Breaking News:

Iklan Online

Banjir di Kembang Janggut dan Kenohan, Anggota DPRD Kukar Ingatkan Warga Tak Buang Sampah ke Sungai

Banjir yang terjadi di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) beberapa hari lalu ternyata mendapat sorotan dari anggota DPRD K

Penulis: Aris Joni
Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI
Anggota DPRD Kukar Dapil Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang, Betaria Magdalena. TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG- Banjir yang terjadi di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) beberapa hari lalu ternyata mendapat sorotan dari anggota DPRD Kukar.

Salah satunya sorotan tersebut datang dari anggota DPRD Kukar dapil Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Kenohan, Kembang Janggut, dan Tabang, Betaria Magdalena.

Betaria mengungkapkan, banjir yang terjadi di Kecamatan Kembang Janggut dan Kenohan tersebut memang merupakan kiriman air dari Kecamatan Tabang yang notabene berada di wilayah paling hulu di aliran sungai Belayan.

Dan, diakuinya, beberapa hari terakhir intensitas curah hujan cukup tinggi di daerah tersebut sehingga mengakibatkan air melimpah serta meluap.

“Seingat saya, karena saya lahir di hulu tidak setiap tahun terjadi banjir. Tapi faktor alam saat ini tidak begitu stabil hampir setiap tahun banjir dalam waktu lima tahun ke bawah ini, dulu gak setiap tahun,” ujarnya belum lama ini.

Selain faktor alam, ucap dia, musibah banjir tersebut juga tidak terlepas dari kelalaian dan manusia yang gemar membuang sampah sembarangan di sungai.

Betaria menyebutkan, masyarakat terutama di pedalaman kurang peka terhadap jangka panjang dari membuang sampah sembarangan.

Ia menerangkan, kegiatan membuang sampah di sungai sudah berlangsung puluhan tahun, namun setiap desa belum juga menyiapkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bahkan di tingkat RT.

“Ada pendangkalan sungai di bagian hilir wilayah Tabang. Saat curah hujan tinggi, terjadilah banjir,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, faktor lainnya, yakni banyak perusahaan di wilayah hulu Kukar yang merusak alam sehingga penyerapan air ke dalam tanah berkurang.

Tak sekedar itu, Betaria mengingatkan agar masyarakat berhenti menebang pohon, begitupula dengan petani.

Artinya, bertani jangan suka berpindah-pindah tempat sebab dapat merusak alam sekitar, karena pasti ada pohon yang ditebang.

“Kalau bercocok tanam di satu tempat saja lebih menghemat atau lebih terkondisi keadaan alam kita. Saya sebagai wakil zona 6 asal Tabang sangat prihatin sebab sekarang mudah banget terjadi banjir. Ini memang harus perlu kesadaran dari manusia sendiri untuk menjaga alamnya,” ucapnya. (*)

Penulis: Aris Joni | Editor: Rahmad Taufiq

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved