Breaking News:

Berita Samarinda Terkini

Lapas Narkotika Samarinda Kelebihan Kapasitas, Tahanan bisa Dipindah ke Nusakambangan, Ini Syaratnya

WBP di Lapas Narkotika Samarinda diketahui ada yang dipenjara dengan masa hukuman 10, 20, 25 tahun dan ada yang seumur hidup

HO/Kanwil Kemenkumham Kaltim
Jajaran Kanwil Kemenkumham Kaltim saat mengecek blok tahanan salah satu UPT Pemasyarakatan di Samarinda, Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Lapas Narkotika Klas IIA Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur mengalami kelebihan kapastitas.

Rata-rata masa hukuman Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di sana 5 tahun ke atas bahkan ada yang dituntut hukuman seumur hidup.

Lapas khusus ini berisikan tahanan kelas kakap baik itu bandar, pengedar, maupun pemakai narkotika.

Banyak tahanan ini tidak bisa mengikuti program asimilasi Covid-19 dari Kemenkumham guna menanggulangi over capacity salah satunya.

"Biasanya bandar besar hukumannya lama, di atas 5 tahun, itu biasanya tidak masuk program asimilasi. Yang dapat biasanya sanksi pidananya di bawah 5 tahun," tegas Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Kaltim, Sri Yuwono, Rabu (3/3/2021).

Baca juga: BNNP Kaltim Bersama Lapas Narkotika Ungkap Peredaran Libatkan Warga Binaan Pemasyarakatan

Baca juga: Gawat, 157 Orang Warga Binaan dan Petugas Lapas Perempuan Tenggarong Positif Covid-19

Muncul pula kekhawatiran adanya potensi membangun jaringan peredaran narkotika di antara para tahanan.

Pasalnya para bandar besar yang seharusnya ditempatkan di sel berbeda, belum bisa terlaksana.

Mereka masih ada dalam satu blok dengan WBP dalam kasus narkoba lain yang notabene bukan bandar besar.

"Kalau di Lapas Narkotika idealnya harus dipisah (bandar besar), tapi kita ini kan over kapasitas, jadi saking banyaknya, fungsi pengawasan juga sedikit susah. Jadi kadang-kadang ada yang bisa dibedakan, ada yang tidak kalau di dalam (blok sel tahanan)," jelas Sri Yuwono.

WBP di Lapas Narkotika Samarinda diketahui ada yang dipenjara dengan masa hukuman 10, 20, 25 tahun dan ada yang seumur hidup.

Saat ditanya akankan dipindahkan ke Lapas, sel lain atau ke Lapas Nusakambangan yang menjadi penjara sentral pengedar dan pengendali narkoba kelas kakap, Sri Yuwono menjelaskan belum ada rekomendasi untuk para tahanan kasus narkotika dalam jumlah besar dipindahkan.

Apalagi sampai ke Lapas Nusakambangan.

"Kalau (dipindahkan) ke Nusakambangan apabila ada kasus narkoba yang indikasinya sebagai bandar mengendalikan narkoba di luar, baik skala regional, nasional maupun internasional. Kalau ada rekomendasi dari BNN atau Polda bahwa terpidana ini mengedarkan narkoba sesuai kriteria tersebut, maka nanti mereka memberikan rekomendasi kepada kami untuk mengirim ke Lapas Nusakambangan," pungkasnya.

Penulis : Mohammad Fairoussaniy

Penulis: Mohammad Fairoussaniy
Editor: Adhinata Kusuma
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved