Berita Samarinda Terkini
Cuaca Terik di Samarinda dalam Beberapa Hari Terakhir, Waspada Ancaman Kebakaran Lahan
Cuaca terik melanda beberapa kota di Kalimantan Timur, tak terkecuali Samarinda. Hal ini harus diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kebakaran lah
Penulis: Mohammad Fairoussaniy |
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA- Cuaca terik melanda beberapa kota di Kalimantan Timur, tak terkecuali Samarinda.
Hal ini harus diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kebakaran lahan dan permukiman di beberapa wilayah di Kota Tepian.
Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Samarinda, H. Makmur Santoso menyampaikan, suhu panas yang cukup menyengat di wilayah Kota Samarinda saat ini memang harus membuat para personelnya siaga secara penuh di setiap posko di 10 kecamatan.
Bahkan dari catatannya, dalam satu bulan di enam kecamatan saja pada medio 2020 lalu sudah terjadi belasan hektare lahan terbakar.
Perbandingan pada tahun 2021 hingga pertengahan tahun memang tidak terjadi peningkatan, namun tetap harus diwaspadai.
Baca juga: Diduga Korsleting Listrik, Satu Bangunan di Samarinda Hangus Terbakar
"Cuaca panas seperti ini memang sangat mendukung terjadinya kebakaran lahan. Seperti lahan-lahan kering serta mulai berkurangnya intensitas hujan membuat faktor alam juga bisa menjadi penyebab kebakaran lahan," bebernya saat dikonfirmasi Kamis (3/6/2021) pasca musibah kebakaran yang terjadi dini hari tadi.
Walau akhir-akhir ini kejadian kebakaran permukiman kerap terjadi berulang kali dalam rentang waktu sepekan terakhir.
Beruntung, tiap kali kejadian, pihaknya selalu mendapatkan bantuan dari unsur relawan, dan pihak terkait lainnya.
Terkait dengan antisipasi kebakaran lahan, pihaknya juga dihadapkan dengan sejumlah kendala, mulai dari terbatasnya akses masuk ke lokasi, hingga pasokan air.
"Kendala terberat pasti adalah minimnya titik air. Unit tangki terkadang harus bolak-balik, saat mengambil air ini lah kadang lahan yang semula bisa dikuasai, dapat membesar kembali," ungkap Makmur Santoso.
Baca juga: Asyik Dengarkan Musik, Pria di Balikpapan Utara Tak Tahu Rumahnya Terbakar
"Untuk itu, petugas dan relawan berusaha menjaga, agar api tetap padam dengan cara manual (menggunakan ranting). Di samping memadamkan titik api kecil, yang belum di semprot air," imbuhnya.
Proses pemadaman juga terkadang terkendala sulitnya jangkauan peralatan serta medan yang harus dilalui.
Apalagi ketika semak belukar dan lahan gambut yang terbakar, upaya pemadaman akan cukup memakan waktu.
Terlebih ketika petugas menemui medan yang sulit, dengan minimnya peralatan, hingga tak bisa menjangkau dan hanya mengawasi dari jauh.
Ketika api mendekat ke permukiman barulah petugas bergerak melakukan penyemprotan.
Tidak jarang juga petugas Disdamkar dibantu relawan terpaksa berjibaku dengan api menggunakan alat seadanya, yakni dengan memukul-mukulkan ranting kering ke titik api, dan ini dilakukan jika titik air terbatas, bahkan tidak ada.
"Luas area lahan dan titik api yang cukup jauh terkadang membuat armada fire truck tidak dapat menjangkau titik api, ada beberapa daerah di wilayah Samarinda yang sulit ditembus. Kita paksakan, risikonya mobil tangki bisa rusak," ujar Makmur Santoso.
Keterbatasan ini yang membuat petugas akhirnya membawa unit portabel yang dapat dibawa mendekat ke titik api, dan menarik slang panjang.
Namun, hal lain bisa menjadi kendala, ketika unit portabel tak menemukan titik air yang membuat petugas terhambat memadamkan api
"Unit tangki yang tidak bisa mendekat, kita gunakan mesin portabel. Kalau sekarang ini musim panas sehingga sulit mendapatkan sumber air, apalagi jika titik api di perbukitan," tuturnya.
Makmur Santoso mengemukakan, keterbatasan personel juga menjadi kendala, pasalnya ketika terjadi kebakaran lahan, tak hanya satu posko terdekat saja yang melakukan penanganan, tetapi posko lain juga ikut datang membantu,
Alhasil tidak ada lagi personel di posko yang standby jika ada kejadian lainnya, karena semua regu sudah dikerahkan ke lokasi kebakaran lahan atau permukiman.
"Ya, mau tidak mau staf yang berada di kantor juga kita kerahkan, karena memang anggota kami terbatas," ucapnya.
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Rahmad Taufiq