Perayaan Hari Bumi ke-50 di Tengah Pandemi Covid-19, Ilmuan Pertanyakan Kondisi Bumi Tahun 2070

Perayaan Hari Bumi ke-50 di tengah pandemi covid-19, para ilmuan mempertanyakan kondisi bumi tahun 2070

Editor: Samir Paturusi
Ilustrasi 

TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN-Perayaan Hari Bumi ke-50 di tengah pandemi covid-19, para ilmuan mempertanyakan kondisi bumi tahun 2070

Lima puluh tahun telah berlalu sejak manusia pertama kali turun ke jalanan untuk merayakan Hari Bumi pada tanggal 22 April 1970 dan saat ini manusia tengah berjuang untuk melepaskan diri dari pandemi Virus Corona.

Terkait hal tersebut, banyak ilmuan mempertanyakan hal apakah yang kira-kira akan terjadi saat manusia merayakan 100 tahun Hari Bumi pada 2070.

Pada saat itu, tidak ada yang dapat memastikan apakah vending machine masih akan digunakan untuk menjual minuman atau mungkin seluruh kendaraan bermotor telah berubah menjadi kendaraan elektrik.

Bisa jadi kondisi bumi saat itu telah mengalami kemajuan pesat, namun tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak kejadian bencana alam besar yang terjadi, pandemi yang jauh lebih buruk dan kondisi ketidakseimbangan ekosistem yang lebih parah dibanding saat ini.

"Kemungkinan besar akan terjadi peningkatan pesat dalam penggunaan mobil, tenaga surya dan energi angin dalam usaha manusia untuk menghemat penggunaan sumber daya alam," kata penulis berkebangsaan Amerika, Emma Marris kepada National Geographic, seperti yang dilansir oleh Tribunkaltim, Selasa (28/4/2020).

Baca Juga

Fenomena Munculnya Cacing Tanah di Solo, Spekulasi Aktivitas Gunung Berapi hingga Gempa Bumi Mencuat

Jenazah Pasien Virus Corona Ditolak Warga, Di Twitter Sudjiwo Tedjo Beber Mayatnya Ditolak Bumi

Salah Satunya Ada Jembatan Situ Gunung, Berikut 7 Tempat Wisata di Sukabumi Buat Liburan Akhir Pekan

Selain itu, ia juga memperkirakan sebagian besar produsen daging akan menghentikan kegiatan produksinya, yang mana hal tersebut mendorong perpindahan komsumsi masyarakat secara massal ke produk makanan nabati.

"Intervensi pemerintah yang didukung oleh peningkatan kesadaran masyarakat, akan mendorong bisnis proyek bangunan untuk mengembangkan bangunan yang lebih ramah lingkungan.

Gaya hidup masyarakat di waktu yang akan datang juga akan lebih sedikit mengkonsumsi minyak sebagai bahan bakar rumah tangga, di mana hal tersebut turut membantu menghilangkan 1,3 miliar penggunaan bahan bakar minyak," tambahnya.

Dalam sektor pendidikan, ia berkata bahwa akan terjadi peningkatan secara global. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kualitas pendidikan dan keberhasilan program kontrol kelahiran bagi para perempuan di Kenya, Afrika Timur.

Setelah akses edukasi bagi para perempuan di negara tersebut terbuka jauh lebih besar, angka kelahiran menurun dari rata-rata 8,1 anak pada tahun 1970-an menjadi hanya 3,7 anak pada tahun 2015.

"Cara berpikir manusia juga akan mengalami perubahan. Dari yang awalnya mempraktikan sistem berpikir absolutisme dengan menganggap bahwa manusia berkuasa secara mutlak atas bumi, berubah menjadi sistem yang lebih mengedepankan kerja sama dengan alam," jelasnya.

Di sisi lain, Elizabeth Kolbert, penulis buku The Sixth Extinction: An Unnatural History, mengatakan bahwa keberlangsungan hidup manusia, sebagai salah satu spesies makhluk hidup tergantung pada berapa banyak karbon yang dilepaskan ke atmosfir dalam 50 tahun ke depan.

"Hal yang juga memprihatinkan hingga saat ini adalah masalah deforestasi. Jika hal ini masih terus berlanjut, akan terjadi kepunahan flora dan fauna massal di sekitar kita. Semoga kita tidak lupa bahwa di satu sisi, hidup manusia juga bergantung akan keberadaan mereka," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa optimismenya terhadap masa depan manusia tidak begitu tinggi jika melihat belum adanya ada perubahan signifikan dalam gaya hidup dan cara pandang manusia terhadap alam yang terjadi saat ini.

“Mungkin nanti spesies kita telah mengembangkan drone yang dapat membantu kegiatan pertanian atau kita juga telah menemukan cara untuk mengatasi kenaikan permukaan laut dan kekeringan di sejumlah wilayah.

Di sisi lain, kemungkinan tanaman yang telah direkayasa secara genetis akan membantu pemerintah untuk mengatasi masalah kelangkaan pangan di sejumlah negara.

Namun jika cara hidup manusia tetap seperti ini, tidak akan ada jaminan kapan kehidupan yang tampak harmonis tersebut akan tetap berlangsung,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, kemajuan tersebut mungkin akan menjadi akhir yang membahagiakan, namun menurutnya hal tersebut justru jauh lebih menakutkan.

"Kemajuan teknologi yang tidak disertai dengan perubahan gaya hidup dan cara berpikir akan menjadi bumerang bagi kita. Mungkin kita akan memiliki drone untuk memusnahkan hama, tetapi di sisi lain hal itu juga akan mengubah atmosfer, menyebabkan masalah kekeringan dan mengosongkan seluruh isi samudera.

Setelah sadar, kemungkinan kita akan menemukan spesies kita hidup sendiri bersama drone pengusir hama yang telah kita kembangkan itu,” sindirnya.

Mengutip pernyataan seorang remaja Swedia dalam kampaye lingkungan hidup April 2019, sudah seharusnya manusia melakukan perubahan besar dan menyadari adanya saling keterikatan antara keberlangsungan hidup manusia dengan makhluk hidup lainnya.

“Mungkin seharusnya generasi yang jauh lebih dewasa dan mengerti akan isu lingkungan hidup yang mulai membuat perbedaan. Tetapi karena tidak ada orang lain yang melakukannya, maka kami harus melakukannya.

Kami tidak akan pernah berhenti berjuang untuk planet ini, untuk umat manusia dan spesies makhluk hidup lainnya, untuk masa depan kita, dan masa depan anak cucu kita," kata remaja tersebut. (*)

Baca Juga

Gempa Bumi Guncang Pacitan, BMKG Sebut Dekat Dengan Sumber Gempa Dahsyat Tahun 1937

Detik-detik Gempa di Sukabumi Terekam Kamera, Warga Panik Sambil Teriak Takbir

https://www.nationalgeographic.com/science/2020/03/earth-day-where-will-the-planet-be-in-2070/?cmpid=int_org=ngp::int_mc=website::int_src=ngp::int_cmp=substest::int_add=substestcontrol::int_rid=

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved