Virus Corona di Berau
Kadiskes Berau Beber 3 Langkah Penentu Pasien Terpapar Covid-19 atau Tidak
Kasus positif Covid-19 bisa diketahui, ternyata perlu tiga langkah. Sampai sekarang, daerah-daerah di Indonesia, seperti Kabupaten Berau
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, BERAU - Kasus positif Covid-19 bisa diketahui dengan tiga langkah. Sampai sekarang, daerah-daerah di Indonesia, seperti Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur masih dilanda pandemi Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Iswahyudi, menyatakan, perkembangan kasus Covid-19 terus dinamis, angkanya tidak terus menurun ke titik nol.
Iswahyudi menjelaskan, kasus positif bukan hanya sekedar tes antigen, lalu reaktif dengan tanda garis dua.
Namun didukung pula oleh radiologi, alat laboratorium, dan kondisi fisik pasien.
Baca juga: Pasien Covid-19 Dijemput Paksa Keluarga dari RS Berujung Kematian, Kadinkes Berau Beber Kronologinya
Hal tiga langkah inilah yang menjadi penentu dalam menentukan seseorang terpapar Covid-19 atau tidak.
“Hal itu menjadi dasar untuk mengambil kesimpulan positif, jika sudah begitu rumah sakit tidak bisa lepas tangan jika dinyatakan Covid-19,” ungkapnya kepada TribunKaltim.co pada Senin (23/8/2021).
Kendati, pasien yang datang sudah tidak bisa tertolong lagi, karena terlambat dirujuk.
Kalau saturasinya sudah 70, itu sudah susah.
Baca juga: Dokumen Kesehatan di Berau Boleh Pakai Antigen, Syaratnya Telah Vaksin Covid-19 Dosis Lengkap
"Sekalipun menggunakan alat bantu pernapasan HNFC (high flow nasal cannula) dosis tinggi, sudah tidak mampu,” ujarnya.
Padahal, pihaknya berulang kali melakukan edukasi kepada masyarakat dalam pemberian oksigen kepada pasien Covid-19.
Berbeda dengan orang yang kurang bernapas biasa.
Seperti olahragawan kerap kehilangan kesadaran karena kelelahan dan memerlukan oksigen, organ tubuhnya masih tetap normal.
Baca juga: Pasien Covid-19 di Berau Diambil Paksa Keluarga, Berujung Kematian, Polisi Segera Bertindak?
Berbeda dengan pasien Covid-19, organ dalamnya sudah mengalami kerusakan. Terutama organ paru-paru.
“Biar diberikan oksigen, kalau paru-paru sudah putih, banyak radangnya, tidak bisa mengikat oksigen. Ini yang belum dipahami masyarakat,” jelasnya.
Iswahyudi mengakui, penanganan Covid-19 menjadi salah satu dilema.
Dampak sosial cukup tinggi dan tidak mudah.
Bagi mereka yang sadar pentingnya protokol kesehatan (Prokes) dalam merawat keluarga yang terpapar, tentu mengurangi potensi penularan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/donor-konvaselen-di-berau.jpg)