Breaking News
Senin, 13 April 2026

Beda Pilihan saat Pencoblosan, Hajatan Keluarga Janda Diboikot, tak Ada Tetangga yang datang

Beda pilihan saat pencoblosan, hajatan keluarga janda diboikot, tak Ada tetangga yang datang

capture video Tribun Jateng
Hajatan di Sragen Diboikot karena Beda Pilihan Pilkades 

TRIBUNKALTIM.CO - Beda pilihan saat pencoblosan, hajatan keluarga janda diboikot, tak Ada tetangga yang datang

Gara-gara beda pilihan saat pencoblosan Pilkades sebelumnya hajatan keluarag di Srgaen Jawa Tengah ini diboikot.

Tetangga tak ada yang mau menghadiri pesta pernikahan yang digelar keluarga tersebut.

Pengembang Ini Usung Tagline Beli Rumah dapat Janda Muda Ada Hadiah Nginap di Phuket atau Bali

Terungkap Tarif Kencan Janda dengan Pria Berondong yang Digerebek Satpol PP di Hotel

Hajatan Nikahkan Anaknya Diboikot Warga, Hanya karena Janda Ini Dituduh Lakukan Ini Saat Pilkades

3 Janda Digerebek saat tengah Berduaan dengan Berondong di dalam Hotel

Seorang janda asal Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Suhartini (50) harus menahan pilu dan malu seusai hajatan pernikahan anak bungsunya, Dwi Sri Suwarni dengan Eko Jatmiko diboikot warga.

Alasannya, Tini sapaan akrabnya, dituduh beda pilihan saat Pilkades yang diselenggarakan 5 September 2019 lalu.

Padahal ratusan kursi, meja, tenda hingga dekorasi pelaminan sudah dipasang dengan maksimal hingga makanan kenduri yang diberikan warga justru ada yang menolak mentah-mentah.

"Ibu bukan kader, bukan timses, tidak mencolok, kawan sana kawan sini, ia saja hanya buruh tani biasa dan ibu rumah tangga," tutur putri sulung Tini, Siti Aminah (27) kepada TribunSolo.com di RT 13 Dukuh Jetak, Desa Hadiluwih, Sumberlawang, Sragen, Kamis (17/10/2019).

"Kalau gak kerja, ibu cuma bantu jaga warung kakaknya, bungkusi atau apa," imbuhnya membeberkan.

Hanya karena beda Pilkades, pernikahan janda di Sragen diboikot oleh warga sedesa.
Hanya karena beda Pilkades, pernikahan janda di Sragen diboikot oleh warga sedesa. (Instagram)

Siti sapaan akrabnya menceritakan, kejadian pemboikotan itu sudah tampak sejak malam klumpukan ulem atau pembuatan undangan pada selasa atau seminggu yang lalu.

"Sebelum klumpukan ulem, sekitar hari rabu, ibu itu datang ke Pak RT biasalah silaturahmi mau minta tolong untuk membantu ngurus hajatan," kata Siti.

"Namun, Pak RT kemudian mengalihkan ke wakil karangtaruna," imbuhnya membeberkan.

Tini menimpali, saat bertamu ke rumah wakil karangtaruna, sosok itu malah kaget seusai mendengar perkataannya.

"Dia malah kaget dan mengatakan, bukan, aku cuma wakil hanya laden (pesuruh), aku cuma ikut apa yang dikatakan ketua," ujar Tini.

"Kondisi ini kemudian saya sampaikan saat kumpulan keluarga, sekaligus minta pertimbangan dari kakak-kakak saya, terlebih saya sudah ndak ada suami," tambahnya.

Siti menuturkan, warga mendapatkan intimidasi saat hendak datang ke acara pembuatan undangan sekira hari kamis seminggu yang lalu.

Sumber: Tribun Solo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved