Berita Samarinda Terkini
Orangtua Wajib Waspada, Open BO Kalangan Anak di Bawah Umur di Samarinda Mulai Menjamur
Di era serba digital ini istilah Open BO atau Open Booking atau prostitusi online semakin marak kita dengar.
Penulis: Rita Lavenia | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA- Di era serba digital ini istilah Open BO atau Open Booking atau prostitusi online semakin marak kita dengar.
Bahkan saat ini banyak aplikasi mendunia yang memudahkan kegiatan tersebut berjalan.
Dan mirisnya, Kepala Bidang Pembinaan Anak Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Samarinda, Fitriyadi mengungkap bahwa saat ini banyak kasus BO yang mereka tangani justru pelakunya adalah anak di bawah umur yaitu 14 - 17 tahun.
"Kebanyakan anak-anak ini ingin mengikuti trend tapi tidak ada kemampuan dari segi ekonomi," buka Fitriyadi kepada Tribun Kaltim, Sabtu (19/6/2021).
Karena itulah ia mengatakan bahwa kebanyakan anak remaja yang terseret ke dalam prostitusi online tersebut karena salah pergaulan dan tidak mendapat pengawasan dari orangtua .
Baca juga: Marak Kasus Prostitusi Online, Komisi IV DPRD Samarinda Ajak Semua Pihak Tingkatkan Pengawasan
"Kenapa terus menjamur? Karena mereka berkelompok dan saling mengajak. Namanya anak-anak rasa penasaran tinggi, ingin juga dianggap keren, namun tidak mendapat bimbingan yang benar atau tidak memiliki kemampuan finansial ditawarkan temannya jalan yang singkat, ya terjerumus," ucap Adi, sapaan akrabnya.
Adi menyebut kelompok tersebut bercampur antara perempuan dan laki-laki.
Tetapi yang berjualan kebanyakan dari kalangan perempuan.
"Yang kami tangani kebanyakan anak dari keluarga bermasalah. Broken home, pertengkaran orangtua, dan sebagainya. Akhirnya mencari kasih sayang diluar rumah," lanjutnya.
Baca juga: Marak Kasus Prostitusi Online di Samarinda, Wakil Walikota Rusmadi Wongso Angkat Bicara
Karena itulah menurut petugas dari Kementerian Hukum dan HAM ini peran serta masyarakat terutama keluarga juga sangat dibutuhkan dalam memutus rantai BO di kalangan anak dibawah umur tersebut.
"Apalagi orangtua. Sebagai orang terdekat harus lebih peka terhadap anaknya," sarannya.
Ia menjelaskan peka di sini seperti salah satunya para orangtua merasa tidak memberi uang lebih kepada anak, tetapi anaknya bisa membeli pakaian, barang elektronik dan barang-barang mahal lainnya patut dicurigai.
"Orang tua harus peka membedakan anak yang bisa mandiri karena memang memiliki kegiatan positif yang mendukung, dengan anaknya yang sering bepergian dan tidak diketahui untuk kegiatan apa," terangnya.
"Karena sekali terjerumus dan anak merasa nyaman dengan itu, akan sulit melepaskannya dari hal tersebut," tegasnya.
Penulis: Rita Lavenia | Editor: Mathias Masan Ola
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kabid-pembinaan-anak.jpg)