Berita Malinau Terkini
Manfaatkan Platform Digital, Cara Pengrajin di Malinau Survive Selama Pandemi Covid-19
Manfaatkan metode pemasaran melalui sosial media merupakan satu dari sekian upaya pelaku usaha di Malinau bertahan selama pandemi Covid-19
TRIBUNKALTIM.CO,MALINAU – Manfaatkan metode pemasaran melalui sosial media merupakan satu dari sekian upaya pelaku usaha di Malinau bertahan selama pandemi Covid-19.
Metode pemasaran berbasis digital, memanfaatkan platform sosial media banyak digandrungi pelaku usaha kecil menengah di Kabupaten Malinau.
Pengrajin rotan di Kabupaten Malinau, Ari Sandi menerangkan selama pandemi Covid-19, dirinya aktif memasarkan produk lokal melalui media sosial pribadi miliknya.
“Sejak awal produk kerajinan rotan kami berupa mebel, perabotan rumah tangga. Akhir-akhir ini mulai masuk ranah souvenir. Promosi via medsos, dan biasanya orang pemesanan langsung datang ke tempat kami di Pelita,” ujarnya Rabu (27/10/2021).
Baca juga: Vaksinasi Covid-19 di Kalimantan Utara, Gubernur Zainal Paliwang Minta Ada di Pelabuhan
Baca juga: Cakupan Vaksin Sudah 70 Persen, Andi Sri Juliarty Sebut Kota Balikpapan Capai Herd Immunity
Baca juga: Disdikbud Kukar Tinjau Vaksinasi Pelajar di SMPN 1 Tenggarong, Apresiasi Langkah AKABRI Angkatan 90
Pemuda yang juga merupakan Ketua Komunitas Kerajinan Rotan Brielle Mandiri Desa Pelita Kanaan tersebut aktif memasarkan produk miliknya melalui akun media sosial pribadi, facebook dan instagram.
Metode pemasaran tersebut terbukti efektif dan telah digmadopsinya sejak tahun lalu. Platform media sosial dijadikan ajang promosi karya tangan buatan dia dan rekan-rekannya.
Hal tersebut diakui Ari Sandi dapat memacu pemasaran karya kerajinan tangan yang diproduksi di komunitas tersebut.
Ia mengusulkan agar pemerintah daerah termasuk stakeholder terkait turut membantu pemasaran dan serapan produk kerajinan tangan daerah.
“Promosi lewat medsos efektif, karena selama pandemi, penggunanya juga bertambah. Kita harapkan ada upaya, bantuan dari pemerintah dan stakeholder terkait agar produk lokal terserap maksimal di pasaran,” katanya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Pengrajin sekaligus pelaku usaha Batik asal Malinau, Neos Belly. Pengelola usaha batik dengan merek dagang Thenos Batik tersebut aktif mempromosikan karya dan dagangannya melalui media sosial.
Menurut Neos Belly, beberapa kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah daerah dapat memacu produktivitas dan menjaga kelestarian budaya masyarakat lokal di Bumi Intimung.
Baca juga: Sejumlah Orangtua Tolak Anaknya Divaksin Covid-19, Kapolda Kaltim: Kita Identifikasi Alasannya
Seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Kaltara, mewajibkan ASN dan pegawai pemerintah untuk mengenakan batik daerah. Terobosan tersebut menurutnya merupakan kabar gembira bagi pelaku usaha di Malinau.
“Sekarang rata-rata pemasaran via digital. Lewat Medsos. Ke depannya harapan kita ada terobosan seperti yang dilakukan pak Gubernur soal kewajiban Batik ASN, agar karya kerajinan lokal menjadi nilai tambah bagi pengusaha lokal,” ungkapnya. (*)