Rabu, 29 April 2026

Virus Corona

Puncak Penyebaran Virus Corona Diprediksi Pertengahan April 2020, Peneliti ITB Soroti Hal Ini

Puncak penyebaran virus Corona diprediksi pertengahan April 2020, peneliti ITB soroti hal ini.

Tayang:
Freepik.com
Puncak Penyebaran Virus Corona Diprediksi Pertengahan April 2020, Peneliti ITB Soroti Hal Ini 

TRIBUNKALTIM.CO - Puncak penyebaran virus Corona diprediksi pertengahan April 2020, Peneliti ITB soroti hal ini.

Lonjakan pasien terinfeksi virus Corona membuat masyarakan Indonesia panik.

Menurut Peneliti ITB, puncak penyebaran virus Corona diprediksi pertengahan April 2020.

Jumlah kasus covid-19 di Indonesia diprediksi akan melampaui angka 8.000 hingga pertengahan April 2020.

Demi menekan tingkat pasien yang terinfeksi virus Corona, pencegahan sejak dini menjadi poin penting, salah satunya adalah menerapkan social distancing.

Angka prediksi tersebut didapat jika Indonesia menerapkan sistem pencegahan yang baik seperti Korea Selatan, yang melakukan deteksi dini dan menerapkan pembatasan sosial.

Jangan Cemas atau Panik, Mari Nikmati Pagi di Akhir Pekan Ini dengan 10 Kabar Baik soal Virus Corona

Penelitian China, Golongan Darah A Rentan Kena Virus Corona, O Kebal, Begini Penjelasan Medisnya

Presiden Jokowi Borong Obat Anti Virus Corona Sebanyak 2 Juta Butir dari Jepang, Ini Khasiatnya

"Bisa lebih buruk dari prediksi 8.000 kasus jika pencegahan tidak bisa ditekan. Ini belum sampai satu minggu dari hasil riset dikeluarkan (15 Maret 2020), angka kasus sudah dua kali lipat.

"Ini memengaruhi kenaikan yang lain," kata Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung ( ITB), Nuning Nuraini, kepada wartawan BBC Visual Journalism East Asia, Aghnia Adzkia, Rabu (18/03/2020).

Nuning bersama tim Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam makalah bertajuk "Data dan Simulasi covid-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika" memprediksi puncak kasus di Indonesia akan terjadi pada pertengahan April 2020.

Prediksi ini didapat menggunakan permodelan Kurva Richard yang terbukti cukup baik menentukan awal, puncak, dan akhir endemik SARS di Hong Kong pada 2003.

Dalam makalah tersebut disebutkan, model ini mampu menggambarkan dinamika penderita ncovid-19 pada setiap negara yang dianalisis.

Dalam permodelan, para pakar menggunakan beragam indikator seperti laju awal pertumbuhan (orang/hari), asumsi batas atas penderita atau dikenal sebagai carrying capacity, dan akumulasi kasus yang terkonfirmasi bisa dengan atau tanpa gejala.

Korea Selatan menjadi rujukan permodelan karena batas kesalahan atau margin of error paling kecil dibandingkan negara lainnya.

Meski demikian, perlu dicatat Korea Selatan melakukan 10.000 tes setiap harinya dan menerapkan pembatasan sosial. Nuning menjelaskan, jika kondisi Indonesia menerapkan hal serupa, maka kasus dapat ditekan ke angka 8.000.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved