Berita Nasional Terkini

Kisah di Balik Ajakan Presiden Jokowi Benci Produk Luar Negeri, Ada Kaitannya dengan China

Pernyataan Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengenai benci produk luar negeri menjadi sorotan, bahkan berujung polemik

Instagram.com/sekretariat.kabinet/
Kisah di Balik Ajakan Presiden Jokowi Benci Produk Luar Negeri, Ada Kaitannya dengan China 

TRIBUNKALTIM.CO - Pernyataan Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengenai Benci Produk Luar Negeri menjadi sorotan, bahkan berujung polemik.

Namun demikian, ada kisah lain di balik pernyataan Jokowi tersebut.

Setidaknya hal itulah yang diungkapkan oleh Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi.

Diketahui pernyataan tersebut disampaikan Jokowi dalam pidatonya saat membuka Rapat Kerja Kementerian Perdagangan (Kemendag) 2021, Kamis (4/3/2021).

Menurut Lutfi, alasan mengapa Jokowi mengkampanyekan Benci Produk Luar Negeri karena dipicu cerita yang ia bagikan sesaat sebelum acara di mulai, yakni mengenai fenomena UMKM Indonesia yang terdampak produk impor melalui perdagangan digital.

“Jadi ingin meluruskan bahwa ini adalah laporan saya ketika memohon beliau untuk membuka Rapat Kerja Kemendag dua hari lalu, dan tadi sempat menjadi pembicaraan sebelum masuk ke acara tersebut,” ujarnya dalam konferensi pers Rapat Kerja Kemendag 2021, Kamis (4/3/2021).

Baca juga: TERKUAK Cerita di Balik Pernyataan Jokowi Benci Produk Asing, soal Kecurangan hingga Ketidakadilan

Baca juga: Sederet Faktor Elektabilitas Risma Ungguli Anies, Bertabur Prestasi hingga Pakai Konsep Jokowi

Dia mengatakan, laporan yang disampaikannya kepada kepala negara adalah mengenai praktik predatory pricing melalui platform e-commerce global.

Adapun predatory pricing adalah strategi penjualan dengan mematok harga yang sangat rendah sehingga menarik pembeli, tujuannya untuk menyingkirkan pesaing dari pasar dan mencegah pelaku usaha lain masuk ke pasar yang sama.

"Jadi harga yang sengaja dibuat untuk membunuh kompetisi. Ini membuat tidak terjadi keadilan atau kesetaraan dalam perdagangan," kata dia.

Praktik predatory pricing tersebut, lanjut Lutfi, diperkuat dengan sebuah tulisan yang dikeluarkan oleh lembaga internasional.

Tulisan itu mengungkapkan hancurnya UMKM asal Indonesia yang bergerak di bisnis fesyen muslim yaitu penjual kerudung atau hijab akibat praktik predatory pricing yang dilakukan pihak asing.

Ia menjelaskan, bisnis UMKM penjual hijab tersebut sempat berjaya selama 2016-2018 hingga mampu mempekerjakan 3.400 karyawan.

Total gaji yang dibayarkan UMKM pada pekerjanya itu bahkan mencapai US$ 650.000 per tahun.

Baca juga: KETAT Anies Baswedan & Risma Tarung Elektabilitas, Mensos Baru Jokowi Lampaui Gubernur DKI Jakarta

Baca juga: Jokowi Izinkan Asing Cari Harta Karun Bawah Laut, Susi Pudjiastuti Minta BMKT Diambil Pemerintah

Namun pada 2018 ada sebuah perusahaan asing yang menyadap seluruh informasi UMKM tersebut.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved