Kampung Iklim Plus

Lestarikan Hutan di Kawasan Bukit Bangkirai dengan Pola Adopsi Pohon

Para pecinta lingkungan dari dalam dan luar negeri berkunjung ke sini dan mereka ikut aktif melestarikan hutan.

Lestarikan Hutan di Kawasan Bukit Bangkirai dengan Pola Adopsi Pohon
Tribun Kaltim
Jurnalis saat meninjau lokasi Proklim Plus Bukit Bangkirai di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (25/10/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO - Banyak cara dapat dilakukan sebagai bukti berperan aktif melestarikan hutan. Tanpa harus intens mendatangi kawasan hutan. Salah satunya dengan pola mengadopsi pohon. Gerakan ini yang digalakkan pengelola Bukit Bangkirai hingga sekarang.

Bukit Bangkirai merupakan objek Proklim Plus berikutnya yang dikunjungi setelah Desa Muhuran dan Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jumat (25/10/2019) siang, para jurnalis yang didampingi Kasubbag Publikasi Biro Humas Setprov Kaltim, Inni Indarpuri, dan Konsultan Pembangunan & Perlindungan Sosial Forest Carbon Partnership Facility- Carbon Fund (FCPF-CF) Bank Dunia, Akhmad Wijaya, melanjutkan media trip.

Sore menjelang malam, tiba di Bukit Bangkirai, kawasan konsesi PT Inhutani I Unit Manajemen Hutan Tanaman (UMHT) Batu Ampar Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Ini merupakan kawasan hutan sekaligus destinasi ekowisata yang vegetasi utama di sini adalah jenis pohon bangkirai atau Shorea Laevis. Itulah alasan hutan ini dinamai Bukit Bangkirai.

Sabtu (26/10/2019) pagi, perjalanan menyusuri Bukit Bangkirai dimulai, dipandu oleh Tamrin Ari, Kepala Unit Usaha Jasa Wisata Hutan Bukit Bangkirai. Sepanjang perjalan, Tamrin memaparkan cukup detail tentang pohon maupun tanaman unggulannya. Menariknya, di antara pepohonan tersebut ada yang disebut pohon adopsi. Jumlahnya lebih 100 pohon.

"Terbanyak yang diadopsi adalah pohon bangkirai. Para pecinta lingkungan dari dalam dan luar negeri berkunjung ke sini dan mereka ikut aktif melestarikan hutan. Caranya, mereka menanam pohon dengan pola adopsi," tutur Tamrin. Di setiap pohon tercantum nama orang yang mengadopsi dan tanam jenis pohon.
Untuk mengadopsi pohon, wajib membayar Rp 2 juta per tahun (tahun pertama) dengan masa adopsi selama 10 tahun. Tahun kedua dan seterusnya hanya membayar Rp 1 juta. Uangnya digunakan untuk kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon. Maklum, pohon yang baru ditanam pasti memerlukan perawatan baik penyiangan gulma, pemupukan, pagar dan lainnya.

Salah satu spot yang sangat menarik perhatian yakni canopy bridge (jembatan kanopi). Ini jembatan yang menghubungkan puncak pohon dengan puncak pohon yang lain. Jembatan kanopi hanya berketinggian 25-30 meter dan panjangnya 64 meter. Menikmati keindahan hutan dari ketinggian jembatan kanopi. Spot ini juga merupakan strategi Inhutani menarik minat masyarakat.

Menurut tamrin, ada tutupan hutan yang dilindungi termasuk Bukit Bangkirai. Luas hutan alam ini 510 hektare, lalu mangrove 1.500 hutan mangrove di Mentawir, tutupan hutan lainnya yakni hutan tanaman industri karet. "Itulah kegiatan di UMHT Batu Ampar. Ecotourism dan edukasi Bukit Bangkirai ini untuk menjaga lingkungan, namun dapat memanfaatkan jasanya. Secara keseluruhan luas hutan sesuai perizinan mencapai 16 ribu hektare," kata Tamrin.

Ribuan jenis pohon tumbuh di kawasan ini. Ada Ulin, Bangkirai, Meranti, Jengkol Hutan, Gaharu, Agathis, dan berbagai jenis tumbuhan hutan lainnya. Ada pula berbagai tumbuhan obat. Bahkan Tamrin merinci, ada sekitar 2.800 jenis flora dan fauna, 3.000 jenis jamur, 13 jenis rotan, 24 jenis anggrek dan 113 jenis burung, serta jenis mamalia dan serangga lainnya.

Sementara menurut Akhmad Wijaya, Bukit Bangkirai termasuk salah satu Wilayah Penilaian Kinerja (WPK) Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) Carbon Fund, karena masih memiliki tutupan hutan. Hasil WPK sebagai bagian dari konsesi PT Inhutani I, akan dihitung nilai insentifnya. "Bagi FCPF-Carbon Fund, ada yang menjaga dan memelihara hutan yang tersisa. Salahsatunya di Bukit Bangkirai yang dikelola oleh PT Inhutani. Tadi sudah melihat jembatan kanopi. Ini merupakan destinasi ecotourism yang nantinya bakal menjadi wisata unggulan di jantung ibu kota negara," tambah Wijaya.(bersambung)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved