Yunus Abbas Meninggal Dunia
Ketua PMI Tarakan HM Yunus Abbas Wafat, Beginilah Sepak Terjangnya Semasa Hidup
Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum Dr. Muhammad Yunus Abbas pada Rabu (28/4/2021)
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Duka mendalam menyelimuti keluarga almarhum Dr. Muhammad Yunus Abbas pada Rabu (28/4/2021). Kepergiannya terasa sangat cepat bahkan mendadak bagi keluarga.
Kediamannya di Jalan Cahaya Baru Kelurahan Karang Harapan, dibanjiri ratusan pelayat yang merupakan keluarga dan rekan almarhum semasa hidup.
Di sepanjang jalan masuk menuju rumah duka, berbagai karangan bunga terhampar mengiringi kepergian almarhum.
Amir Hamzah, sang adik ketiga almarhum tak kuasa menahan kesedihan. Kepada media ia menceritakan awal mula kematian sang kakak yang dinilainya begitu mendadak.
Baca Juga: Belum Sempat Dilantik Jusuf Kalla, Ketua PMI Tarakan HM Yunus Abbas Tutup Usia
Selama ini almarhum dikenal tak memiliki riwayat penyakit jantung atau penyakit kronis lainnya. Almarhum dikenal sangat peduli akan kesehatan tubuh.
Namun sepengetahuan Amir Hamzah, sang kakak memiliki riwayat asam urat.
"Almarhum ini saya anggap meninggalnya mendadak. Karena gak ada hitungan jam. Tadi malam memang sempat mengeluh tapi masih sempat diskusi konkow-konkow dengan temannya ngobrol ngopi," urai Amir Hamzah kepada Tribunkaltim.co, Rabu (28/4/2021).
Kemudian lanjut Amir Hamzah, setelah salat Subuh, sang kakak sempat mengeluh sakit di sekitar bagian dada. Ia memprediksi kemungkinan asam lambung naik dan kambuh.
Baca Juga: Naik Jet Pribadi, Jusuf Kalla Mendarat di Tarakan, Singgah Melayat ke Rumah Almarhum Yunus Abbas
Akhirnya oleh keluarga dengan gerak dibawa ke RSUD Kota Tarakan sekitar pukul 08.00 Wita.
"Setelah merasa sesak baru kakak saya minta dibawa lari ke RSUD. Setelah dibawa ke RSUD, hitungannya tak sampai berapa menit, saya sempatkan salat Dhuha, selesai salat saya kembali, kakak saya sudah dinyatakan sudah pergi," ungkapnya berkaca-kaca.
Ia bahkan tak sempat melepaskan kepergian sang kakak. Sehingga baginya ini terlalu cepat. Ia begitu kehilangan sosok sang kakak sulung yang menjadi panutan di antara delapan bersaudara.
"Sedih sekali ya. Beliau anak pertama. Dan ini mendadak, kami sangat berduka dan kehilangan," urai pria yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Disdukcapil Kota Tarakan.
Baca Juga: Besok, Jusuf Kalla Dijadwalkan Bertandang ke Tarakan, Agenda Lantik Pengurus PMI Kaltara
Kembali ia mengatakan selama ini tak ada riwayat penyakit jantung yang dimiliki sang kakak. Dari dokter lanjut Amir Hamzah, sang kakak didiagnosa tak memiliki riwayat jantung.
Namun karena asam lambung yang naik, kemungkinan terasa sakit dan sesak karena penyempitan pembuluh darah. "Karena memang mengeluhnya di bagian dada terasa nyeri," ungkapnya.
"Tidak ada, beliau penyakitnya hanya asam urat. Kami juga kaget semua gak nyangka. Tiba-tiba seperti ini kondisinya," lanjut Amir Hamzah.
Sebagai kakak paling sulung, almarhum dikenal sebagai orang yang paling dituakan dan menjadi panutan dalam keluarga. Banyak kenangan selama bersama almarhum semasa hidup.
Terutama di momen kumpul keluarga. Kumpul keluarga selalu menjadi rutinitas ia bersama seluruh saudaranya.
Di momen kumpul keluarga, sang kakak selalu tampil memberikan petuah, amanat kepada saudara bahkan kepada seluruh keponakan-keponakannya.
Amir Hamzah berjanji tetap akan meneruskan rutinitas silaturahmi kumpul keluarga itu sepeninggal sang kakak.
"Setiap kumpul keluarga yang rutin dilakukan, selalu ada petuah. Itu yang tidak bisa kami lupakan. InsyaAllah kami teruskan silaturahmi itu tidk akan putus sampai di anak cucu dan keponanakan," ungkap Amir Hamzah yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pertambahan dan Energi Dishutamben Kota Tarakan sebelum nama Dishutamben berganti nomenklatur.
Ia melanjutkan, ada pesan orang tua terdahulu yang tetap harus dijaga yakni jangan sampai putus silaturahmi antarbersaudara.
Setiap kali momen pertemuan keluarga, selain anak, keponakan almarhum juga ikut mendapat wejangan. Sehingga begitu terasanya kehilangan sang kakak.
Ia bersyukur, seluruh anak-anak almarhum sudah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan hingga tingkat master. Itu buah dari cara mendidik sang kakak untuk anak-anak almarhum. Bahkan tidak sampai di anak saja, sampai level keponakan selalu diberikan wejangan.
" Sampai melanjutkan ke tingkat S2 keponakan-keponakannya itu karena pembekalan dari beliau juga," kenang Amir Hamzah.
Almarhum meninggal di usia 55 tahun. Almarhum selama masa hidup dikenal sebagai seorang organisatoris dan aktivis. Sempat ada isu bahwa almarhum meninggal karena kelelahan ikut mengurus persiapan pelantikan Pengurus PMI Provinsi Kaltara yang digelar Rabu (28/4/2021) hari ini.
Namun hal itu ditepis sang adik. Ia mengatakan, selama masa hidupnya sejak dari zaman menjadi mahasiswa sampai sudah menikah dan bekerja, ia tak pernah berhenti beraktivitas. Almarhum dikenal sebagai seorang yang pantang mengenal lelah.
"Namanya mantan aktivits bahkan sampai sebelum meninggal masih mengurusi organisasi ya. Beliau dikenal aktivis organisasi. Beliau kerahkan semua jiwa raganya bagamaina membesarkan organisasi," beber Amir Hamzah.
Sehingga tak tepat jika dikatakan kelelahan karena kegiatan ataupun pekerjaannya. Almarhum saat ini tercatat sebagai Ketua PMI Kota Tarakan yang aktif.
Dedikasinya untuk PMI begitu luar biasa. Almarhum meninggalkan dua generasi yang juga saat ini sudah menyelesaikan strata 2 (S2).
"Kembali ke anak-anak apakah mau meneruskan perjungan sang bapak," bebernya.
Bertepatan momen hari ini seharusnya alamrhum dilantik menjadi pengurus PMI Kaltara. Almarhum dilantik sebagai Wakil Ketua PMI Kaltara periode 2020-2025. Namun takdir berkata lain. Tuhan berkehendak mengambil lebih cepat sang aktivis organisasi untuk selamanya.
Selama hidup ada banyak rekam jejak karier yang pernah dia geluti.
Almarhum memulai kariernya di 2010 sebagai Inspektur di Inspektorat Kota Tarakan.
Kemudian pada tahun 2011 ia menjadi Kepala Bapedda Kota Tarakan.
Dilanjutkan tahun 2012 sebagai Asisten Kesra Setda Pemkot Kota Tarakan. Tahun 2013, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Tarakan.
Lalu pada tahun 2013 hingga 2015 menjadi Kepala Disdikbudpora Kaltara.
Kemudian di tahun 2016, mengawali karier sebagai Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan selama lima tahun empat bulan.
Lalu dilanjutkan menjadi Wakil Rektor sejak Maret 2017 di Universitas Borneo Tarakan sela empat tahun dua bulan.
Dan terakhir ia aktif berorganisasi dan menjadi Kepala PMI Kota Tarakan sampai saat ini.
Dr. Muhammad Yunus Abbas memiliki tujuh saudara. Empat saudara laki-laki dan empat saudara perempuan. Ia meninggalkan istri dan tiga anak.
Almarhum dimakamkan bakda Azhar tadi sore karena menunggu kedatangan Jusuf Kalla Ketua Umum PMI.
"Tadi pak JK sudah melayat. Beliau berpesan kepada anak-anaknya untuk menjaga umi dan tabah menghadapi cobaan," pungkasnya.
Penulis Andi Pausiah | Editor: Budi Susilo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/menyelimuti-keluarga-almarhum-dr.jpg)