Paturusi
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved