Harga Gula Pasir Masih Tinggi, Dinas Perdagangan Balikpapan Upayakan Agar Harga Kembali Normal
Harga gula pasir di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur masih tinggi. Saat ini harganya masih mencapai Rp18.000 per kilogram di pasar-pasar tradisional.
Penulis: Heriani AM | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Harga gula pasir di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur masih tinggi. Saat ini harganya masih mencapai Rp18.000 per kilogram di pasar-pasar tradisional.
"Harga gula pasir masih tinggi, sekarang sudah Rp18.000, sama saja dengan harga di mini market," ungkap salah satu pedagang sembako dan sayur mayur di pasar tradisional Rapak Plaza, Rabu (15/4/2020) yang enggan disebut namanya.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Balikpapan, Irawan menyebut pasokan gula pasir kembali masuk ke Kota Balikpapan mulai Kamis 8 April 2020 lalu.
Sebelumnya, pasokan sempat terhenti lantaran proses impor gula yang terdampak covid-19. Jumlah gula pasir yang dipasok ke Balikpapan baru-baru ini sebanyak 113,9 ton.
"Melihat perkiraan kebutuhan masyarakat yang sehari mencapai 31 ton, jumlah persediaan gula pasir dipastikan bakal mencukupi hingga 2 bulan kedepan," ujar Irawan.
Baca Juga
Harga Cabai di Balikpapan Masih Fluktuatif, Penyebabnya karena Stok dari Pulau Sulawesi
Jelang Ramadhan, Harga Cabai Rawit di Pasar Induk Sangatta Turun dari Rp 70 Ribu ke Rp 48 Ribu
Daftar Harga Kebutuhan Pokok Sejumlah Pasar di Kutai Kartanegara Selasa (14/4/2020) Hari Ini
Ia memprediksi tidak ada gejolak harga gula pasir hingga mendekati lebaran, alasannya karena pasokan sudah sangat mencukupi sementara distribusi dipastikan bakal lancar. Sehingga harga gula pasir akan kembali normal.
"Untuk kesediaan bahan pokok, sejak tanggal 8 pasokan bahan pokok kita cukup. Khususnya gula, yang kemarin kurang, saat ini stoknya sudah banyak," tambahnya.
Harga gula pasir sempat melonjak hingga Rp19.000 per kilogram atau lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp12.500 hingga Rp13.000 per kilogram, gejolak ini ditengarai akibat menipisnya stok yang ada.
"Kurangnya pasokan gula karena izin dari pusat yang belum keluar untuk importir, termasuk Bulog. Namun saat ini surat tugas untuk mendrop gula sudah diterima daerah, sehingga pasokan sudah mencukupi," pungkasnya.
Diketahui, kelangkaan dan kenaikan harga gula masih terasa di Indonesia. Bahkan, di gudang-gudang Perum Bulog yang ada di beberapa wilayah seperti Aceh, Nusa Tenggara Barat (NTB), Cianjur, dan sebagainya stok gula kosong melompong.
Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) pun buka-bukaan penyebab kelangkaan stok yang membuat harga gula terus melambung. S
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kepala-bidang-perdagangan-dalam-negeri-dinas-perdagangan-balikpapan-irawan.jpg)