Sabtu, 11 April 2026

Virus Corona

Kapan Pasien Covid-19 yang Isoman Harus Dibawa ke Rumah Sakit? Simak Penjelasan IDI

Lantas kapan pasien Covid-19 yang tengah melakukan isolasi mandiri harus dibawa ke rumah sakit.  

TRIBUNKALTIM.CO/MIFTAH AULIA ANGGRAINI
Tenaga Medis tengah menangani pasien covid-19 di ruang ICU salah satu rumah sakit rujukan di Kota Balikpapan. IDI berikan penjelasan kapan pasien yang tengah Isoman harus dibawa ke rumah sakit 

TRIBUNKALTIM.CO - Angka meninggal dunia pasien Covid-19 yang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) mengalami lonjakan.

Fakta ini menimbulkan kekhwatiran tersendiri bagi masyarakat.

Pasalnya penuhnya sejumlah fasilitas kesehatan membuat pasien tanpa gejala atau gejala ringan dianjurkan melakukan isolasi mandiri.

Lantas kapan pasien Covid-19 yang tengah melakukan isolasi mandiri harus dibawa ke rumah sakit.  

Pasalnya banyak pasien tersebut meninggal meskipun tidak memiliki komorbid (penyakit penyerta).

Hal ini memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas perawatan sendiri di rumah, khususnya pada Orang Tanpa Gejala (OTG) dan pasien gejala ringan.

Baca juga: Fatal Akibatnya Jika Kesalahan Ini Terjadi Saat Isolasi Mandiri Covid-19, Inilah Saran dari IDI

Banyak yang khawatir, penanganan yang dilakukan tidak tepat sehingga berakibat menghilangkan nyawa pasien.

Melansir Tribunnews dalam artikel berjudul Ini Penyebab Banyak Pasien Covid-19 Meninggal Saat Isoman di Rumah Dokter Daeng M Faqih, SH, MH, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, pasien meninggal saat isoman umumnya disebabkan gejala pemburukan yang tidak mendapatkan pertolongan.

Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan gradasi keparahan infeksi sehingga seharusnya mendapatkan perawatan lebih. Ia menguraikan, gradasi pasien Covid-19 terdiri dari lima tahapan yakni OTG, ringan, sedang, berat dan kritis.

Ketika mengalami pemburukan, pasien isoman otomatis naik menjadi level sedang dan harus dibawa ke rumah sakit.

"Mungkin memang agak berat faktanya, tapi kasus isoman meninggal itu karena seharusnya dibawa ke rumah sakit, bukan lagi isoman," jelasnya dalam diskusi media bertajuk Dukungan Good Doctor untuk Program Vaksinasi Nasional dan Penanganan COVID-19 di Indonesia secara virtual pada Kamis (22/07/2021).

Daeng mengatakan, seringkali keluarga tidak memahami gentingnya kondisi pasien isoman sehingga terlambat memberikan penanganan.

Hal yang cukup krusial untuk diperhatikan, tambahnya, adalah kadar saturasi oksigen pasien.

Oleh karena itu, ia mengatakan penting sekali bagi pasien isoman untuk selalu terhubung dengan dokter atau ahli kesehatan setempat, termasuk melalui layanan telemedisin.

Tujuannya agar tetap mendapatkan pendampingan dan menghindarkan diri dari gejala yang lebih berat. Pastikan untuk terus memantau kondisi pasien dan melaporkannya untuk mendapatkan arahan yang tepat dalam menanganinya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved