Breaking News:

Berita Balikpapan Terkini

Raih Financial Wellbeing, Reksa Dana Jadi Pilihan Bagi Kaum Milenial

Semarakkan FestiFund 2021, Perencana Keuangan dan CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, bagikan tips keuangan krusial agar investor milenial

Penulis: Bella Evanglista | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/BELLA EVANGLISTA
Perencana Keuangan dan CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie saat memaparkan materi di acara FestiFund 2021, Sabtu (28/8/21).TRIBUNKALTIM.CO/BELLA EVANGLISTA 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Semarakkan FestiFund 2021, Perencana Keuangan dan CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, bagikan tips keuangan krusial agar investor milenial agar makin produktif, Sabtu (28/8/21).

FestiFund 2021 merupakan kegiatan edukasi pasar modal tahunan berkonsep online festival, yang bertujuan mengenalkan produk reksa dana sebagai alternatif investasi bagi investor baru, yang mencari produk investasi mudah, aman, efisien, dan cocok untuk semua profil risiko dan tujuan investasi.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi dan inklusi masyarakat melalui produk investasi reksa dana yang dapat dijadikan alternatif investasi maupun diversifikasi portofolio.

Rangkaian acara virtual yang disemarakkan oleh pakar dan pelaku reksa dana ternama seperti Head of Distribution Sales BNP Paribas Asset Management, Andy Chandra, Head of Investment & Research BNI Asset Management, Yekti Dewanti dan Fund Manager Sinarmas Asset Management, Alvin Trofler Sutjipto ini juga disusun secara komprehensif mulai dari perencanaan keuangan, pengenalan investasi yang disarankan bagi pemula hingga strategi investasi yang sesuai dengan preferensi masing-masing investor.

Baca juga: Proses Perizinan Investasi di Berau Diakui Masih Rumit, tapi Banyak Peluang bagi Investor

Dalam rangkaian webinar tersebut, Perencana Keuangan dan CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, turut menjelaskan ada sekitar 46% orang yang stres akibat masalah keuangan, khususnya di tengah pandemi.

Kendati demikian, keterbatasan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa siapapun dapat mencapai financial wellbeing.

"Studi Bank of Amerika Merrill Lynch pada 2017 menemukan kalau lebih dari dua pertiga milenial mengatakan, bahwa tekanan keuangan dapat membebani kemampuan mereka untuk lebih produktif. Kalau kita memiliki rencana keuangan, maka tekanan stres akan jauh lebih sedikit," tegasnya.

Adapun tahapan untuk mencapai hal itu dimulai dari financial ignorance kemudian ke financial anxiety, financial maturity, financial pride dan financial wellbeing.

Financial maturity adalah kondisi di mana kita sudah bisa mengambil keputusan finansial tanpa diatur orang lain, sedangkan financial pride ditandai dengan pekerjaan yang sudah mapan dan pengeluaran yang lebih kecil dari pemasukan, sehingga bisa berinvestasi lebih dari setengah penghasilan.

"Milenial kebanyakan masih berada di tahapan financial anxiety dan tentunya sebelum pensiun, kita ingin mencapai kondisi merdeka finansial. Merdeka finansial adalah kondisi seseorang yang sudah memiliki passive income untuk membiayai living expensive. Passive income ini bisa diwujudkan dengan investasi," lanjutnya.

Menurut Prita, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, milenial perlu memiliki perencanaan dan tujuan keuangan.

Baca juga: Sejalan dengan Kebijakan Relokasi Pabrik, Airlangga Yakin Tren Investasi dari Jepang Akan Menggeliat

"Perencanaaan ini bisa meliputi biaya kebutuhan dan dana darurat. Kalau belum diperhitungkan secara matang, lalu lompat ke investasi akan bahaya sekali," jelasnya.

Menariknya, menurut Prita dana darurat bisa ditaruh di reksa dana pasar uang.

"Jadi tidak masalah jika ingin berinvestasi, yang penting alokasinya untuk dana darurat dan bukan untuk yang lainnya. Jika dana darurat sudah terkumpul yakni 3 kali pengeluaran bulanan, maka nilai investasinya bisa ditingkat," pungkas Prita. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved