Virus Corona
Dibanding Delta Gejala Infeksi Omicron Tidak Terlalu Parah, WHO Ingatkan Potensi Tsunami Covid-19
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, infeksi Covid-19 akibat varian Omicron tidak boleh dikategorikan sebagai penyakit ringan
TRIBUNKALTIM.CO - Penyebaran Covid-19 varian Omicron kian meluas.
Akibatnya, kasus harian Covid-19 di sejumlah negara mengalami lonjakan yang cukup tajam.
Saat ini, ada lima negara yang menjadi pusat kasus Omicron terbaru dengan angka kasus Covid-19 yang cukup tinggi.
Seperti diketahui, Covid-19 varian Omicron pertama kali terdeteksi di wilayah Afrika Selatan.
Varian Omicron kemudian menyebar ke negara-negara lain, termasuk di Eropa, Asia, hingga Australia.
Merebaknya kasus infeksi virus Corona varian Omicron di sejumlah negara, termasuk Indonesia, membuktikan cepatnya penularan varian baru tersebut.
Baca juga: Anang Hermansyah Beber Fakta Soal Ashanty Terpapar Omicron, Bunda Ternyata Punya Penyakit Lain
Baca juga: ALASAN Ashanty Ogah Karantina di Wisma Atlet, Terpapar Omicron Covid-19 Usai Liburan dari Turki
Baca juga: Balikpapan Masih Aman dari Omicron, Hasil Pemeriksaan Sample di Puslitbangkes Negatif
Sejak pertama kali ditemukan di wilayah Afrika Selatan, varian Omicron memang disebut lebih cepat menyebar dibandingkan Covid-19 varian Delta walaupun tidak menimbulkan gejala yang lebih parah.
Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kepada masyarakat untuk tidak menganggap remeh varian B.1.1.529 atau Omicron.
Sebagaimana dilansir dari Kompas.com, pada Jumat (7/1/2022), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, infeksi Covid-19 akibat varian Omicron tidak boleh dikategorikan sebagai penyakit ringan.
"Meskipun (gejala infeksi) Omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan varian Delta, terutama pada mereka yang telah vaksinasi, tidak berarti dapat dikategorikan ringan," ujar Tedros.
"Sama seperti varian sebelumnya, varian Omicron bisa membuat orang dirawat di rumah sakit dan membunuh manusia," imbuhnya.
Dilansir dari Reuters melalui KOMPAS.com, Tedros pun memperingatkan potensi "tsunami" Covid-19 akibat melonjaknya infeksi varian Omicron dan Delta secara global.
Dia menambahkan, jika hal itu terjadi, sistem perawatan kesehatan di banyak negara dapat kewalahan.
Sementara itu, pimpinan WHO untuk manajemen klinis, Janet Diaz mengungkapkan, studi awal menunjukkan bahwa risiko rawat inap akibat infeksi Omicron lebih rendah dibandingkan dengan infeksi varian Delta.
Dia menyebut, varian Omicron tampaknya tidak menyebabkan gejala parah bagi masyarakat kelompok usia muda dan dewasa.
Baca juga: Ashanty Dinyatakan Positif Omicron, Atta Halilintar Ungkap Kondisi Aurel Hermansyah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/omicron.jpg)