Senin, 4 Mei 2026

Virus Corona

Mengaku Dua Malam Dibayangi Sosok Seram, Pemudik Bandel yang Dikarantina di Rumah Hantu Minta Pulang

Mereka yang ditempatkan di bekas bangunan gudang tas itu adalah mereka yang tak melakukan isolasi mandiri di rumah

Tayang:
Freepik.com
Ilustrasi - Mengaku Dua Malam Dibayangi Sosok Seram, Pemudik Bandel yang Dikarantina di Rumah Hantu Minta Pulang 

TRIBUNKALTIM.CO - Cara unik dilakukan Pemerintah desa dan tim Satgas covid-19 Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Mereka menjadikan bangunan tua mirip Rumah Hantu sebagai tempat Karantina bagi pemudik yang bandel.

Mereka yang ditempatkan di bekas bangunan gudang tas itu adalah mereka yang tak melakukan isolasi mandiri di rumah 

Pemerintah desa dan tim Satgas Covid-19 Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah menyiapkan sebuah bangunan tua bekas gudang tas sebagai lokasi karantina bagi para pemudik yang tidak tertib menjalani karantina mandiri di rumah.

Gudang tas ini sudah sekitar 10 tahun dibiarkan kosong.

Dari penuturan pemudik yang menjalani karantina di lokasi tersebut, mereka mengaku didatangi sosok hantu saat dikarantina di lokasi.

 Bisa Dikunjungi saat Pandemi Virus Corona Berakhir, Ini Rekomendasi 10 Tempat Wisata Menakjubkan

 Kabar Gembira dari Jokowi, Virus Corona Indonesia Reda di Juli, Puncak Akhir Mei, Begini Analisanya

Kepala Desa Sepat, Mulyono menceritakan, para pemudik itu adalah tiga warga Desa Sepat yang tak tertib mengarantina diri di rumah sepulang dari perantauan.

Mereka baru pulang mudik masing-masing dari Jakarta, Lampung, dan Kalimantan.

Karena dianggap tidak tertib saat menjalani karantina mandiri di rumahnya masing-masing, ketiganya dijemput tim Satgas Covid-19 Desa Sepat untuk menjalani karantina di rumah hantu.

Baru beberapa hari menjalani karantina di rumah hantu, ketiga pemudik meminta dipulangkan ke rumahnya masing-masing.

"Dua hari mereka nangis-nangis terus. Tiap malam malam katanya didatangi dan dibayang-bayangi hantu di rumah hantu," kata Mulyono, dilansir Kompas.com, Sabtu (25/4/2020).

Setelah kejadian itu, orangtua para pemudik menemui Mulyono tiga kali memohon agar anaknya tersebut dapat menjalani karantina mandiri di rumah selama 14 hari.

Mulyono tidak begitu saja mengabulkan permohonan mareka. Akhirnya dengan petimbangan dan komitmen orangtua untuk mengawasi anak-anaknya karantina mandiri di rumah, ketiganya dilepaskan untuk menjalani karantina di rumah.

"Orangtuanya setuju untuk membantu dan mengawasi anaknya karantina mandiri di rumah akhirnya kita lepaskan dari rumah hantu," ujar dia.

Mulyono mengatakan, rumah hantu yang disediakan untuk karantina bagi pemudik bandel tersebut memanfaatkan bangunan bekas gudang tas.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved