Berita Nasional Terkini
63.608 Orang Mengungsi, Teka-teki Banjir Besar di Kalsel, Benarkah Semata Karena Anomali Cuaca?
banjir di Kalimantan Selatan menyebabkan 21 orang meninggal dunia. Sebanyak 342.987 orang terdampak, di mana 63.608 mengungsi
TRIBUNKALTM.CO - Banjir besar selamahampir sepekan yang melanda sebagian besar kabupaten diKalimantan Selatan menyisakan perdebatan panjang hingga hari ini.
Sebagian menganggap leboih dipicu oleh curah hujan ekstrem. Sebagian lain beranggapan, selain faktor hujan tinggi, tak sedikit yang menuding masifnya pembukaan lahan sebagai penyebab banjir itu. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit an tambang batu bara dianggap memberi andil besar terciptanya banjir besar di Kalimantan.
Manager Kampanye Walhi Kalimantan Selatan, M Jefri Raharja menyebut, banjir di Kalimantan Selatan sebagai bencana ekologi.
Sebab, terlepas dari tingginya curah hujan tinggi, banjir juga terjadi karena adanya kontribusi dari dampak pembukaan lahan. Tak ayal, banjir kali ini pun lebih parah dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Berdasarkan data yang dimiliknya, salah satu peruntukan pembukaan lahan di Kalimantan adalah terciptanya perkebunan sawit. Namun, pembukaan perkebunan sawit ini berlangsung secara terus-menerus. Dari tahun ke tahun, luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar.
Pada rentang 2009 sampai 2011, terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun.
"Sedangkan untuk tambang, bukaan lahan meningkat sebesar 13 persen hanya 2 tahun. Luas bukaan tambang pada 2013 ialan 54.238 hektar," ujar Jefri, Jumat (15/1/2021).
Pihaknya pun menyesalkan kondisi hutan di Kalimantan yang kini beralih menjadi lahan perkebunan. Pembukaan lahan atau perubahan tutupan lahan juga mendorong laju perubahan iklim global.
"Kalimantan yang dulu bangga dengan hutannya, kini hutan itu telah berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batu bara," terang dia.
Perluasan lahan secara masif dan terus menerus, menurut Jefri memperparah bencana terutama di kondisi cuaca ekstrem.
"Akhirnya juga mempengaruhi dan memperparah kondisi ekstrem cuaca, baik itu di musim kemarau dan musim penghujan," kata dia.
Hingga Rabu (20/1/2021), banjir di Kalimantan Selatan menyebabkan 21 orang meninggal dunia. Sebanyak 342.987 orang terdampak, di mana 63.608 di antaranya mengungsi.
Sedangkan, infratsruktur yang terdampak akibat bencana ini meliputi 66.768 rumah terendam, 18.294 meter jalan terendam, dan 21 jembatan rusak. Tak hanya itu, banjir ini juga menyebabkan 18.356 hektar lahan pertanian di 11 kabupaten/kota di Kalimantan gagal panen.
Curah hujan dan turunnya luas hutan primer
Sementara itu, analisa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( Lapan) menunjukkan banjir di Kalimantan Selatan disebabkan karena tingginya curah hujan dan turunnya lahan hutan primer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/banjir-kalsel-9299211.jpg)