Ada Warga Tarakan yang Menderita TBC Ditelantarkan Keluarganya Sendiri, Begini Respon Pemkot
Ada Warga Tarakan yang Menderita TBC Ditelantarkan Keluarganya Sendiri, Begini Respon Pemkot.
Penulis: Junisah | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Pemberdyaan Masyarakat Kota Tarakan, setiap minggu ada saja orang yang telantar di tampung di shelter atau tempat penampungan yang berada di samping Kantor Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat.
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Tarakan, Maryam mengungkapkan, orang yang terlantar di Kota Tarakan berasal dari luar Kota Tarakan, seperti dari Jawa, Sulewesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Mereka yang terlantar ini kasusnya berbeda-beda ada yanh dibohongi dengan janji akan diberikan pekerjaan. Misalnya yang baru-baru ini dijanjikan kerja di tambang batu bara di Malinau, eh ternyata malah dibawa ke Nunukan. Padahal orang ini sudah bayar kepada orang yang menjanjikan tersebut. Akhirnya pergi ke Tarakan dan telantar di Tarakan," ucapnya, Selasa (29/10/2019).
Menurut Mariyam, orang yang terlantar di Tarakan biasanya terlebih dahulu di tampung di shelter selama seminggu. Selama shelter orang yang terlantar ini ditanggung biaya makannya oleh Baznas Tarakan. Sebab untuk makan orang telantar kita masih minim anggarannya," ucapnya.
Mariyam mengaku, orang yang terlantar di Tarakan biasanya akan dipulangkan ke daerah asalnya. Meskipun begitu, ada sebagian yang menolak untuk dipulangkan ke daerah asalnya dan tetap memilih tinggal di Tarakan.
"Karena memilih tinggal di Tarakan, yah mau tidak mau kita carikan pekerjaan. Alhamdulilah mereka mau bekerja. Salah satu pekerjaan yang kita berikan menjadi tukang kebun," katanya.
Mariyam menambahkan, sebenarnya orang telantar dari Tarakan sendiri ada juga ditemukan. Orang Tarakan ini telantar, karena keluarganya tidak mau terima, karena yang bersangkutan menderita penyakit TBC.
"Karena menderita penyakit TBC, keluarganya tidak mau terima akhirnya ditelantarkan. Melihat ini kami akhirnya dibantu anggota Satpol PP membawa ke RSUD Tarakan untuk mendapatkan perawatan dan dirawat inap. Setelah dinyatakan membaik, kita bawa ke shelter sambil berobat jalan," ujarnya.
Dikatakan Mariyam, bahwa penanganan orang telantar ini sangat penting dilakukan. Oleh karena itu, pihaknya akan menganggarkan dana bagi penanganan orang-orang telantar di Kota Tarakan.
Penderita TBC di Kutai Timur
Indonesia merupakan negara dengan beban tuberculosis (TBC) yang cukup tinggi.
Tak terkecuali di Provinsi Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Kutai Timur.
Temuan penderita TBC di Kutim pada 2018 lalu mencapai 1.530 penderita.
Sehingga diperlukan adanya penguatan jejaring layanan dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta atau Publik Private Mix (PPM).
Maksudnya, untuk meningkatkan jejaring kerja program TBC di Kabupaten Kutim, sekaligus meningkatkan angka temuan di 2019 ini, sebesar 74 persen, dibanding 2018 lalu.