Virus Corona
Ini Kondisi Pasien Covid-19 yang Berisiko Alami Long Covid, Waspada saat Isolasi Mandiri
Kini para ilmuwan masih meneliti fenomena long Covid, meskipun kini sudah lebih banyak yang diketahui.
Penulis: Ikbal Nurkarim | Editor: Januar Alamijaya
TRIBUNKALTIM.CO - Penyebaran Covid-19 saat ini masih terus terjadi, meskipun jumlah kasus terus mengalami penurunan.
Orang yang terpapar Covid-19 pun kini banyak yang melakukan isolasi mandiri alias Isoman.
Meskipun tidak banyak dari mereka yang terpaksa menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pasien Covid-19 masih bisa mengalami keluhan atau gejala setelah sembuh dari Covid-19 atau sesudah menjalani isolasi mandiri, bahkan hingga beberapa minggu sejak gejala awal dirasakan.
Baca juga: Ribuan APD Diserahkan ke PKK Balikpapan, Buat Warga Isolasi Mandiri hingga Kader Posyandu
Fenomena tersebut dikenal sebagai long Covid.
Dilansir TribunWow.com dari The Conversation, kini para ilmuwan masih meneliti fenomena long Covid, meskipun kini sudah lebih banyak yang diketahui.
Tetapi sepertinya hingga kini itu masih tidak dipahami dengan baik.
Long Covid ditandai dengan kumpulan gejala yang bisa bervariasi.
Gejala yang paling umum dirasakan hingga kini adalah perasaan sesak napas, kelelahan meski tak melakukan aktivitas berat, sakit kepala, dan hilangnya kemampuan untuk merasakan dan mencium secara normal.
Sebuah survei oleh The Conversation yang dirilis pada Februari 2021 yang dilakukan terhadap 384 pasien Covid-19 menunjukkan bahwa 53 persen tetap terengah-engah pada satu hingga dua bulan kemudian, dengan 34 persen mengalami batuk dan 69 persen melaporkan kelelahan.
Metode survei dilakukan dengan cara pasien secara mandiri mengirimkan kelugannya melalui aplikasi COVID Symptom Study.
Baca juga: DPRD Kubar Beber Banyak Warga yang Isolasi Mandiri tapi Belum Dapat Bantuan
Dari data tersebut diketahui bahwa 13 persen orang yang mengalami gejala Covid-19 akan terus mengalami gejala selama lebih dari 28 hari, sementara 4 persen memiliki gejala setelah lebih dari 56 hari.
Dalam data tersebut juga terlihat bahwa orang ada beberapa kriteria orang yang kerap mengalami long Covid, diantaranya:
1. Orang-orang dengan penyakit yang lebih parah.
2. Memiliki lebih dari lima gejala
3. Usia yang lebih tua
4. Memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi atau obesitas.
Penelitian lain yang masih dalam tahap awal menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 juga dapat berdampak jangka panjang pada organ manusia.
Tetapi profil mereka yang terkena dampak dalam penelitian ini berbeda dengan mereka yang melaporkan gejala melalui aplikasi.
Penelitian mengamati sampel 200 pasien yang telah pulih dari Covid-19, menemukan kerusakan organ ringan pada 32% jantung manusia, 33% paru-paru, dan 12% ginjal manusia.
Kerusakan organ multipel ditemukan pada 25% pasien.
Pasien dalam penelitian ini memiliki usia rata-rata 44 tahun, dengan sebagian besar merupakan penduduk usia kerja muda.
Baca juga: Angka Kasus Covid-19 di Tanjung Redeb Berau Tertinggi, Isolasi Mandiri di Rumah tak Efektif
Hanya 18 persen yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19.
Itu artinya kerusakan organ dapat terjadi bahkan ketika pasien hanya mengalami gejala ringan.
Memiliki komorbid yang dianggap bisa memperparah kondisi kesehatan pasien Covid-19, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung iskemik, juga bukan prasyarat untuk kerusakan organ.
Ada banyak alasan mengapa orang mungkin memiliki gejala beberapa bulan setelah penyakit virus selama pandemi.
Dalam beberapa kasus gejala long Covid, memang sulit untuk diketahui apa yang menjadi penyebabnya.
Di mana gejala menunjuk ke organ tertentu, penyelidikan relatif mudah.
Seperti permasalahan paru-paru di mana Covid-19 rentan menyerang ke arah sana.
Agak sulit untuk dijelajahi adalah gejala kelelahan, padahal gejala ini merupakan gejala yang cukup sering ditemukan pada penyintas Covid-19.
Studi skala besar lainnya baru-baru ini menunjukkan bahwa gejala ini umum terjadi setelah Covid-19.
Kasus kelelahan bahkan terjadi pada lebih dari setengah kasus dan tampaknya tidak terkait dengan tingkat keparahan penyakit awal.
Terlebih lagi, tes menunjukkan bahwa orang yang diperiksa tidak mengalami peningkatan tingkat peradangan.
Itu menunjukkan bahwa kelelahan mereka tidak disebabkan oleh infeksi lanjutan atau sistem kekebalan mereka bekerja lembur.
Baca juga: NEWS VIDEO Manfaat Vitamin D bagi Pasien Covid-19 Saat Isolasi Mandiri
Faktor risiko untuk gejala jangka panjang dalam penelitian ini termasuk menjadi perempuan sesuai dengan studi Covid Symptom App.
Dan, yang menarik, ada diagnosis yang menyebut adanya kemungkinan hal ini berkaitan dengan kecemasan dan depresi, meski belum bisa dipastikan.
Selain itu, beberapa gejala long Covid juga tumpang tindih dengan gejala menopause, dan penggantian hormon dengan obat-obatan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak gejala.
Namun, uji klinis akan sangat penting untuk menentukan secara akurat apakah pendekatan ini aman dan efektif.
Kelelahan pasca-virus
Banyak penderita Long Covid yang dilaporkan mengalami kelelahan, nyeri otot, dan kesulitan berkonsentrasi.
Ada tumpang tindih dengan gejala sindrom kelelahan kronis sedang diselidiki.
CFS (chronic fatigue syndrome) atau sindrom kelelahan kronis sebelumnya telah dikaitkan dengan infeksi virus Epstein-Barr dan demam Q.
Studi terhadap orang yang terinfeksi Sars tahun 2003 lalu juga menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari mereka mengalami penurunan toleransi terhadap olahraga selama berbulan-bulan, meskipun paru-paru mereka tampak sehat.
Kerusakan organ yang berlangsung lama
Sesak napas, batuk, atau denyut nadi yang terus-menerus bisa menjadi gejala kerusakan permanen pada paru-paru atau jantung, meskipun ini tidak selalu permanen.
Kerusakan paru-paru tampaknya sangat umum di antara pasien Covid-19 yang membutuhkan perawatan rumah sakit.
Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 6 minggu setelah meninggalkan rumah sakit, sekitar setengah dari pasien masih mengalami sesak napas.
Jumlah itu turun menjadi 39% dalam 12 minggu.
Baca juga: Treatment Isolasi Mandiri Tidak Maksimal, Satgas Balikpapan Ungkap Risikonya
Sementara itu, sekitar sepertiga dari pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami kerusakan jantung.
Meski mereka yang mengalami infeksi ringan juga bisa terpengaruh.
Sebuah studi terpisah terhadap 100 pasien, banyak di antaranya mereka yang memiliki gejala yang relatif ringan ketika mereka terinfeksi pada bulan Maret.
Studi itu mengungkapkan bahwa 78 pasien di antaranya menunjukkan perubahan struktural abnormal pada jantung mereka pada pemindaian MRI.
Perubahan ini tidak selalu menimbulkan gejala, dan dapat menghilang seiring waktu.
Masalah yang sedang berlangsung dengan hati dan kulit juga telah dilaporkan.
Gejala yang berfluktuasi dan bergerak ke seluruh tubuh
Mungkin kelompok Long Covid yang paling aneh adalah mereka dengan gejala yang berfluktuasi.
Umumnya, gejala muncul dalam satu sistem fisiologis kemudian mereda.
Tapi ini ada gejala lain lagi yang muncul di sistem yang berbeda.
Meskipun mekanisme yang mendasari tetap belum terbukti, gejala tersebut mungkin berkaitan dengan sistem kekebalan yang terganggu, kata Altmann.
Semua usia terpengaruh
Diperkirakan ada sekitar 10% pasien Covid mengalami gejala yang berlangsung lebih dari tiga minggu, serta sekitar satu dari 50 pasien masih sakit dalam tiga bulan.
Baca juga: Tunjang Kesembuhan, Inilah Barang yang Wajib Disiapkan Ketika Isolasi Mandiri Covid-19
Laporan NIHR mengatakan gejala yang bertahan lama telah diamati pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak.
Tetapi hasil yang tidak dipublikasikan dari Covid Symptom Study menunjukkan bahwa wanita dan orang tua mungkin berisiko lebih besar.
"Di atas usia 18 tahun, risiko gejala yang berlangsung lebih dari sebulan tampaknya secara umum meningkat seiring bertambahnya usia," kata Prof Tim Spector, profesor epidemiologi genetik di King's College London yang menjalankan penelitian tersebut.
Kelompok yang kurang dipelajari adalah penghuni panti jompo.
"Apa yang kami dengar dari staf garis depan adalah bahwa ada sekelompok pasien yang mungkin tampak seperti sedang dalam pemulihan, dan kemudian kambuh."
"Kekuatan dan stamina mereka tampaknya menurun, sementara Covid mungkin telah mempercepat laju penurunan kognitif pada penderita demensia," kata Prof Karen Spilsbury.
Spilsbury merupakan ketua penelitian keperawatan di Universitas Leeds.
Ia telah mempelajari dampak Covid-19 pada penghuni panti jompo. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/obat-obatan-dinkes-berau.jpg)