Tragedi Bintaro 1987, Masinis Selamat tapi Dipenjara hingga Istrinya Minta Cerai, Ini Kisahnya

Tragedi Bintaro 1987, Nasib Masinis Kini dan Analisis Kecelakaan Kereta Api yang Tewaskan 156 Orang

Tragedi Bintaro 1987, Masinis Selamat tapi Dipenjara hingga Istrinya Minta Cerai, Ini Kisahnya
KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE
Tragedi Bintaro 1987, kecelakaan kereta api terburuk yang menewaskan 156 orang 

TRIBUNKALTIM.CO - Tragedi Bintaro 1987, Nasib Masinis Kini dan Analisis Kecelakaan Kereta Api yang Tewaskan 156 Orang

Dalam sejarah Indonesia, ada kecelakaan kereta api tragis yang melibatkan dua kereta api, peristiwa itu dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987.  

Peristiwa Tragedi Bintaro 1987 adalah musibah terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia hingga menjadi perhatian dunia.

Kecelakaan Tragedi Bintaro 1987 terjadi di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada tanggal 19 Oktober 1987.

Seperti dilansir dari dokumentasi pemberitaan Harian Kompas, 20 Oktober 1987 menyebutkan, saat itu, kereta api Patas No 220 dengan rangkaian tujuh gerbong dari arah Tanah Abang menuju ke arah Merak bertabrakan dengan KA No 225 dari Rangkasbitung ke Tanah Abang.

Kecelakaan kedua kereta api tersebut terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, Sebelah Utara Sekolah Menengah Atas Negeri 86 Bintaro.

Mengenang Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987 dan Foto-foto, Saat Masinis Kereta Tak Bisa Lihat Semboyan

Tepatnya berada di dekat tikungan melengkung Tol Bintaro, tepatnya di lengkungan "S", berjarak kurang lebih 200 m setelah palang pintu Pondok Betung dan ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara.

Dalam Tragedi Bintaro 1987 tersebut tercatat 156 orang dan 300 luka-luka.

Nasib Masinis

Diketahui, masinis KA 225, Slamet Suradio berhasil selamat dari tragedi memilukan tersebut.

Halaman
1234
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved