Minggu, 26 April 2026

Berita Nasional Terkini

Refly Harun Sarankan GAR ITB Sorot Dosen Sendiri Dibanding Beri Label Radikal ke Din Syamsuddin

Refly Harun sarankan GAR ITB sorot dosen sendiri dibanding beri label radikal ke Din Syamsuddin

Editor: Rafan Arif Dwinanto
Capture YouTube Refly Harun
Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun 

TRIBUNKALTIM.CO - Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun angkat bicara soal aksi GAR ITB yang melaporkan Din Syamsuddin radikal.

Diketahui, GAR ITB melaporkan eks Ketum PP Muhammadiyah tersebut ke Komisi Aparatur Sipil Negara atau KASN.

Refly Harun pun menyarankan GAR ITB membongkar dosen mereka sendiri yang ikut berpolitik praktis.

Sebelumnya, Pengamat Politik Rocky Gerung juga menyorot aksi GAR ITB yang dinilainya mirip buzzer.

Pakar hukum tata negara Refly Harun menanggapi laporan Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institut Teknologi Bandung atau GAR ITB terhadap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Hal itu ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube Refly Harun, Minggu (14/2/2021).

Akhirnya Mahfud MD Balas Komentar Jusuf Kalla Soal Cara Kritik Pemerintah Tanpa Dipanggil Polisi

Wasiat Ustadz Maaher untuk Nikita Mirzani Sebelum Wafat Terungkap, Ustadz Derry Berharap Nyai Nonton

Diketahui Din Syamsuddin dengan 6 poin tuduhan terkait dugaan pelanggaran disiplin dan etika sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk dugaan berpolitik.

Menanggapi hal itu, Refly Harun menjelaskan memang benar ASN dilarang memihak dalam pemilihan umum (pemilu).

"Tapi coba kita lihat, coba kita buka media sosial, siapa yang sesungguhnya berpolitik itu?" tanya Refly Harun.

Ia meminta GAR ITB lebih aktif memperhatikan dosen-dosennya, apakah ada kemungkinan mereka terjun ke politik secara diam-diam.

"Jadi menurut saya apa yang disampaikan GAR ini salah alamat.

Harusnya GAR melakukan penyelidikan terhadap misalnya tenaga-tenaga pengajar aktif di ITB yang berpolitik," komentar Refly Harun.

"Baik secara terang-terangan maupun diam-diam," lanjut dia.

Ia menyebut banyak contoh kalangan akademisi yang kini terjun ke dunia politik.

"Kalau mau lebih luas, coba lihat dosen-dosen perguruan tinggi yang juga berpolitik," singgung Refly Harun.

Berbeda halnya dengan akademisi yang ditunjuk menjadi menteri.

Wanita Muda Hamil Akibat Masuk Angin, Keluarga Ungkap Hasil Tes Kehamilan Mengejutkan, Panggil Kyai

Refly Harun menilai hal ini sah-sah saja karena tidak masuk dalam gerakan politik.

Hal yang tidak diizinkan adalah jika ia terlibat dalam kampanye partai politik.

"Kalau ada dosen perguruan tinggi menjadi menteri, it's okay enggak ada masalah.

Yang tidak boleh adalah dia ikut kampanye dalam pilpres kemarin," tegasnya.

Dalam tayangan yang sama, sebelumnya Refly Harun menjelaskan ada kegiatan berpolitik secara formal dan material.

Politik formal hanya terbatas pada ketika seseorang mengajukan diri sebagai pejabat publik, terlibat dalam keanggotaan partai, maju sebagai dewan perwakilan, serta menjadi tim sukses kampanye.

Di sisi lain, politik secara material bisa dilakukan siapa saja.

Sebagai contoh, orang yang mengkritik pemerintahan atau mendeklarasikan organisasi dalam disebut berpolitik secara material.

LENGKAP Jadwal, Syarat, Tahapan Pendaftaran SNMPTN 2021 dari LTMPT, Cek Batasan Jumlah Pilihan Prodi

GAR ITB Beberkan Bukti Din Syamsuddin Punya Sentimen Agama

Juru bicara Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Insitut Teknologi Bandung (ITB) Shinta Madesari mengungkapkan bukti laporannya terhadap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Hal itu ia sampaikan dalam tayangan Kompas Petang, Sabtu (13/2/2021).

Din Syamsuddin dilaporkan dengan 6 poin tuduhan terkait dugaan pelanggaran disiplin dan etika sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Termasuk di antaranya, poin keenam menyebutkan "Din Syamsuddin dinilai melontarkan fitnah dan eksploitasi sentimen agama".

Rocky Gerung Tuduh GAR ITB Disogok untuk Kudeta Din Syamsuddin, Bongkar Buzzer Kehabisan Istilah

Menurut Shinta, laporan GAR ITB sudah menyertakan tautan yang menunjukkan bukti perbuatan terlapor.

"Nomor 6 yang (menyebutkan Din Syamsuddin) melontarkan fitnah, (terjadi saat terlapor) merespons terkait penganiayaan fisik yang dialami oleh Ustaz Syekh Ali Jaber," papar Shinta Madesari.

Diketahui, mendiang Syekh Ali Jaber pernah mengalami penikaman oleh orang tak dikenal saat bertausiah di sebuah masjid di Kota Bandar Lampung pada 13 September 2020 sore.

Akibat tusukan itu, Ali Jaber mengalami luka di bagian kanannya.

Merespons kejadian tersebut, Din Syamsuddin menyebut penganiayaan yang terjadi adalah kriminalisasi ulama.

"Terlapor pada hari yang sama langsung menyatakan penilaiannya bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama dan kejahatan berencana terhadap agama dan keberagamaan," papar Shinta.

Menurut Shinta, pendapat Din Syamsuddin tidak dapat dibenarkan karena tidak memiliki bukti.

Ia menjelaskan GAR ITB menilai kejadian penusukan Syekh Ali Jaber adalah murni kejahatan yang tidak terkait agama.

Selain itu, Din Syamsuddin dinilai tidak mengonfirmasi kejadian terlebih dulu sebelum memberikan pernyataan publik melalui berbagai media, sesuai penjelasan Shinta Madesari.

Nagita Slavina Sebut Rafathar akan Punya Adik Lagi, Perlihatkan Hasil USG, Reaksi Anak Raffi Ahmad

Ramalan Zodiak Senin 15 Februari 2021, Aries Dalam Masalah Serius, Gemini Jangan Urusi Orang Lain

Hal ini yang menjadi keberatan GAR ITB.

"Padahal kejadian tersebut adalah murni kriminal. Jadi bukan kejadian kriminalisasi ulama atau kejahatan berencana terhadap agama dan keberagamaan," ungkap Shinta.

"Itu sebenarnya kriminal murni, tapi beliau sudah mengutarakan pendapatnya yang tidak didasarkan pada konfirmasi sebelumnya," lanjut dia.

"Itu saja. Itu yang kami ambil," tutup juru bicara GAR ITB tersebut.

(*)

Artikel ini telah tayang dengan judul Din Syamsuddin Dituduh Berpolitik, Refly Harun Minta GAR ITB Korek Kampusnya Sendiri: Lihat Dosennya, https://wow.tribunnews.com/2021/02/15/din-syamsuddin-dituduh-berpolitik-refly-harun-minta-gar-itb-korek-kampusnya-sendiri-lihat-dosennya?page=all.

Sumber: TribunWow.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved