Rabu, 6 Mei 2026

Berita Berau Terkini

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Berau Berkategori Air Masih Tercemar

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kabupaten Berau, tahun 2020 mengalami penurunan.

Tayang:
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI
Ilustrasi perairan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kategori Air dari 21 sampel sungai di Berau, masuk dalam kategori tercemar ringang. DLHK akui, air rawan untuk tercemar. TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kabupaten Berau, tahun 2020 mengalami penurunan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau mencatat di tahun 2019 sebesar 81,184 menjadi 78,53 di tahun 2020.

Nilai IKLH tersebut masih berlaku hingga sekarang.

Demikian disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan Hidup, DLHK Berau, Rahmadi Pasarakan kepada Tribunkaltim.co.

Baca Juga: Tantangan Daerah Penyangga Ibu Kota Negara, Pasokan Air Baku PDAM Balikpapan Kurang

Dia menjelaskan, meski adanya penurunan pada IKLH Berau, angka tersebut termasuk dalam kategori baik.

Adapun penurunan terjadi semua terjadi pada indeks kualitas air, Indeks kualitas udara dan indeks tutupan hutan.

Semetara itu nilai indeks kualitas air di tahun 2020 sebesar 1,939 termasuk dalam kategori cemar ringan.

Sebelumnya indeks kualitas air di tahun 2019 menunjukkan angka sebesar 3,306.

Baca Juga: BPBD Berau Belum Pastikan Kerugian Setelah Banjir

Baca Juga: INFO Stasiun Meteorologi Maritim, Prediksi 25 Sampai 31 Mei 2021 Gelombang Tinggi di Perairan Maluku

Jika angka indeks kualitas air di atas 5 atau setara 5 maka barulah bisa dikatakan baik.

“Untuk air memang harus diperbaiki lagi, apalagi menjadi salah satu lingkungan yang mudah tercemar,” jelasnya Senin, (24/5/2021).

Penghitungan di tahun 2020 melibatkan 21 sampel air yang diambil, mengingat adanya kasus pencemaran air yang berubah menjadi hijau kendati belum diketahui sebab pastinya.

Selain itu, penurunan indeks kualitas air lantaran rumus perhitungan yang berubah dan memperhatikan 8 indikator lain salah satu contohnya PH air.

Baca Juga: BPBD Berau Masih Siaga, Antisipasi Banjir Susulan

Baca Juga: Pengelolaan Dana Desa di Berau Gunakan Siskeudes, 100 Kampung Harus Menerapkan

Terkait dengan kejadian baru-baru ini, pihaknya belum bisa memastikan untuk kedepannya.

Meskipun dari data sementara air Sungai Kelay, Kabupaten Berau dipastikan aman setelah uji sampel.

Salah satu limbah yang mempengaruhi pencemaran air terbagi berdasarkan limbah domestik, rumah tangga, limbah perusahaan baik tambah dan perkebunan, termasuk limbah yang berasal dari rumah makan dan perhotelan di Berau.

Bagi perusahaan yang besar dan patuh, mereka diharapkan memiliki Water Monitoring Point (WMP) semacam instalasi pengelolaan limbah.

Baca Juga: Harga Tandan Buah Segar Sawit Berau Berada di Angka Tertinggi

Baca Juga: Jadwal Keberangkatan Calon Jamaah Haji 2021 Asal Berau, Kemenag Beber Kuota Belum Tersedia

Namun, yang perlu diperhatikan lebih adalah limbah domestik dan memaksimalkan peran masyarakat secara nyata.

Sedangkan pihaknya, telah memaksimalkan untuk mendata terkhususnya pada rumah makan dan hotel.

“Jadi kami memonitoring hotel dan rumah makan, bagaimana mereka dalam perhari estimasi limbah yang mereka hasilkan,” katanya.

Terkait air, mereka mengakui masih harus bekerja keras, dengan meminta dukungan pihak perusahaan, rumah tangga serta pihak lintas sektor terkait.

Baca Juga: Bupati Berau Sri Juniarsih Minta Data Kerugian Pertanian dan Peternakan Akibat Banjir

Sebab, mayoritas masyarakat menggunakan air untuk kehidupan sehari-hari. Tentu saja, jika pencemaran semakin buruk, akan berhubungan lagi dengan kesehatan manusia.

Pihaknya juga merencanakan untuk pembentukan zonasi untuk mengetahui limbah apa yang paling berpengaruh dalam pencemaran.

Dari 21 sampel, semua menunjukkan kategori cemar sedang.

“Pengecekan di 2021 ini hanya dilakukan pada 17 titik saja,” ujarnya.

Baca Juga: Pascabanjir, Pemkab Berau Siapkan Penanganan Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Hal yang sama juga terjadi pada indek kualitas udara juga mengalami penurunan.

Sebelumnya di 2019 sebesar 89,77 dan mengalami penurunan sebesar 85,78.

Tetapi kategori itu termasuk baik. Selama ini penghitungan indeks udara terbagi menjadi 3 sumber.

Sedangkan di tahun 2020 dari salah satu sumber tidak bisa digunakan sdm nya terkendala pandemik.

Untuk saat ini, yang dibutuhkan yaitu alat pengukur kualitas udara secara aktif, lantaran pengukuran kualitas pengukuran udara masih menggunakan teknik yang pasif.

Namun data tersebut masih termasuk akurat untuk menggambarkan kondisi kualitas udara di Berau yang tergolong baik.

Begitu juga dengan kualitas tutupan hutan yang menurun di tahun 2020. Sebelumnya sebesar 91,006 namun berkurang menjadi 89,784.

Adanya penurunan besar dipengaruhi luasan lahan hijau atau hutan yang berkurang di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Berita tentang Berau

Penulis Renata Andini | Editor: Budi Susilo

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved