Sabtu, 11 April 2026

Berita Balikpapan Terkini

Ustadz Solehuddin Siregar Beri 5 Julukan Saat UAS Datang ke Balikpapan, Ini Respon Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad atau biasa disapa UAS diketahui mengimami shalat subuh berjamaah yang ditutup dengan tausiyah di Masjid Agung At-Taqwa, Selasa (7/9

Penulis: Mohammad Zein Rahmatullah | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO
Suasana saat UAS mengisi tausiyah seusai shalat subuh berjamaah di Masjid Agung At-Taqwa pagi tadi, Selasa (7/9/2021). TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ustadz Abdul Somad atau biasa disapa UAS diketahui mengimami shalat subuh berjamaah yang ditutup dengan tausiyah di Masjid Agung At-Taqwa, Selasa (7/9/2021) pagi tadi.

Dalam kesempatan tausiyah tersebut, Ketua Masjid Agung At-Taqwa, Solehuddin Siregar menyampaikan sambutannya sebelum UAS mengisi tausiyah.

Kata Siregar, sebuah kehormatan bagi masyarakat Balikpapan kedatangan ustadz kondang seperti UAS. Pasalnya, kedatangan UAS bukan karena diundang secara khusus untuk mengisi tausiyah di Balikpapan.

"Pak Kyai Ustadz Abdul Somad hadir di tengah-tengah kita bukan untuk sholat subuh di masjid ini. Melainkan tujuan lain. Karenanya, mumpung dia ke Kaltim, tak ada salahnya kita undang untuk mengimami sekaligus mengisi tausiyah di sini," ujar Siregar.

Pada kesempatan itu, Siregar sendiri sempat memanggil UAS dengan 5 titel atau julukan sekaligus. Di antaranya Syaikh, Doktor, Ustadz, Kyai, dan tuan guru.

Baca juga: Ustadz Abdul Somad Isi Tausiyah di Masjid Agung At Taqwa Balikpapan

Bagi UAS, panggilan tersebut merupakan julukan terlengkap yang pernah ia dengar untuk disematkan pada dirinya.

"Lengkap. Kenyang dengarnya, tak perlu sarapan," tutur UAS.

Tak sampai di situ, UAS menerangkan berbagai latar belakang julukan tersebut bisa sampai ke Indonesia, dengan gaya khasnya ketika mengisi ceramah.

Dimulai dari sebutan ustadz yang ternyata merupakan bahasa Persia, bukan bahasa Arab. Dimana julukan ustadz berarti ialah guru besar. Hingga julukan kyai, kata UAS, awalnya ditujukan untuk benda-benda pusaka maupun hewan unik di tanah Jawa.

Dan pada akhirnya, agama Islam masuk ke tanah Nusantara, terjadilah pertukaran budaya yang kemudian menggeser pemaknaan 5 julukan itu.

"Kenapa saya jelaskan julukan yang disebut Ketua Masjid tadi? Tak ada, teringat saja mau menjelaskan. Kalau dihitung-hitung, unik ini," tukas UAS sambil menyungging senyumnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved