Hari Raya Nyepi
Sejarah Hari Raya Nyepi dan Makna Tradisi bagi Umat Hindu Indonesia, serta yang Beda dari Bali Kini
Hari ini 25 Maret 2020 ditetapkan sebagai libur nasional untuk memperingati perayaan keagamaan hari raya Nyepi.
TRIBUNKALTIM.CO - Hari ini 25 Maret 2020 ditetapkan sebagai libur nasional untuk memperingati perayaan keagamaan hari raya Nyepi.
Hari raya Nyepi berlangsung setiap tahun yang dirayakan umat Hindu.
Bagaimanakah sejarah dan makna hari raya Nyepi ?
Seperti yang dilansir TribunTravel dari beberapa sumber, perayaan hari raya Nyepi didasarkan pada penanggalan atau kalender Saka.
Sejak tahun 78 masehi, perhitungan tahun Saka ditetapkan, di mana satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia.
Tahun Baru Saka memiliki makna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.
• Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi Dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Bali, Bisa Dikirim Lewat WhatsApp
• Berikut ini 7 Hal Penting yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Liburan ke Bali Saat Nyepi
• Bisa Dicicipi Saat Liburan Hari Raya Nyepi, Ini 10 Kuliner Malam di Bali, Ada Sate Plecing Arjuna
• Perayaan Hari Raya Nyepi di Samarinda Terpusat di Pura Jagat Hita Karana Sungai Pinang Dalam
Setiap tahunnya, umat Hindu merayakan pergantian Tahun Saka yang dilakukan dengan cara Nyepi selama 24 jam.
Selama Nyepi, umat Hindu melakukan rangkaian acara yang terdiri dari:
1. Upacara Melasti, Mekiyis, Melis
Inti dari acara ini adalah menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).
Kegiatan ini dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan, dan segara.
Namun sebagian besar umat Hindu melakukannya di segara, karena sekalian untuk tirtha amerta (air yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara.
2. Menghaturkan bhakti atau pemujaan
Kegiatan ini dilakukan di balai agung atau pura desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.
3. Tawur Agung atau Mecaru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sejarah-hari-raya-nyepi-dan-makna-tradisi-bagi-umat-hindu-indonesia-serta-yang-beda-dari-bali-kini.jpg)