Amalan dan Doa
Ibu Merupakan Pendidik Terbaik dalam Rumah Tangga, Ini Cara Mendidik Anak dalam Islam
Ibu merupakan pendidik terbaik dalam rumah tangga, Ini cara mendidik anak dalam Islam .
TRIBUNKALTIM.CO - Ibu merupakan pendidik terbaik dalam rumah tangga, Ini cara mendidik anak dalam Islam .
Setiap orangtua memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka.
Ibu merupakan pendidik terbaik atau madrasah pertama, sedangkan ayah adalah role model bagi anak-anaknya nanti.
Dalam Islam, terdapat metode dan cara dalam hal mendidik anak.
Bagaimana cara mendidik anak dalam Islam?
Melansir dari bdkjakarta.kemenag.go.id, berikut dalam tips mendidik anak Islam:
1. Mendidik dengan Kasih Sayang dan Nasihat
Kasih sayang mempunyai dampak positif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Pendidikan dengan kasih sayang dan nasehat dapat menjadikan seorang anak lembut dan santu dalam berbicara dan bersikap. Selain itu, kedekatan yang tercipta antara orang tua dan anak dapat membuat anak lebih terbuka dan percaya diri. Pendidikan semacam ini terdapat dalam Alquran surat Al-Luqman ayat 17 dan 18. Luqman berlaku lemah lembut dalam menasehati anaknya dengan menggunakan kata, “Wahai anakku...”. Pendidikan serupa juga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam sebuah hadis berikut,
Baca juga: Jangan Lupa Mengerjakan Adab Bangun Tidur Sesuai Sunnah, Ini Doanya Bahasa Arab, Latin dan Arti
Baca juga: Adab Masuk dan Keluar Kamar Mandi, Lengkap dengan Bacaan Doanya, Bahasa Arab, Latin dan Artinya
"Dari Umar bin Abu Salamah r.a. berkata: ‘ketika masih kecil, aku pernah berada dibawah pengawasan Rasulullah SAW, dan tangtanku bergerak mengulur ke arah makanan yang ada dalam piring. Maka Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Wahai anak, sebutkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu" (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Tidak Memanjakan Anak
Untuk menghindarkan diri dari memanjakan anak, maka diperlukan sikap apatis. Apatis berarti bersikap acuh tak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh. Sikap ini terkadang perlu untuk mendidik anak agar menjauhi keburukan. Pendidikan macam ini lebih dikhususkan kepada anak pada fase usia awal sekolah dasar. Sebagaimana dalam sebuah kisah berikut,
Dalam sebuah riwayat dikatakan: Kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu. Kemudian ia melarang dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang bermain lempar batu dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya lempar batu tidak akan dapat memburu buruan....’Kemudian anak itu kembali bermain. Maka ia berkata, ‘Aku memberitahumu bahwa Rasulullah SAW telah melarangnya, namun engkau terus bermain lempar batu? Maka aku tidak akan mengajakmu bebicara selamanya!”
Sikap apatis ini tentu tidak selamanya, artinya ada batasan waktu sampai anak tersebut tidak mengulangi perbuatan buruknya lagi. Sikap apatis juga tidak diperkenankan untuk hal-hal yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Bersikap Tegas
Sikap ini sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anak. Dalam Islam, sikap tegas ini bahkan diperbolehkan sampai taraf memukul. Namun, pendidikan seperti ini hanya boleh dilakukan bagi anak yang berusia akil baligh. Ranah pendidikan yang ditekankan di sini adalah yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban sang anak sebagai seorang muslim. Dari Amr bin Syua’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tripsavvycom-ilustrasi-mendidik-anak.jpg)