Virus Corona
Selain Tak Sepakat Bansos, Jusuf Kalla Sebut Indonesia dan Amerika Sama-sama Sepelekan Covid-19
tak sepakat bansos, Jusuf Kalla sebut Indonesia & Amerika Serikat anggap sepele soal covid-19
TRIBUNKALTIM.CO - Selain tak sepakat bansos, Jusuf Kalla sebut Indonesia & Amerika Serikat anggap sepele soal covid-19.
Penanganan Virus Corona oleh Pemerintah Indonesia, mendapat sorotan tajam dari Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK).
Bahkan Jusuf Kalla mengaku sempat tak sepakat dengan pemberian bansos kepada masyarakat di tengah pandemi covid-19.
Menurut Jusuf Kalla bansos tak efektif untuk masyarakat Indonesia dengan situasi seperti ini.
Iapun lebih memilih Pemerintah memberikan BLT ( Bantuan Langsung Tunai ), lantaran itu yang diharapkan masyarakat.
• Blak-blakan Jusuf Kalla Beber Strategi Lawan Virus Corona, Singgung Bansos & PSBB Pemerintah Jokowi
• Jusuf Kalla Klaim Tak Bisa Berdamai dengan Virus Corona, Sebut Pernyataan Jokowi Kurang Tepat
• Eks Jenderal Kopassus Kecewa Warga Masih Bandel, Doni Monardo Singgung Lebaran dan saat Kritis
• Amerika Serikat Sesumbar Produksi Vaksin Virus Corona Lebih Cepat dari WHO, Indonesia Bikin Sendiri
Selain itu, Jusuf Kalla juga blak-blakan menyebut Pemerintah Jokowi mengentengkan Virus Corona sejak awal muncul di Indonesia.
Dilansir TribunWow.com, Jusuf Kalla menyatakan sikap terlalu mengentengkan menjadi penyebab kini Virus Corona begitu sulit dikendalikan.
Terkait hal itu, ia pun menyinggung lonjakan kasus Virus Corona di Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
Pernyataan tersebut disampaikan Jusuf Kalla melalui kanal YouTube Kompas TV, Rabu (20/5/2020).
"Ya sebenarnya Pemerintah mengetahui juga risikonya meski menafsirkan bahwa ini tidak berbahaya," jelas Jusuf Kalla.
"Ini kurang berbahaya dengan menganggapnya sama dengan flu biasa dan sebagainya dan dapat sembuh sendiri."
JK menyatakan, Indonesia kini layaknya Amerika dan Eropa yang sejak awal meremehkan Virus Corona.
Karena itu, JK lantas meminta Pemerintah secara cepat melakukan penanganan.
"Semua penafsiran itu, pengertian itu, langkah-langkah itu sama dengan yang terjadi di Amerika, di Eropa, menganggap remeh masalah," kata JK.
"Akhirnya dipahami setelah menular banyak, akhirnya susah dikendalikan."
Menurut dia, penyebaran Virus Corona begitu cepat.
Disebutnya, virus asal China ini kini memakan korban lebih cepat dari awal munculnya di wilayah Wuhan, Desember 2019 lalu.
"Kita tahu semua virus ini penyebarannya luar biasa cepatnya dan berbahaya," ujar JK.
"Jadi saya sudah tulis di Kompas juga kan bahwa di dunia ini 1 juta pertama butuh dua bulan lebih."
Tak hanya di dunia, peningkatan penyebaran Virus Corona ini juga terjadi di Indonesia.
Ia menyebut, Indonesia kini dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
• REKOR, Jumlah Positif Corona di Indonesia Hari Ini Hampir Tembus Seribu Kasus, Total Lebih 20 Ribu
"Tapi untuk satu juta berikutnya hanya butuh 16 hari, satu juga berikutnya hanya butuh sembilan hari," ucap JK.
"Di Indonesia juga 10 ribu pertama setengah bulan mulai Maret, tapi ini 10 ribu kedua hanya butuh 22 hari."
"Begitu cepatnya penyebaran ini, berarti ini sangat berbahaya," sambungnya.
Lantas, JK mengungkap presentase pasien yang dinyatakan positif terkena Virus Corona.
"Jangan lupa di Indonesia dari 100 persen orang yang dites, 10 persen positif."
"Dari 10 persen yang positif itu 7 yang meninggal, jangan lupa itu," tandasnya.
Simak video berikut ini menit ke-3.26:
BLT lebih efektif ketimbang bansos
Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla mulanya menyinggung soal pembukaan mal di sejumlah daerah.
Menurut Jusuf Kalla, hal tersebut justru akan semakin meningkatkan peluang penularan Virus Corona.
"Tentu pilihannya itu, jangan lupa perekonomian itu akibat dari krisis kesehatan," jelas Jusuf Kalla.
"Jadi untuk menyelesaikan ekonomi, krisis kesehatannya harus diselesaikan dulu bukan sebaliknya."
"Karena jadi sebab akibat, ya sebabnya Coronavirus ini, ini diselesaikan dulu dengan fokus.
Baru otomatis saja kalau ini selesai ekonomi akan jalan lagi," sambungnya.
JK lantas menyebut, akan berakhir percuma jika penanganan kesehatan dan ekonomi dilakukan secara bersamaan.
Menurut Jusuf Kalla, pembukaan mal justru hanya akan meningkatkan kerugian.
"Tidak mungkin diatur bersamaan, tidak ada yang bisa jalan seperti itu dengan cepat," ucap Jusuf Kalla.
"Boleh saja tapi lambat jalannya, lebih banyak kerugiannya malah."
• Cek Data Anda di Bantuan Tunai Rp 600.000 dan Bansos Lainnya, LOGIN cekbansos.siks.kemsos.go.id
Lebih lanjut, Jusuf Kalla menyinggung soal pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB ).
Jusuf Kalla menyebut, tak ada perbedaan antara lockdown dan PSBB.
"Jadi kalau kita ikuti PSBB dengan prinsip-prinsip pokoknya yang disetujui itu, selama itu enggak dijalankan ya jangan harap kita bisa selesai cepat," ujar Jusuf Kalla.
"Iya lockdown atau PSBB sama saja, PSBB itu kan punya aturan juga yang jelas, enggak jauh beda sama PSBB."
" PSBB jelas apa yang boleh, apa yang tidak boleh itu saja diikuti," imbuhnya.
Lantas, Jusuf Kalla menyoroti nasib warga miskin akibat Virus Corona hingga penyaluran bansos.
Ia menyebut, pemberian bansos kepada warga merupakan hal yang wajib dilakukan Pemerintah.
"Ya memang akibat mereka tidak bekerja banyak golongan masyarakat yang tidak punya tabungan, tidak mampu, maka sesuai aturan diberikan bantuan sosial, BLT kepada masyarakat."
"Dan itu sudah dilaksanakan dari awal, tapi jangan berbelit-belit."
"Lebih baik BLT langsung kasih pada masyarakat agar ekonomi kita berjalan pada tempatnya," tukasnya.
(*)
Ikuti >>> Update virus Corona