Rabu, 15 April 2026

Berita Berau Terkini

Beras Lokal Berau Kalimantan Timur Kini jadi Primadona, Hanya Terkendala Stok

Serapan produksi beras lokal Kabupaten Berau terbilang lancar. Sebanyak 24 ton produksi lokal yang diakomodir Dinas Pangan Berau laku terjual

Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI
Beras lokal yang ada di kantor Dinas Pangan Berau. TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Serapan produksi beras lokal Kabupaten Berau terbilang lancar. Sebanyak 24 ton produksi lokal yang diakomodir Dinas Pangan Berau laku terjual.

Kepala Dinas Pangan Berau, Fattah Hidayat menjelaskan animo masyarakat terhadap beras lokal disebut  kian meningkat.

Daya tahan beras lokal memang tidak sama beras yang berasal dari luar Berau, karena memang murni tanpa bahan pengawet dan lainnya. Namun justru sangat diminati para konsumen karena menilai lebih sehat. 

“Ini membuktikan konsumsi beras lokal kita kian membaik. Semua ini tak lepas dari komitmen para petani kita yang mau menghasilkan beras dengan kualitas setara dengan beras dari luar,” ungkapnya, Senin (1/11/2021).

Penjualan beras lokal tahun 2021 ini sudah melebihi angka penjualan tahun 2020 yang hanya 22,2 ton. Padahal tahun 2021 baru akan berakhir sebulan lagi.

Baca juga: ASN Jadi Percontohan Konsumsi Beras Lokal, Dinas Pangan Harapkan Ada Toko Pangan Nusantara di Berau

Baca juga: Bulog Serap Beras Lokal, Bupati Berau Sri Juniarsih Ajak Warga Konsumsi Produk Petani Daerah

Baca juga: Beras Abung, Beras Lokal Khas Mahulu yang Dihasilkan dari Pertanian Lahan Kering, Apa Keunggulannya?

Hanya saja, minat tinggi masyarakat ternyata dominan pada produksi beras pada lahan kering atau biasa disebut masyarakat beras gunung.

Selama ini, jika beras gunung sudah habis baru kemudian warga beralih mengkonsumsi beras sawah. Alasannya beras gunung lebih pulen dan wangi.

Hanya saja, yang menjadi kendala saat ini adalah kuota beras gunung yang sangat terbatas. Sebab hanya ada dua kecamatan yang memproduksi beras gunung, yakni Kecamatan Segah dan Kelay.

Tidak cukup sampai disitu, petani dari dua kecamatan ini tidak menjual seluruh hasil panennya. Tetapi menyimpan sebagian beras yang dimiliki untuk keperluan pribadi.

“Misal kita satu kali musim panen itu terima 5 ton beras sawah dan 5 ton beras gunung. Warga akan memburu beras gunung dulu, kalau sudah habis baru mereka beralih ke beras sawah,” bebernya.

Baca juga: Tampung Beras Lokal dan Nonlokal, Bulog Tanjung Redeb Pastikan Stok Aman Hingga Idul Fitri

Fattah menyebutkan, animo masyarakat tidak terlepas dari peningkatan kualitas beras lokal. Apalagi, tidak menggunakan bahan-bahan kimia lainnya seperti pemutih ataupun pengawet. 

Masalah yang ada saat ini hanya masalah margin bagi pelaku usaha tani. Mengingat tingginya biaya produksi yang belum selaras dengan harga jual. Terlebih harga beli dari pemerintah yang menjadi patokan Perum Bulog masih dibawah standar harga petani. 

Ia juga meyakini hadirnya toko tani nantinya akan semakin memperluas jangkauan penjualan beras lokal dan hasil pertanian lainnya.

“Semoga saja sampai akhir tahun stok beras yang ada di Dinas Pangan akan segera habis maka tidak ada lagi yang tersisa. Ini demi meningkatkan taraf hidup petani kita,”tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved