Tahun Baru Islam

Bubur Suro dan Maknanya, Hidangan Khas Peringati Malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1 Muharram

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H juga selalu dibarengi dengan peringatan 1 Suro pada kalender penanggalan Jawa.

Bubur Suro dan Maknanya, Hidangan Khas Peringati Malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1 Muharram
Instagram @link_catering_
Bubur Suro dan Maknanya, Hidangan Khas Peringati Malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1 Muharram 

TRIBUNKALTIM.CO - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H juga selalu dibarengi dengan peringatan 1 Suro pada kalender penanggalan Jawa.

Tanggal 1 Suro (1 Muharram dalam tarikh Islam atau 1 Asyura) diperingati oleh masyarakat Jawa dengan cara khas dan dilaksanakan secara turun-temurun selama berabad-abad.

Seperti halnya dalam tradisi dan budaya yang lain, setiap ritual pelintasan (rites of passage) selalu diiringi dengan elemen kuliner sebagai lambang.

Masyarakat Jawa menghadirkan bubur suran atau bubur suro pada malam menjelang datangnya 1 Suro atau malam Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H.

Dalam konsep Jawa, setelah lewat pukul empat petang dianggap sudah memasuki hari baru esok.

Harus diingat, bubur suro bukanlah sesajen yang bersifat animistik.

Ilustrasi bubur Suro
Ilustrasi bubur Suro (Tribunnews)

Bubur suro syarat dengan lambang, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan sebagai alat (uba rampe dalam bahasa Jawa) untuk memaknai 1 Suro atau Tahun Baru yang akan datang.

Bubur suro dibuat dari beras, santan, garam, jahe, dan sereh.

Rasanya gurih dengan nuansa asin-pedas tipis.

Di atas bubur ini ditaburi serpihan jeruk bali dan bulir-bulir buah delima, serta tujuh jenis kacang.

Halaman
1234
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved