Wawancara Eksklusif

WAWANCARA EKSKLUSIF Direktur BNPT Ahmad Nurwakhid, Pernyataan Petinggi ISIS jadi Pemantik Lone Wolf

BNPT menyatakan pernyataan para petinggi ISIS memantik kelompok radikal di Indonesia untuk melakukan lone wolf.

Editor: Syaiful Syafar
tribunnews
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, bersama jajaran manajemen Tribun Network 

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan pernyataan para petinggi ISIS memantik kelompok radikal di Indonesia untuk melakukan lone wolf. 'Lone wolf' adalah sebutan bagi mereka yang melakukan aksi teror seorang diri. Aksi itu merupakan inisiatif pribadi atau tidak didesain oleh kelompok tertentu.

Di tengah melemahnya kelompok ekstrem di Indonesia, 'lone-wolf' ini menjadi ancaman baru. Pemicu mereka melakukan aksi teror, menurut Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, adalah pernyataan para petinggi ISIS.

"Ada statement dari petinggi ISIS Bahrun Syah dan Bahrun Naim, begitu di Suriah, Irak, dibombardir sama pemerintahan maupun pasukan multinasional," ujar Ahmad saat berbincang bersama Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network Domuara D. Ambarita, Jumat (2/4/2021).

Menurut Ahmad, ISIS telah terdesak sehingga mengeluarkan fatwa yang memerintahkan seluruh simpatisan, fanatisan, atau pengikut ISIS di seluruh dunia untuk melakukan amaliyah di manapun berada dengan menggunakan alat apapun yang ada.

"Itu yang cukup membahayakan. Ideologinya, dia simpatisannya, dia fanatisannya bisa. Karena yang bisa dimonitor oleh aparat Densus 88 mereka yang terkait dengan jaringan. Kalau yang lain harus melibatkan stakeholder lain," ucap Ahmad.

Aksi 'lone wolf' menjadi lebih sulit dicegah karena perencanaannya bukan berdasarkan kelompok atau jaringan.

Seperti aksi teror di Mabes Polri, yang dilakukan ZA, seorang perempuan berusia 26 tahun.

"Kalau dia tidak terkait dan tidak ada komunikasi jaringan, tapi cuma terpapar medsos, melalui dunia maya, kan sekarang hasil riset jelas. Sekitar 67% konten-konten keagamaan yang ada di media, internet, media sosial, konten-konten radikal semua. Dan sekali lagi radikalisme itu berpotensi memapar siapa saja," tutur Ahmad.

Berikut petikan wawancara eksklusif bersama Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

Dalam tiga hari dua kali serangan terorisme di Indonesia. Keduanya melibatkan perempuan. Segawat apa terorisme di Indonesia saat ini?

Kalau kita membaca terorisme, maka kita juga harus membaca radikalisme. Karena radikalisme itu paham yang merupakan fase menuju terorisme.

Paham yang menjiwai aksi terorisme.

Jadi terorisme itu tindakannya, aksinya, perbuatannya. Radikalisme itu pahamnya. Semua teroris pasti berpaham radikal.

Tapi belum tentu seseorang yang berpaham radikal otomatis melakukan aksi terorisme.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved