News Video
NEWS VIDEO Penampakan Rumah Kerajaan Angling Dharma di Banten
Setelah sempat dihebohkan dengan kemunculan kerajaan fiktif Sunda Empire. Klaim seorang warga yang mengaku sebagai keturunan raja kembali muncul
TRIBUNKALTIM.CO - Setelah sempat dihebohkan dengan kemunculan kerajaan fiktif Sunda Empire.
Klaim seorang warga yang mengaku sebagai keturunan raja kembali muncul.
Seorang warga yang tinggal di Desa Mandalawangi, Pandeglang mengaku sebagai keturunan Angling Dharma.
Sosok pemimpinnya pun dikenal sebagai pribadi yang dermawan.
Beginilah penampakan rumah yang disebut-sebut sebagai Kerajaan Angling Dharma di Kampung Salangsari, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandegalng Banten.
Dikutip dari KompasTv.com, rumah yang disebut sebagai Kerajaan Angling Dharma ini identik dengan warna kuning dan hijau.
Ada pula singgasana raja di halaman rumah serta lengkap dengan berbagai kata-kata yang tertulis.
Kerajaan Angling Dharma disebut dipimpin oleh Baginda Raja Sultan Iskandar Jamaludin Firdaus.
Ia diklaim miliki ikatan atau keturunan kerajaan dan kesultanan di Indonesia.
Menurut salah satu pengikut kerajaan Angling Dharma Aki Jamil, sosok yang disebutnya sebagai 'Baginda' adalah orang dermawan yang ingin mengentaskan orang miskin.
"Baginda semua kegiatannya di bidang sosial, terutama tujuannya untuk menyejahterakan masyarakat miskin. Intinya, memanusiakan manusia," kata Aki Jamil
Aki menuturkan, sosok baginda itu kerap memperbaiki atau membangun kembali rumah-rumah masyarakat miskin di sekitar mereka.
Ia juga menyebut, pemimpin Kerajaan Angling Dharma ini membangun rumah warga miskin dengan uang sendiri.
Sang baginda, juga disebut telah mulai membantu keluarga-keluarga miskin sejak tahun 2017.
“Tidak dibantu oleh pemerintah atau sumbangan-sumbangan. Itu murni semuanya pekerjaan Baginda,” ujar Aki.
Sejauh ini warga sekitar tak terlalu menghiraukan keberadan rumah yang diisebut sebagai Kerajaan Angling Dharma itu.
Pemerintah Daerah Pandeglang Banten pun sudah memantau keberadaan aktivitas kegiatan warga yang mengaku sebagai raja juga pengikutnya.
Hal itu dilakukan agar tak memicu persoalan di lingkungan sekitar.