Berita Bontang Terkini
Disdikbud Bontang Sebut Orangtua Murid tak Mampu Awasi Anaknya Saat Belajar Daring
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang harus putar otak.Persoalan yang timbul imbas dari penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
Penulis: Ismail Usman | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BONTANG-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang harus putar otak.
Persoalan yang timbul imbas dari penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), memaksanya harus merancang strategi baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Sebenarnya badai pendemi Covid-19 ini membuat semua daerah kewalahan.
Peningkatan mutu kualitas pendidikan tentu jadi tantangan di semua kota tak terkecuali Bontang.
Baca Juga: PPKM Mikro Kembali Diperpanjang, Pemkot Bontang Bolehkan Gelar Resepsi Pernikahan
Baca Juga: Guru Diminta Awasi Siswa tak Berkerumun Saat Pembelajaran Tatap Muka di Bontang
Bagaiamana tidak, terpaan bencana Covid-19 yang disusul beberbagai kebijakan pembatasan, memukul telak dunia pendidikan.
Khususnya bagi pendidikan tingkat bawah seperti, PAUD, TK, SD dan SMP.
Penyesuaian sistem pembelajaran dengan merubah banyak kebiasaan lama, tentunya merembes pada pertumbuhan anak-anak.
Ditambah lagi, kesiapan orang tua terhadap pengawasan dalam pemanfaatan teknologi sebagai perangkat belajar sangat kurang.
Sehingga banyak para siswa begitu bebas berselancar dijejaring sosial tanpa filterisasi.
Baca Juga: Toko Roti di Bontang Baru Ludes Terbakar, Pemilik Rugi Rp 4,5 M, Tiga KK Kehilangan Tempat Tinggal
Baca Juga: Satu Toko Roti di Simpang Jalan Patimura Bontang Baru Ludes Terbakar
Akibatnya, mempengaruhi perilaku dan pola berfikir anak.
"Tidak semua orangtua murid mampu mengawasi. Kemampuan mereka juga terbatas. Akibatnya bablas," ungkap Saparuddin, Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Disdikbud Bontang, Selasa (06/04/2021).
Sebenaranya, pemanfaatan tekhnologi di kondisi new normal ini sangat menunjang keperluan belajar para siswa namun perlu ada kontroling.
Jika pengawasan ini hanya dibebankan ke orang tua, kemungkinan akan kecolangan.
Sehingga pihaknya pun berusaha akan merancang regulasi yang membatasi penggunaan tekhnologi. Khususnya di lingkup pendidikan tingkat bawah.
"Teknologi kan tetap akan jadi penunjang dalam belajar anak. Tapi perlu dibuatkan aturan, biar bener-benar difungsikan sebagaimana mestinya," ujar Saparuddin.
Lebih lanjut, kata Saparuddin, menurut pengamatan para guru dan keluhan orang tua, gairah belajar anak juga sangat menurun dratis.
Penurunan gairah belajar ini juga jadi tantangan bagi pihaknya untuk memulihkan kembali minat belajar siswa, sebelum penerapan Pembajaran Tatap Muka (PTM) di Juli nanti.
Baca Juga: Disdikbud Bontang Batasi Sepekan 2 Kali Gelar Tatap Muka Tiap Kelas, Cek Jadwalnya
Baca Juga: Jelang Ramadhan, Permintaan 3 Komoditas Ini Meningkat di Pasar Bontang, Harga Cabai Besar Ikut Naik
"Ini juga masalah yang bakal kami hadapi nanti. Makanya kami harus kerja ekstra untuk mencari solusi terhadap persoalan ini," ujarnya lagi.
Masalah lain jelang PTM juga hadir dari orangtua murid. Banyak dari mereka pulang kampung dengan anaknya. Sementara daerah yang dikunjungi telah mengatur larangan keluar kota.
"Banyak juga orang tua tidak balik ke Bontang. Karena kota yang didatangi punya aturan larangan keluar. Ditambah lagi ada kebijakan dari kementerian yang baru-baru ini terkait larangan mudik," sambung Saparuddin.
Ditambahkan Saparuddin, segudang masalah yang terjadi ini harus diupayakan bisa selesai sebelum penerapan PTM nanti. Langkah yang bakal ditempuh pun masih tengah dibahas.
Sehingga ia meminta dukungan segala pihak. Karena bagaimana pun, kemajuan sebuah kota didasari dari mutu kualitas pendidikannya.
"Perlu saling dukung untuk cari solusi. masalah kita ini berat, kita seakan seperti merombak ulang baru terus dibangun kembali. Tapi ini sudah jadi konsekuensi dari bencana Covid-19," pungkasnya. (*)