Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam
Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Rita Noor Shobah
TRIBUNKALTIM.CO, KUTAI KARTANEGARA - Kisah Desa Muhuran, hanya berjarak 2 jam dari Tenggarong, hidup mandiri tanpa listrik 24 jam
Pesta rakyat yang digelar masyarakat Desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara jauh dari kata meriah dan mewah.
Pesta rakyat yang dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen sawah berlangsung sangat sederhana dan penuh kekeluargaan.
Seluruh warga tampak duduk lesehan bersama di jalanan yang terbuat dari kayu, yang menghubungkan rumah satu dengan rumah lainnya.
Kendati demikian, tetap ada hiburan musik elekton, Tari Jepen dan alunan musik gambus yang seluruhnya dimainkan oleh warga Desa Muhuran.
BACA JUGA
Peringati Hari Anak Internasional, SDN 004 Loa Kulu Kutai Kartanegara Belajar di Halaman Sekolah
UMK Kutai Kartanegara 2020 Lebih Tinggi dari UMP Provinsi Kalimantan Timur, Segini Besarannya
Menuju Desa Muhuran dapat ditempuh sekitar 2 jam menggunakan kendaraan roda empat dari Tenggarong, Ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara dan sekitar 3 jam lebih dari Samarinda, Ibu kota Provinsi Kalimantan Timur.
Letak Desa Muhuran tepat berada di ujung jembatan Ing Martadipura.
Kendaraan roda empat nyaris tidak dapat memasuki perkampungan, hanya kendaraan roda dua yang dapat digunakan di wilayah perkampungan.
Namun, jika kondisi Sungai Belayan sedang tinggi, kendaraan roda empat dapat diangkut feri menyebrang.
Kendaraan roda empat dapat diparkir di dekat dermaga penyebrangan menuju Desa Muhuran.
Penyebrangan menuju Desa hanya ditempuh sekitar 3-5 menit.
Sepanjang perjalanan menuju titik pesta rakyat, pohon mangga dengan buahnya terlihat menggoda.
Saking banyaknya buah yang ada, beberapa warga menyediakan meja berisi penuh mangga, serta pisau untuk dinikmati secara cuma-cuma.
Pesta rakyat tahun ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tahunnya tanggal 10 November.

Terdapat 678 jiwa dari 226 kepala keluarga (KK) penghuni Desa Muhuran.
Rata-rata mata pencaharian warga berupa tani dan nelayan.
Sejak Minggu (1/11/2019) pagi, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan oleh Yayasan Bioma dan Yayasan Bumi, serta Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul),
mulai dari perlombaan bagi murid SD Negeri 016, pelatihan penerapan produk teknologi tepat guna kepada masyarakat sekitar, syukuran, mencok bareng hingga perlombaan perahu dan lomba mencok.
"Setiap kali panen kita adakan syukuran, ya pesta rakyat ini. Semua warga berkumpul disatu tempat, lalu berdoa, makan bersama hasil bumi.
Tahun ini sekitar 50 ton hasil panen," ucap Kepala Desa Muhuran, Ahmad Nur (44), Minggu (10/11/2019).
"Tahun ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, semoga semua warga dapat memaknai hari Pahlawan ini dengan kegiatan yang bermanfaat," sambung Ahmad Nur.
Panen terjadi hanya setahun sekali. Sejauh ini hasil panen hanya mengandalkan air dari curah hujan.
Namun, pihaknya tengah melakukan pembenahan terhadap saluran irigasi agar tidak terus menerus bergantung terhadap cuaca.
Pasalnya, 2016 lalu warga Desa mengalami gagal panen akibat kekeringan yang melanda kawasan tersebut.
Sejauh ini, hasil panen padi masih diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat selama setahun.
Jika masih ada sisa, hasil panen berupa gabah dijual ke Desa terdekat, maupun ke Kota Bangun.
Pasalnya, hingga saat ini Desa Muhuran belum memiliki mesin pengolah gabah, hal itulah yang membuat warga belum dapat menjual beras.
"Dijual Rp 5.600 per Kg gabah, mereka ada alat untuk jadikan beras. Tapi, tahun depan ( 2020 ) kita siap jual beras," imbuh Ahmad Nur.

Sejauh ini masyarakat baru dapat memanfaatkan lahan pertanian berupa sawah mencapai 158 Ha, dan masih ada sekitar 200 Ha sisa lahan yang dapat dimanfaatkan warga.
"Lahan yang ada semua punya warga, minimal warga punya lahan tani sekitar setengah Ha lebih," Kata Ahmad Nur yang telah empat tahun menjabat sebagai kepala Desa.
Belum Teraliri Listrik 24 Jam
Kendati warga Desa Muhuran terlihat harmonis, namun warga tetap mendambakan aliran listrik yang dapat digunakan nonstop.
Saat ini, 678 jiwa warga Desa Muhuran hanya dapat menggunakan listrik selama kurang lebih lima jam, dari pukul 18.00 - 23.00 Wita setiap harinya yang bersumber dari mesin disel yang dikelola Bumdes ( Badan Usaha Milik Desa ).
Per rumah dikenakan tarif Rp 5.000 per malamnya untuk kebutuhan membeli bahan bakar minyak ( BBM ) jenis solar.
Setiap malam dibutuhkan sekitar 56 liter solar.
Mendapatkan solar juga bukan perkara mudah, warga harus menempuh jarak sekitar 16 Km ke Kota Bangun.
Sesampainya di sana pun belum tentu mendapatkan solar.
"Solar sulit didapatkan, per liternya Rp 8.000 kalau di sini," ucap Kepala Desa Muhuran, Ahmad Nur, Minggu (10/11/2019).
Lanjut dirinya menjelaskan, sejak dirinya menjabat sebagai Kepala Desa, dirinya telah mengajukan permohonan pemasangan instalasi listrik sejak 2008 lalu, namun hingga saat ini belum terealisasi.

"Sampai sekarang belum bisa nikmati listrik 24 jam," imbuh Ahmad Nur.
Selain menginginkan aliran listrik 24 jam, warga juga menginginkan dermaga permanen sebagai sarana penghubung menuju Desa yang dipisahkan oleh Sungai Belayan.
Saat ini terdapat dermaga yang terbuat dari kayu dengan lima kapal feri kayu sebagai sarana penyebrangan.
Ahmad Nur juga berharap Desa yang dipimpinnya memiliki aula yang berfungsi untuk kegiatan, maupun pertemuan warga.
"PLN belum ada, dermaga permanen, dan aula, itu yang masih ingin kita adakan," jelas Ahmad Nur.
Pilot Project Kampung Iklim Plus
Yayasan Bioma dan Yayasan Bumi telah melakukan pendampingan di Desa Muhuran sekitar satu tahun terakhir.
Pendampingan dilakukan karena Desa Muhuran dinilai memiliki potensi disektor pertanian, perikanan dan kehutanan, yang dapat bersama-sama dikembangkan.
"Salah satunya bentuk wisata lingkungan. Tapi mereka harus bisa kenal jati dirinya.
Kebetulan di sini mereka punya tradisi sedekah bumi, syukuran panen hasil bumi dan kesenian," ucap Ketua Yayasan Bioma, Ahmad Wijaya, Minggu (10/11/2019).
Lanjut dirinya menjelaskan, potensi lain yang dapat dikembangkan yakni wisata agro, termasuk wisata kuliner, serta potensi pemanfaatan limbah hutan dan pertanian.
"Makanya kita juga kalaborasi dengan Fahutan Unmul untuk pemanfaatan limbah dan energi terbarukan. Bisa juga dijadikan laboratorium sosial," tutur Ahmad Wijaya.
"Pendampingan yang kita lakukan sifatnya volunteer saja, ketika ada waktu luang, kita datang untuk diskusi dengan warga, terlebih jaraknya dengan Samarinda tergolong mudah ditempuh," sambung Ahmad Wijaya.
Selama pendampingan dilakukan, telah terbuat peta rencana tata ruang wilayah.
Peta tersebut berisi mengenai kawasan pemanfaatan pertanian, konservasi hutan, pengembangan wilayah dan pengembangan ekowisata.
Untuk diketahui, Kalimantan Timur ( Kaltim ) menjadi provinsi pertama di Indonesia menjadi provinsi percontohan program penurunan emisi.
Pada program tersebut, dipilih 150 Desa untuk dijadikan kampung prioritas yang dinamakan kamping Iklim Plus sesuai dengan Permen LH RI Nomor 84 tahun 2016 tentang Program Kampung Iklim.
"Plusnya mereka bisa menjaga, dan komitmen," imbuh Ahmad Wijaya.
Program penurunan emisi sendiri baru dimulai tahun depan ( 2020 ).
Namun, dirinya melihat Desa Muhuran lebih maju beberapa langkah dari Desa lainnya.
"Bulan depan baru kita minta persetujuan warga, Desa ini bisa jadi pilot project," pungkas Ahmad Wijaya. (*)