Kisah Puradi, 30 Tahun Jadi Tukang Sapu Jalan di Kota Balikpapan, Terima Gaji Rp 1,8 Juta/Bulan
Puradi, sudah 30 tahun menjadi tukang sapu jalan di Kota Balikpapan. Tiap bulan ia terima gaji Rp 1,8 Juta.
Penulis: Amiruddin | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN -Puradi, sudah 30 tahun menjadi tukang sapu jalan di Kota Balikpapan. Tiap bulan ia terima gaji Rp 1,8 Juta.
Angin sepoi-sepoi bertiup di anjungan Pantai Melawai, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (3/1/2020) sore ini.
Sejumlah pedagang kaki lima terlihat mulai menyiapkan dagangannya.
Mereka mulai bersiap menjemput rezeki dari pengunjung pantai.
Sejumlah warga yang hendak menikmati keindahan pantai, juga mulai berdatangan.
Baik mengendarai roda dua ataupun empat.
Dari kejauhan, terlihat seorang pria paruh baya berpakaian serba orange.
Ia menenteng sapu lidi, sambil mendorong gerobak yang juga berwarna orange.
• Tukang Sapu Jalanan Nikahi Bule Asal Austria Gara-gara Smule, Sang Wanita Rela Terbang ke Indonesia
• Tabrak Petugas Sapu Jalanan di Balikpapan Hingga Tewas, Pengendara Ternyata Tak Miliki SIM A
• Kepala DLH Balikpapan Suryanto Jengkel, Petugas Sapu Jalanan Jadi Korban Tabrak Lari
• Pelaku Pukul Istri Usai Minta Rp 100 Ribu, Polisi Amankan Barang Bukti Sapu Lidi yang Patah
Dialah, Puradi (53).
Tukang sapu jalanan yang bekerja sebagai tenaga kontrak, di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan.
"Sudah lebih 30 tahun, saya jadi tukang sapu jalanan di Balikpapan. Saya tenaga kontrak di Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan," kata Puradi, saat dihampiri Tribunkaltim.co.
Puradi merupakan perantau asal Jember, Jawa Timur.
Ia pertama kali menginjakkan kaki di Balikpapan, sekitar tahun 1982 silam.
Kala itu, Puradi diajak oleh rekannya mengadu nasib di Kota Minyak itu.
Apalagi kata dia, memperoleh kerjaan saat itu sangat susah di Tanah Jawa.

"Pertama kesini, saya bekerja di kebun orang, bersama teman-teman asal Jember juga," ujarnya.
Berniat mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih bagus, ia menerima tawaran rekannya, sebagai tukang sapu jalanan.
Saat itu, ia hanya digaji Rp 40 ribu perbulan.
Gaji Rp 40 ribu itulah, yang dipakainya untuk bertahan hidup di rantau.
Termasuk ditabung, buat menikahi pujaan hatinya, Sriatun.
Sriatun yang telah memberinya dua buah hati tersebut, juga perantau di Balikpapan.
Ia berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
"Gaji sempat naik, dari Rp 40 ribu menjadi Rp 500 ribu, dan kini Rp 1,8 juta perbulannya," ujarnya.
Setiap hari, Puradi bertugas membersihkan jalan sepanjang Pantai Melawai.
Atau tepatnya, mulai di Lapangan Merdeka 2 hingga Pantai Melawai, Jl Jenderal Sudirman, Balikpapan.
"Jam kerja saya pukul 14.00 Wita hingga pukul 18.00 Wita, itu kiri dan kanan jalan. Saya naik sepeda dari kontrakan di Jl Projakal ke sini," ujarnya.
Puradi mengaku bersyukur, keluarganya sangat mengerti pekerjaannya sebagai tukang sapu jalanan.
Meskipun kata dia, gaji sebagai tukang sapu jalanan, terkadang tidak cukup buat kebutuhan rumah tangganya.
Termasuk kedua buah hatinya, yang harus memendam hasratnya melanjutkan studi ke perguruan tinggi, gegara terkendala biaya.
"Dicukupkan ajalah. Kita harus banyak-banyak bersyukur. Meskipun banyak kebutuhan yang harus dipenuhi," tuturnya.
Puradi berharap, suatu saat upah sebagai tukang sapu jalanan bisa semakin baik.
Apalagi harga kebutuhan dapur, setiap saat mengalami perubahan.
"Semoga tahun ini semakin baiklah mas. Tetapi intinya, apapun pekerjaan kita harus disyukuri," tutupnya.
Puradi hanya seorang di antara ratusan tukang sapu jalan, yang berada di Balikpapan.
Berkat kerja Puradi dan kawan-kawanlah, yang mengantar Balikpapan meraih Adipura Kencana lima tahun berturut-turut. (*)