Berita Internasional Terkini
Siapa Malala Yousafzai? Peraih Nobel Perdamaian Termuda Dunia, Pernah jadi Korban Penembakan Taliban
Siapa Malala Yousafzai? sosok peraih Nobel Perdamaian termuda di dunia, kepalanya pernah ditembak Taliban.
TRIBUNKALTIM.CO - Dalam catatan sejarah dunia terdapat sosok aktivis asal Pakistan yang meraih nobel perdamaian dalam usia muda.
Namanya Malala Yousafzai, ia meraih penghargaan Nobel Perdamian saat berusia 17 tahun.
Dengan penghargaan itu Malala Yousafzai jadi aktivis termuda di dunia yang memperoleh Nobel Perdamaian sepanjang sejarah.
Penghargaan itu tak diraih tanpa perjuangan dan pengorbanan.
Belakangan diketahui Malala Yousafzai pernah berhadapan dengan kelompok Taliban.
Sebuah peluru pun pernah menembus bagian kepala, dan dua titik di tubuhnya saat berusia 15 tahun.
Percobaan pembunuhan yang dilakukan kelompok Taliban kepada dirinya menemui kegagalan.
Sosok Malala Yousafzai selamat dari insiden kelam yang mengancam nyawanya.
Dukungan global mengalir ke Malala Yousafzai, ia menulis beberapa buku yang membuka mata dunia.
Hingga akhirnya di usia mudanya, Malala Yousafzai telah jadi sosok berpengaruh bagi perdamaian dunia.
Ya, Aktivis Malala Yousafzai lantang bersuara tentang hak-hak anak dan perempuan, terutama soal pendidikan.
Informasi selengkapnya ada dalam artikel ini.
Baca juga: Anies Baswedan dalam Masalah, Separuh Warganya Terpapar Covid-19, Simak Harapan Gubernur DKI Jakarta
Dilansir Kompas.com dia menjadi sorotan global ketika lolos dari percobaan pembunuhan oleh Taliban pada usia 15 tahun.
Malala Yousafzai asal Pakistan ditembak pada bagian kepalanya oleh seorang penembak Taliban pada 2012.
Sejak itu, dia menyuarakan perlawanan terhadap kelompok tersebut.
Dia mendesak agar perempuan diperbolehkan untuk memperoleh pendidikan.
Pada 2014, dia meraih penghargaan Nobel Perdamaian atas perannya dalam menyuarakan hak anak.
Kehidupan awal dan Taliban Malala Yousafzai lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, kota terbesar Swat Valley, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.
Dia putri dari pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai, serta memiliki dua adik laki-laki.
Kehidupan awalnya begitu menyenangkan sebab tempat tinggalnya merupakan destinasi wisata populer dan dikenal dengan festival musim panasnya.
Semua itu berubah ketika kelompok Taliban mencoba menguasai daerah tersebut.
Usia Malala masih 10 tahun ketika Taliban mulai mengendalikan Swat Balley dan menjadi dominan di bidang politik dan sosial.
Taliban melarang perempuan bersekolah dan kegiatan budaya seperti menari, bahkan menonton televisi juga tidak diperbolehkan.
Serangan bom bunuh diri menyebar dan hingga akhir 2008, Taliban menghancurkan sekitar 400 sekolah.
Namun, setelah Taliban mulai menyerang sekolah perempuan di Swat, dia menyampaikan pidato di Peshawar pada September 2008.
Pidato pertamanya itu berjudul "Betapa beraninya Taliban merampas hak dasarnya untuk bersekolah?".
Baca juga: SKENARIO Terburuk Pemerintah, Kasus Harian Covid-19 Tembus Angka 40 Ribu, Bersiap Lakukan Hal Ini
Menulis blog Sebagai remaja yang begitu peduli dengan dunia pendidikan, Malala menulis blog untuk BBC mengenai kehidupan di bawah ancaman Taliban yang menolak pendidikan.
Identitasnya disembunyikan sehingga dia memakai nama samaran sebagai Gul Makai.
Dia mengungkapkan bahwa Taliban memaksanya untuk tinggal di rumah sehingga dia mempertanyakan motif dari kelompok itu.
Perang Pakistan melawan Taliban meletus pada 2009, dan Malala menjadi pengungsi di negaranya.
Dia dan keluarganya harus meninggalkan rumah untuk mencari lokasi aman yang jauhnya ratusan kilometer.
Ketika kembali ke rumah beberapa pekan kemudian, Malala menggunakan saranan media untuk melanjutkan kampanye hak untuk sekolah.
Suaranya makin nyaring sehingga dia dan ayahnya menjadi dikenal seantero Pakistan.
Kegiatan aktivisnya berbuah manis dengan masuknya Malala sebagai nominasi penghargaan Nobel Perdamaian Anak Internasional pada 2011.
Di tahun yang sama, dia mendapat penghargaan Pakistan's National Youth Prize.
Tidak semua orang menyambut baik usaha Malala memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan.
Baca juga: INILAH Daftar Penerima BLT UMKM 2021, BPUM Tahap 3 Cair? Login eform.bri.co.id/bpum/banpresbpum.id
Ditembak Taliban
Pada 9 Oktober 2012, remaja berusia 15 tahun itu ditembak oleh Taliban.
Dia duduk di bus menuju rumah dari sekolahnya.
Malala sedang mengobrol dengan teman-temannya tentang PR sekolah.
Lalu, dua anggota Taliban menghentikan bus.
Seorang pemuda Taliban memanggil nama Malala dan menembak tiga kali ke arahnya.
Satu peluru menembus kepalanya dan bersarang pada bahunya.
Malala terluka serius.
Pada hari yang sama, dia dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar.
Empat hari selanjutnya, dia diterbangkan ke Birmingham, Inggris, untuk menerima perawatan intensif.
Meski memerlukan banyak operasi, termasuk perbaikan saraf wajah untuk memperbaiki sisi kiri wajahnya yang lumpuh, dia tidak menderita kerusakan otak besar.
Pada Maret 2013, dia mulai bersekolah di Birmingham.
Atas penembakan itu, dukungan besar-besaran mengalir kepadanya.
Nobel perdamaian Pada 2013, dia melakukan pidato untuk PBB dan menerbitkan buku pertamanya berjudu I am Malala.
Setahun kemudian, Malala menyabet Penghargaan Nobel Perdamaian saat dia berusia 17 tahun.
Malala menjadi orang termuda yang meraih penghargaan tersebut.
"Penghargaan ini tidak hanya untuk saya. Ini untuk anak-anak yang terlupakan yang ingin menempuh pendidikan. Ini untuk anak-anak yang ketakutakan, yang menginginkan perdamaian," katanya.
"Ini untuk anak-anak yang tidak bisa bersuara, yang menginginkan perubahan," imbuhnya.
Pada tahun yang sama, Malala mendirikan lembaga amal Malala Fund dengan dibantu ayahnya.
Sekarang lembaga tersebut memberdayakan anak perempuan untuk mengolah potensi diri sehingga mampu menjadi pemimpin kuat bagi negara.
Proyek pendidikan dari Malala Fund tersebar di enam negara dan bekerja sama dengan pemimpin dunia.
Kembali ke Pakistan Pada 29 Maret 2018, Malala kembali ke Pakistan untuk pertama kalinya sejak serangan brutal pada 2012.
Dia bertemu dengan Perdana Menteri Shahid Khawan Abbasi dan menyampaikan pidato yang emosional. Selama kunjungan empat hari itu, dia mengungkapkan kerinduan terhadap tanah airnya.
"Dalam lima tahun terakhir, saya selalu bermimpi kembali ke negara saya. Saya tidak ingin pergi," ucapnya.
Agen perubahan Malala selalu mendorong perempuan untuk menjadi agen perubahan untuk komunitas mereka.
Kini, dia sedang menempuh pendidikan di Universitas Oxford di Inggris.
Dia mengaku ingin menetap di Pakistan usai merampungkan kuliahnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/malala-yousafzai-bersama-wartawan-cnn-di-new-york-2013-silam-pidato-di-pbb-saat-berusia-16-tahun.jpg)