Senin, 20 April 2026

Normalisasi Sungai

Kolam Retensi Vorvo Samarinda Kalimantan Timur Sudah tak Maksimal Tampung Air

Ada infrastruktur yang dibangun dalam pada sub sistem Sungai Karang Mumus dan daerah lainnya di Kota Samarinda belum optimal.

Editor: Budi Susilo
Tribunkaltim.co/Nevrianto HP
Watermaster seharga Rp 14 miliar akhirnya dapat difungsikan di polder vorvo simpang empat mall Lembuswana, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur pada Kamis (26/3/2015) siang. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumberdaya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Samarinda, Desy Damayanti, membantah, jika tak optimalnya fungsi kolam retensi air disebabkan ketiadaan anggaran Pemkot Samarinda mengelola infrastruktur.

Dalam paparan presentasi yang dipampang pemerintah di pinggir Sungai Karang Mumus, persisnya di RT 27 Gang Nibung, Kota Samarinda.

Pengamatan Tribunkaltim.co, ada tertulis, kolam retensi merupakan salah satu infrastruktur yang dibangun dalam pada sub sistem Sungai Karang Mumus dan daerah lainnya di Kota Samarinda belum ada optimalisasi.

Sebabnya, karena tidak dioperasikan sesuai prosedur yakni pompa tidak pernah dioperasikan dan tidak terdapat biaya operasional oleh Pemkot Samarinda.

Desy membantah hal itu, ia menjelaskan, Pemkot Samarinda menganggarkan Rp 5 miliar untuk operasional 3 kolam retensi di Samarinda. Yakni kolam retensi Vorvo, Gang Indra dan Air Hitam.

“Itu termasuk bayar penjaga, BBM, hantu banyu dan 3 kolam retensi. Pompa nyala, tapi tidak kami nyalakan kalau dalam posisi tak ada airnya,” katanya kepada Tribunkaltim.co pada Senin (15/7/2019). 

Ia menjelaskan, keberadaan kolam retensi Vorvo, saat ini kurang maksimal menampung air saat debit hujan tinggi.

Hal itu, disebut dia, karena perkembangan pesat permukiman di sekitar kolam yang berada di simpang empat Mall Lembuswana, Samarinda ini.

Awalnya, dijelaskan Desy, kolam retensi ini, direncanakan hanya untuk daerah tangkapan di sekitaran jalan Vorvo.

Air yang ditampung, perlahan dibuang ke Sungai Karang Mumus dengan bantuan gaya gravitasi atau pompa mesin.

PENGERUKAN SUNGAI KARANG MUMUS - Suasana hari pertama pengerukan awal, normalisasi sebagian sungai Karang Mumus menggunakan excavator amfibi pasca banjir di gang Nibung jalan dr Sutomo Samarinda Kalimantan Timur, Senin (15/7/2019).
PENGERUKAN SUNGAI KARANG MUMUS - Suasana hari pertama pengerukan awal, normalisasi sebagian sungai Karang Mumus menggunakan excavator amfibi pasca banjir di gang Nibung jalan dr Sutomo Samarinda Kalimantan Timur, Senin (15/7/2019). (Tribunkaltim.co/Nevrianto HP)

Ternyata, dengan semakin banyaknya permukiman, aliran air dari sebagian jalan dr Soetomo ikut ditampung di kolam itu.

Desy lupa persis berapa kapasitas tampung saat ini, ia hanya mengingat, luasan kolam sekitar setengah hektare, tak mampu lagi menampung air.

“Sekarang limpasan air dari Sungai Karang Mumus, masuk lagi ke sana (kolam retensi),” ucapnya di pinggiran Sungai Karang Mumus.

Dia melanjutkan, air di kolam itu, tak bisa sepenuhnya dikosongkan.

Sebab, jika kosong melompong bakal merusak struktur bangunan menjadi retak-retak.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved