Breaking News:

DPRD Samarinda Akui Hampir 70 Persen Orang Tua Murid Kalangan Bawah Minta KBM Tatap Muka

Wakil rakyat di DPRD Kota Samarinda menyampaikan bahwa hampir 70 persen orangtua siswa dari kalangan bawah meminta agar dilakukan belajar tatap muka

TRIBUN KALTIM/BUDHI HARTONO
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda Sri Puji Astuti yang didampingi, Laila Fatihah (Wakil Ketua Komisi, berhijab hijau) dan Novi Marinda Putri (berhijab krem), rapat dengar pendapat, bersama KOMISI IV DPRD Provinsi Kaltim, di Gedung D Latai 3, Jalan Teuku Umar, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kamis (12/2/2015). Rapat membahas sinkronisasi program pendidikan, kesehatan dan kemiskinan. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Wakil rakyat di DPRD Kota Samarinda menyampaikan bahwa hampir 70 persen orangtua siswa dari kalangan bawah meminta agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara tatap muka. 

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menjelaskan bahwa sewaktu beberapa anggota DPRD Kota Samarinda turun ke lapangan, banyak masukkan dari warga terutama dari kalangan bawah agar kegiatan belajar dilakukan secara tatap muka.

"Itu memang hampir 70 persen mereka meminta sekolah agar dibuka kembali," ungkapnya saat diwawancarai tribunkaltim.co, melalui sambungan telepon, Kamis (3/11/2020).

Baca juga: Kemendikbud: Mahasiswa Boleh Tolak Ikuti Perkuliahan Tatap Muka

Baca juga: Jadwal Pencanangan Sekolah Tatap Muka di Samarinda, Disdik Bakal Menyerahkan Surat ke Walikota

Tentunya hal tersebut dilatari berbagai masalah yang dihadapi orang tua murid sewaktu anaknya KBM secara online.

Misalnya, tidak sanggup mengajari anaknya sewaktu di rumah, ada pula yang mengaku tidak memiliki handphone dan bahkan karena tidak adanya pulsa atau kuota internet.

"Itulah alasan mereka mengapa meminta sekolah tatap muka dilakukan," bebernya.

Baca juga: Terkait Sekolah Asrama yang Lakukan Tatap Muka di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Kata DKK Samarinda

baca juga: Sekolah Tatap Muka Direncanakan Awal Tahun, Berikut Saran Tim Surveillance DKK Samarinda

Namun kata Puji, hal itu tidak hanya dirasakan oleh orang tua di kalangan bawah, tetapi juga dirasakan oleh orangtua yang mampu secara ekonomi.

Sosialisasi anak tidak berlangsung dengan baik entah pada teman-temannya, juga terhadap guru.    

"Makanya anak kesepian. Yang biasanya berteman dengan orang banyak ternyata dia harus bermain sendiri di rumah, selama berbulan - bulan. Sehingga pendidikan karakternya pun menjadi tidak maksimal," pungkasnya.

(Tribunkaltim.co/Muhammad Riduan).

Penulis: Muhammad Riduan
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved