2 Hal Ini Bikin Gubernur Anies Baswedan akan Dipanggil Istana Negara, Ada Faktor Balapan Formula E

2 hal ini bikin Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan dipanggil Istana Negara, ada faktor balapan Formula E

Editor: Rafan Arif Dwinanto
(Instagram)
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan pernyataannya terkait banjir yang landa Jakarta di awal tahun 

TRIBUNKALTIM.CO - 2 hal ini bikin Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan dipanggil Istana Negara, ada faktor balapan Formula E.

Beberapa kebijakan Anies Baswedan mendapat sorotan langsung dari Istana Negara, semisal Revitalisasi Monas dan balapan Formula E.

Bahkan, Istana Negara melalui Kementrian Sekretariat Negara atau Kemensetneg berencana memanggil langsung Anies Baswedan untuk dimintai klarifikasi.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Setya Utomo mengakui pihaknya terlibat dalam Revitalisasi Monas.

Dilansir TribunWow.com, Setya Utomo bahkan mengaku dirinya menjadi satu di antara sejumlah juri dalam sayembara desain Revitalisasi Monas.

Namun setelah Revitalisasi Monas sudah setengah jalan dikerjakan, Setya Utomo menyebut ada perbedaan desain antara desain awal dengan realisasi.

Demi Hutan, Gubernur Siap Stop Pembangunan Ibu Kota Negara, Ada 94 Lubang Tambang di Ibu Kota Baru

 Gubernur Isran Noor Ancam Stop Proyek Ratusan Triliun Presiden Jokowi di Kalimantan Timur, Ada Apa?

 Presiden Jokowi Kebal, Warga Ditilang, 2 Mahasiswa Gugat Aturan Nyalakan Lampu Motor Siang Hari

• Temani Ahok saat Dinner, Begini Penampilan Puput Nastiti Devi, Lihat Sandal Tepleknya yang Disorot

Menurutnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan segera dipanggil untuk dimintai penjelasan.

Hal itu disampaimkan Setya Utomo dalam acara 'FAKTA' yang diunggah kanal YouTube Talk Show tvOne, Senin (3/2/2020).

Mulanya, Setya Utomo menjelaskan awal mula keterlibatan Kemensetneg dalam sayembara desain Revitalisasi Monas.

"Jadi memang kita dilibatkan dalam sayembara itu," ucap Setya Utomo.

"Jadi Kepala UPT Monas mengundang Pak Menteri untuk menjadi juri."

Bahkan, Setya Utomo mengaku dirinya mewakili langsung Kemensetneg dan menjadi juri dalam sayembara tersebut.

"Kemudian Pak Menteri tidak bisa diwakilkan kepada saya untuk mewakili istana," kata Setya Utomo.

"Jangan sampai dari sisi keamanan dan lain-lain diabaikan."

Menurutnya, pemenang sayembara tersebut bahkan sempat diundang dan mendapat sedikit pengarahan dari Kemensetneg.

Sebagai juri, hingga kini Setya Utomo mengaku masih mengingat betul desain yang memenangkan sayembara Revitalisasi Monas tersebut.

"Kami ikuti proses itu, proses itu cepat sekali saya kira," ucapnya.

"Saya tahu persis kemudian si pemenangnya itu diundang khusus kemudian kita memberikan masukan pada pemenang untuk menyempurnakan itu."

"Jadi saya masih ingat desainnya seperti apa," sambung Setya Utomo.

Namun, setelah pengerjaan Revitalisasi sudah dilakukan, Setya Utomo justru menilai ada perbedaan dengan desain awal.

"Nah, yang saya lihat sekarang ini sangat berbeda dengan apa yang dipresentasikan oleh pemenang sayembara," ujar Setya Utomo.

"Dari desain yang saya lihat ada humbleness kepada alam karena dia enggak mau membawa Plasa Upacara melebar melebihi itu.

Tapi kenyataannya sekarang itu melebar."

Lebih lanjut, Setya Utomo mengomentari soal pemberhentian Revitalisasi Monas.

Ia menilai, ada sejumlah opsi mengenai kelanjutan Revitalisasi Monas itu.

"Tentu saja Komisi Pengawas sudah punya opsi-opsi," kata Setya Utomo.

"Bisa disetop dan ditolak untuk tidak diteruskan, diterima, disetujui dengan persyaratan.

Atau opsi-opsi lain kita tidak tahu."

Bahkan, ia menyebut adanya kemungkinan adanya rapat bersama Aneis Baswedan.

Setya Utomo menyatakan Anies Baswedan bakal diminta menjelaskan mengenai dua hal.

"Nanti bisa berkembang ketika ada rapat berikutnya dan kemudian Pak Gubernur diminta untuk menjelaskan dan mengembangkan," kata dia.

"Pak Gubernur akan diminta untuk melakukan dua hal, meRevitalisasi dan juga rencana penyelenggaran dan penataan kawasan untuk Formula E."

Terkait pro dan kontra Revitalisasi Monas, Setya Utomo berharap kebijakan yang diambil tak akan merugikan masyarakat Jakarta.

"Tapi pada prinsipnya kami menginginkan ada penyelesaian yang terbaik, jangan sampai masyarakat dirugikan," tutupnya.

Kebohongan soal Revitalisasi Monas

Sempat jadi sorotan karena banjir, kini Gubenur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali tuai kritikan setelah adanya rencana Revitalisasi Monas.

Meskipun dihentikan sementara, kebijakan Anies Baswedan yang ingin meRevitalisasi Monas itu terus menuai kritikan.

Satu di antaranya dari Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP, Gembong Warsono.

Pada kesempatan itu, Gembong Warsono mengkritik keras keinginan Anies Baswedan meRevitalisasi Monas.

Ia bahkan mengimbau Anies Baswedan untuk tak terus melakukan kebohongan publik.

Menurut Gembong, ada dua kesalahan yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

"Ya yang pertama soal izinnya, yang kedua soal nebangin pohon itu," ucap Gembong.

Lantas, ia pun menyinggung pernyataan Anies Baswedan soal cara menanggulangi banjir.

Gembong menilai, Revitalisasi Monas tak sesuai dengan pernyataan Anies Baswedan tersebut.

"Pak Anies kan selalu menyampaikan air yang yang turun dari atas itu kita tangkap lalu dimasukkan ke dalam perut bumi," ujar Gembong.

"Yang suruh nangkep siapa kalau pohonnya enggak ada?"

Terkait hal itu, ia pun mengimbau Anies Baswedan untuk tak terus membohongi rakyat Jakarta.

Menurutnya, tak masuk akal jika Revitalisasi Monas dilakukan dengan memindahkan pohon-pohon besar di sana.

 Demi Hutan, Gubernur Siap Stop Pembangunan Ibu Kota Negara, Ada 94 Lubang Tambang di Ibu Kota Baru

 Gubernur Isran Noor Ancam Stop Proyek Ratusan Triliun Presiden Jokowi di Kalimantan Timur, Ada Apa?

 Presiden Jokowi Kebal, Warga Ditilang, 2 Mahasiswa Gugat Aturan Nyalakan Lampu Motor Siang Hari

• Temani Ahok saat Dinner, Begini Penampilan Puput Nastiti Devi, Lihat Sandal Tepleknya yang Disorot

"Enggak, jangan bohongi rakyat to, rakyat Jakarta itu sudah cerdas-cerdas kok," ucapnya.

"Anda bisa bayangkan memindahkan pohon sebesar itu di tempat lain memungkinkan enggak?"

Selain itu, Gembong juga menilai tak mungkin jika pohon besar di sekitar Monas bisa dipindah ke daerah lain.

"Saya ini orang kampung yang tahu pohon, pohon itu pakai akar tunggang," bebernya.

"Enggak mungkin bisa dipindahkan pohon sebesar itu." (*)

Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved