Berita Nasional Terkini
Namanya Populer Saat Kasus Ahok, Nasib Buni Yani Sekarang Berbeda Setelah Bertemu Amien Rais
Ketika itu video pidato dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang dibagikan Buni Yani mendadak menjadi populer.
TRIBUNKALTIM.CO - Masih ingat dengan Buni Yani?.
Namanya begitu populer di sekitar tahun 2017.
Ketika itu video pidato dari Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang dibagikan Buni Yani mendadak menjadi populer.
Video itu kemudian memunculkan beragam reaksi mulai aksi 411 hingga 212.
Begini kabar Buni Yani yang dulu buat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara karena kasus penistaan agama.
Kini Buni Yani bergabung Partai Ummat besutan Amien Rais.
Baca juga: Nobu Blak-blakan Dalam Video Terbarunya, Ini Sikap Gisel Dihadapan Penyebar Video Syur Dirinya
Baca juga: PEDASNYA Sindiran Marzuki Alie Soal AHY Disiapkan Maju di Pilpres 2024: Ini Bukan Negara Pacitan!
Berikut selengkapnya!
Buni Yani, mantan terpidana ujaran kebencian menemui Amien Rais.
Kedatangannya untuk bersilaturahmi sekaligus menyatakan bergabung dengan Partai Ummat.
Buni Yani mengaku sangat senang bertemu Amien Rais.
Ia pun bertanya kepada Amien Rais apakah tenanganya dibutuhkan untuk berkontribusi dalam Partai Ummat.
"Sangat..sangat diperlukan. Garis lurus," jawab Amien Rais.
Buni Yani pun mengungkapkan tujuan kedatangannya untuk mendukung dan bergabung dengan Partai Ummat.
"Kita insyaallah mendukung Partai Ummat. Mudah-mudahan kelak diridhoi oleh Allah SWT dan menjadi, apa namanya, catatan amal kita," kata Buni Yani Buni, di video Youtube Terminal Amien Rais, Kamis (4/3/2021), seperti dilansir Tribun-timur.com.
"Dan kelak di akhirat, inilah yang menjadi jejak kita pernah berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di atas bumi ini. Gitu pak Amien," jelas Buni Yani.
Ucapan Buni Yani diaminkan Amien Rais.
"Amin..Amin.. Amin.. Iya..iya.. Terima kasih," ujar Amien Rais.
Baca juga: Amien Rais Minta Listyo Sigit Batalkan 1 Janjinya, Sorot PAM Swakarsa Era Wiranto, Sipil Bunuh Sipil
Baca juga: Pemerintah Bubarkan FPI, Amien Rais Ingatkan Jokowi dan Mahfud MD: Langkah Politik Habisi Demokrasi
Diketahui, Buni Yani tetiba populer saat dirinya mengaku memposting video Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok jelang Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.
Ia memotong video menjadi 30 detik pada 6 Oktober 2016.
Adapun, video asli pidato Ahok berdurasi 1 jam 48 menit 33 detik.
Saat itu, ia juga menghilangkan kata 'pakai' dalam transkripannya.
Potongan pidato itu disebar di media sosial oleh Buni Yani dengan mengedit sehingga memancing massa turun ke jalan untuk memenjarakan Ahok sebagai penista agama.
Buni Yani akhirnya divonis 18 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung dengan Pasal 32 Ayat 1 dan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE yakni melakukan ujaran kebencian dan menyunting isi video pidato Ahok di Kepulauan Seribu.
Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa, yakni 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.
Kemudian, MA menolak perbaikan kasasi dari Buni Yani dengan nomor berkas pengajuan perkara W11.U1/2226/HN.02.02/IV/2018 sejak 26 November 2018.
Survei Elektabilitas Parpol Terbaru, Demokrat Naik, Bansos Gerus PDIP, Kejutan Partai Ummat
Lembaga survei New Indonesia Research & Consulting merilis hasil survei elektabilitas partai politik ( parpol) terbaru.
Hasilnya mengejutkan, PDIP yang semula unggul jauh, kini tergerus.
Partai besutan Megawati ini dirugikan dengan isu bansos covid-19 yang melibatkan eks Menteri Sosial Juliari Batubara.
Kejutan lain datang dari Partai Demokrat yang kini diguncang isu kudeta.
Hasil positif juga diperoleh Partai Ummat yang didirikan politikus senior, Amien Rais.
Lantas, bagaimana elektabilitas Gerindra, PKB dan partai lainnya?
Dalam kurun waktu empat bulan, elektabilitas partai politik bergerak dinamis.
PDIP masih tetap unggul, tetapi elektabilitasnya anjlok.
Sebaliknya dengan Demokrat yang elektabilitasnya melesat.
Dua parpol yaitu PKS dan PSI mengalami kenaikan elektabilitas.
“Elektabilitas Demokrat melesat, PDIP anjlok, sedangkan PKS dan PSI naik elektabilitasnya,” kata Direktur Eksekutif New Indonesia Research & Consulting Andreas Nuryono dalam siaran pers di Jakarta, pada Minggu (7/2/2021).
Baca juga: MAKIN JELAS! Artis Idola Sule yang istrinya Hina Dede Sunandar Sampai Menangis Ternyata Sudah Wafat
Baca juga: SEGERA CAIR! Cek Syarat Penerima BLT BPJS Ketenagakerjaan Subsidi Upah Rp 1,2 juta, Tak Semua Dapat
Elektabilitas PDI Perjuangan ( PDIP) sebelumnya naik dari 29,3 persen pada survei bulan Juni 2020 menjadi 31,4 persen pada survei bulan Oktober 2020.
Tetapi pada survei terakhir, elektabilitasnya merosot hingga 23,1 persen.
Sementara itu Partai Demokrat sebelumnya turun dari 3,8 persen (Juni 2020) menjadi 3,2 persen (Oktober 2020).
Pada survei terakhir, elektabilitasnya meroket menjadi 8,2 persen, membuat posisi Demokrat berada di empat besar.
“Pengungkapan kasus korupsi bantuan sosial penanganan Covid-19 yang melibatkan menteri dan sejumlah politisi asal PDIP membuat citra parpol penguasa ini melorot tajam,” kata Andreas.
Parpol-parpol oposisi, khususnya Demokrat, cukup berhasil memanfaatkan kemerosotan dukungan terhadap PDIP.
“Naiknya isu kudeta terhadap kepemimpinan Demokrat bisa jadi upaya untuk terus mendulang elektabilitas,” kata Andreas.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) naik dari 5,5 persen (Juni 2020) menjadi 6,1 persen (Oktober 2020) dan terakhir 7,7 persen.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) naik dari 4,2 persen (Juni 2020) menjadi 4,6 persen (Oktober 2020) dan terakhir 4,8 persen.
Parpol-parpol lain cenderung stabil atau turun, misalnya Gerindra dan Golkar.
Gerindra berada pada posisi dua besar (12,5 persen | 12,3 persen | 12,6 persen), sedangkan Golkar menyusul di tiga besar (9,7 persen | 8,8 persen | 9,1 persen).
Lalu ada PKB (6,8 persen | 6,7 persen | 6,4 persen), Nasdem (4,1 persen | 3,7 persen | 3,5 persen), PPP (2,4 persen | 1,9 persen | 2,0 persen), dan PAN (1,6 persen | 1,3 persen | 1,0 persen).
“Yang mengejutkan, Partai Ummat yaitu parpol baru besutan Amien Rais dengan elektabilitas 1,1 persen, atau 0,1 persen di atas PAN, berhasil menggerus basis suara PAN,” kata Andreas.
Parpol lain hanya mampu meraih elektabilitas di bawah 1 persen. Di antaranya Perindo (0,9 persen | 0,5 persen | 0,4 persen), Hanura (0,3 persen | 0,2 persen | 0,2 persen), dan Berkarya (0,3 persen | 0,1 persen | 0,2 persen).
Parpol baru lain yang mulai mendapatkan dukungan adalah Gelora (0,1 persen).
Sisanya tidak meraih dukungan, yaitu PBB, PKPI, Garuda, dan parpol baru Masyumi Reborn.
Baca juga: AHY Minta Jokowi tak Sahkan KLB Demokrat Moeldoko, Sebut Eks Panglima TNI Jauh dari Moral Politik
Baca juga: Terkenal Tajir, Nagita Slavina Pernah Lakukan Ini Saat Belanja di Warung, Marshel Widianto Kaget
Masih ada yang tidak tahu/tidak jawab sebesar 19,6 persen.
Survei NEW INDONESIA Research & Consulting dilakukan pada 20-31 Januari 2021, dengan sambungan telepon kepada 1200 orang responden yang dipilih acak dari survei sebelumnya sejak 2019.
Margin of error ±2,89 persen, tingkat kepercayaan 95 persen.
(*)
Editor : Januar Alamijaya
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-timur.com dengan judul Masih Ingat Buni Yani Bikin Ahok Dipenjara Kasus Penistaan Agama? Kini Bergabung Partai Amien Rais
Artikel ini telah tayang di Tribunnewsmaker.com dengan judul INGAT Buni Yani? Buat Ahok Dibui atas Kasus Penistaan Agama, Kini Masuk Partai, Gabung Amien Rais, https://newsmaker.tribunnews.com/2021/03/05/ingat-buni-yani-buat-ahok-dibui-atas-kasus-penistaan-agama-kini-masuk-partai-gabung-amien-rais?page=all.