Gaya Hidup
Hari Ozon Sedunia 16 September, Begini Cara Agus Bei & Mahasiwa GEMPA Meminimalisir Penipisan Ozon
Hari Ozon Sedunia 16 September, Meminimalisir Penipisan Ozon, Balikpapan Butuh Ruang Terbuka Hijau
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Hari Ozon Sedunia 16 September, begini cara Agus Bei & mahasiwa GEMPA meminimalisir penipisan ozon.
Hari Ozon Sedunia diperingati setiap tanggal 16 September.
Ketetapan ini dibuat pada 19 Desember 1994 saat berbagai negara yang tergabung dalam PBB menandatangani Protokol Montreal yang merupakan salah satu perjanjian internasional di bidang lingkungan hidup.
Adapun perjanjian ini memiliki tujuan untuk fokus melindungi lapisan ozon.
Sebagaimana kita ketahui, lapisan ozon merupakan suatu lapisan gas alami yang berada di stratosfer antara 15-30 km di atas bumi.
Fungsi lapisan ozon sebagai penyerap dan pengendali sinar Ultra Violet B (UV-B) dari radiasi matahari.
Penipisan lapisan ozon terjadi ketika ada gangguan terhadap keseimbangan alamiah antara pembentukan dan penguraian ozon akibat terlepasnya
Bahan Perusak Lapisan Ozon (BPO) ke atmosfer. BPO merupakan bahan kimia yang dapat mengurai ikatan ozon menjadi oksigen sehingga lapisan ozon menipis.
Pada tataran kehidupan sehari-hari, kita sering tak menyadari kebiasaan atau gaya hidup yang ternyata justru merusak lapisan ozon.
Misalnya saja seperti penggunaan AC di rumah secara berlebihan, tetap menyalakan listrik saat tidak diperlukan, hair spray, pengharum ruangan, dan penggunaan kendaraan meskipun jarak yang ditempuh tidak jauh.
Aktivis dan pemerhati lingkungan di Balikpapan, Agus Bei, turut angkat suara terkait dengan isu ozon.
Agus Bei sendiri merupakan pria di balik megahnya Mangrove Center di kelurahan Graha Indah Balikpapan dan menjadi satu dari 21 nama yang mendapat penghargaan Local Heroes Award yang dihelat Tribun Network dan Tribun Institute.
Sejak 20 tahun lalu, Agus Bei telah berupaya untuk menyiapkan ruang hijau bagi masyarakat Balikpapan dengan cara mengelola Mangrove Center yang dapat dinikmati masyarakat pesisir dan nelayan lokal Balikpapan.
Kendati demikian, Agus Bei mengatakan, pemerintah dan masyarakat sudah harus fokus pada permasalahan lingkungan ini termasuk di antaranya mengelola hutan Mangrove dengan tidak hanya mengharapkan upaya dari aktivis lingkungan seperti dirinya.
"Mungkin saat ini kita masih bisa meminimalisir efek samping penipisan ozon karena ruang hijau di Balikpapan masih cukup luas. Tapi berbicara nanti ke depan sekitar 10 tahun mendatang, ditambah dengan adanya pengembangan kota Balikpapan terkait IKN, tentu kita tidak dapat mengharapkan luas ruang hijau saat ini dapat memberikan fungsi dan manfaat yang sama," ujar Agus Bei.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/mahasiswa-lakukan-bersih-pantai_4.jpg)