Virus Corona
Terungkap Peran Institusi Budi Gunawan dan Doni Monardo Dibalik Temuan Obat Virus Corona Unair
Temuan obat Virus Corona peneliti Universitas Airlangga atau Unair, terungkap peran institusi Budi Gunawan ( BIN ) dan Doni Monardo ( BNPB )
TRIBUNKALTIM.CO - Temuan obat Virus Corona peneliti Universitas Airlangga atau Unair, terungkap peran institusi Budi Gunawan ( BIN ) dan Doni Monardo ( BNPB ).
Ternyata Universitas Airlangga atau yang biasa disingkat Unair tak sendiri dalam penelitian obat Virus Corona.
Melainkan ada peran Institusi Budi Gunawan di BIN dan Doni Monardo di BNPB terkait kesuksesan Universitas Airlangga menemukan obat Virus Corona.
Hal ini disampaikan langsung oleh Prof M Nasih, Rektor Universitas Airlangga kepada awak media.
• Peneliti Unair Temukan Potensi Obat Covid-19, Ada Lima Kombinasi Obat yang Efektif Tangkal Corona
• Unair Klaim Temukan Obat Covid-19, Masih Berstatus Obat Program, Penjelasan dan Rencana Uji Klinis
• Kabar Baik, Unair Temukan Obat Covid-19, Sudah Produksi tapi Sebagai Obat Program, Ini Penjelasannya
Setelah melakukan riset dan penelinan, peneliti Universitas Airlangga ( Unair ) menemukan lima kombinasi obat untuk melawan Virus Corona alias covid-19.
Dengan dukungan dari Badan Inteligen Negara (BIN) dan sejumlah pihak, temuan obat yang sudah beredar di pasaran ini diumumkan Sekretaris Utama BIN Kolonel Bambang Sunarwibowo di Jakarta, Jumat (12/6/2020).
Diketahuii ada 5 kombinasi obat lawan Virus Corona.
Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga Dr dr Purwati SpPD K-PTI FINASIM mengatakan obat itu terdiri dari:
Sementara, dr Purwati mengatakan obat itu terdiri dari :
1. Lopinavir/ritonavir dengan azithromicyne
2. Lopinavir/ritonavir dengan doxycyline
3. Lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine
4. Hydroxychloroquine dengan azithromicyne
5. Hydroxychloroquine dengan doxycycline
Regimen kombinasi obat Virus Corona tersebut dijelaskan dr Purwati tidak untuk diperjualbelikan secara bebas.
"Belum diperjualbelikan.
Ini kolaborasi antara UNAIR, BNPB, dan juga Badan Intelijen Negara ( BIN )," ujar dr Purwati.
Kombinasi regimen obat tersebut memiliki potensi dan efektivitasnya cukup bagus terhadap daya bunuh virus.
Dosis masing-masing obat dalam kombinasi tersebut yaitu 1/5 dan 1/3 lebih kecil dibandingkan dosis tunggalnya.
Sehingga mengurangi efek toksik dari obat tersebut bila diberikan sebagai obat tunggal.
“Kini sudah ada ratusan obat yang sudah diproduksi dan akan disebarkan kepada rumah sakit yang membutuhkan,” katanya.
Selain obat, ada potensi Stem Cell
• WHO Lanjutkan Uji Coba Obat Covid-19 yang Dikonsumsi Donald Trump, Sempat Khawatir Risiko Kematian
Selain regimen kombinasi obat yang ditemukan, sejumlah peneliti Unair menemukan potensi dalam penelitian stem cell.
Dr Purwati juga menemukan dua formula yaitu Haematopotic Stem Cells (HSCs) dan Natural Killer (NK) cells.
“Dari hasil uji tantang HSCs ditemukan bahwa setelah 24 jam virus SARS CoV2 isolat Indonesia sudah dapat dieliminasi oleh stem cells tersebut.
Sedangkan hasil uji tantang NK cells terhadap virus, setelah 72 jam didapatkan sebagian virus dapat diinaktivasi oleh NK cells tersebut,” terangnya.
Keduanya memiliki potensi dan efektivitas yang cukup bagus sebagai pencegahan maupun pengobatan virus SARS CoV 2.
Menurutnya, kedua pengobatan alternatif itu bisa menjadi rekomendasi bagi para dokter, industri obat, dan masyarakat dalam menangani covid-19 secara cepat.
Distribusi Obat
Sementara itu dalam waktu bersamaan dari Gedung Management Kampus C Unair, Rektor Unair Prof Dr H Mohammad Nasih, MT SE Ak CMA memberikan penjelasan atas keberhasilan tim peneliti kampusnya.
Obat-obat tersebut menjadi obat program yang belum didistribusikan secara bebas dan diperjualbelikan.
"Obat-obat ini sudah kami berikan ke Jakarta yang merupakan mitra kami.
Kami juga koordinasi dengan gugus tugas agar diberikan ke rumah sakit yang membutuhkan," urai Prof M Nasih.
Tentunya pendistribusian ini diberikan pada beberapa rumah sakit yang ditunjuk untuk penanganan covid-19.
Pendistribusiannya, ditegaskan Prof Nasih bersifat rekomendari dari dari gugus tugas.
"Jadi memang tidak semua dokter butuh, jika dokternya merasa butuh dan yakin untuk meresepkan obat ini maka akan didistribusikan," lanjutnya.
• Mujarab untuk Corona Ringan, Gubernur Maluku Klaim Dapat Obat Herbal dari China, Ini Penjelasannya
• Obat Virus Corona Berbentuk Inhaler Dikembangkan, Bisa Membunuh Covid-19 di Area Pernafasan
Dokter Juga Minum
Dikatakan Prof Nasih, dokter memiliki wewenang meresepkan obat kombinasi ini karena obat tersebut sudah beredar dipasaran dan berBPOM.
"Sebelumnya dokter juga ada yang sudah memakai obat-obat ini.
Dan pengujian kami sudah menguji obat-obat ini bisa menghentikan peredaran covid-19," pungkasnya.
Sejumlah kombinasi obat ini dikatakan Prof Nasih bisa memberikan reaksi dari 24 jam hingga 72 jam.
(*)
IKUTI >> Update Virus Corona
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/obat-virus-corona-ilustrasi-13062020.jpg)