Setelah Bongkar Lem Aibon, William Aditya PSI Kritik Ide TOA Anies Baswedan, Mirip Perang Dunia II
Setelah bongkar anggaran Lem Aibon, William Aditya Sarana PSI kritik ide TOA Anies Baswedan, mirip Perang Dunia II.
"Nah, dua pendekatan ini yang di mana titik besarnya itu TOA menurut saya cara yang sangat tradisional, seperti Perang Dunia II," sambungnya.
Sebagai solusi, William Aditya Sarana menawarkan aplikasi bernama Pantau Banjir yang ternyata sudah ada sejak lama.
"Harusnya lebih pakai pendekatan yang lebih modern.
Pakai namanya aplikasi Pantau Banjir, kita sudah ada aplikasi Pantau Banjir," kata William Aditya Sarana.
William Aditya Sarana menjelaskan warga Jakarta bisa mengunduh aplikasi tersebut untuk nantinya diberi pemberitahuan terkait banjir.
"Nah dalam aplikasi Pantau Banjir tersebut, sebenarnya ada fitur yang namanya Siaga Banjir.
Jadi kalau ada banjir, orang yang download aplikasi itu akan diberikan notifikasi," jelasnya.
Sayangnya, aplikasi Pantau Banjir versi terbaru justru menghilangkan fitur pemberitahuan banjir tersebut.
Meski demikian, William Aditya Sarana menyebut warga yang tidak punya aplikasi tersebut bisa tetap mendapat pemberitahuan sebelum adanya banjir melalui SMS.
"Nah sayangnya sekarang fitur Siaga Banjir yang memberikan notifikasi tersebut sudah tidak ada di versi yang terbaru," tuturnya.
"Nah, bagi mereka yang tidak punya aplikasi bisa di-SMS, jadi lebih baik pakai cara-cara yang seperti itu," ucap William.
Warga Jatinegara Tolak TOA
Mamat Sahroni, seorang warga KeLurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, menolak pengadaan peralatan peringatan banjir yang di antaranya berupa TOA yang membutuhkan anggaran total Rp 4 miliar.
Diketahui, rencana pengadaan peralatan peringatan banjir ini dicetuskan oleh Anies Baswedan dalam pidatonya pada Rabu (8/1/2020) lalu.
Mamat menyebut, di wilayahnya sudah ada TOA peringatan namun tidak berfungsi dengan baik ketika banjir datang.