Minggu, 3 Mei 2026

Ustadz Meninggal Diduga Dikeroyok

Dua Santri Pengeroyok Guru Ponpesnya di Samarinda Dikenakan 3 Pasal Pidana

Dua santri yakni AB dan HR resmi dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian dengan tindak pidana penganiayaan mengakibatkan hilangnya nyawa

Tayang:
Penulis: Rita Lavenia | Editor: Budi Susilo
HO/POLRESTA SAMARINDA
Press releas di Mapolresta Samarinda, terkait kasus penganiayaan berujung maut oleh dua santri terhadap guru ponpesnya, Jumat (25/2/2022) sore. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dua santri yakni AB dan HR resmi dijadikan tersangka oleh pihak kepolisian dengan tindak pidana penganiayaan mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

Hal ini disampaikan Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli dalam rilisnya, Jumat (25/2/2022) sore di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Tidak tanggung-tanggung, kedua remaja yang sama-sama masih berusia 15 tahun ini (sebelumnya diberitakan 17 tahun) pun dijerat tiga pasal sekaligus.

"Ada unsur perencanaannya, sehingga kami kenakan pasal perencanaan 340 KUHP, serta mengakibatkan kematian pasal 338 dan pengeroyokan pasal 170 KUHP," sebut Kapolresta.

Baca juga: BREAKING NEWS Diduga Jadi Korban Pengeroyokan, Seorang Guru Ponpes di Samarinda Utara Tewas

Baca juga: 7 Pukulan Bertubi-tubi dari Dua Santri Jadi Penyebab Guru Ponpes Meninggal Dunia

Baca juga: FAKTA Guru Ponpes di Samarinda Tewas Usai Dikeroyok Santrinya, Dikenal Baik & Tegas, Kesaksian Warga

"Dalam prosesnya kita menggunakan hukum acara peradilan anak yang mana nantinya kami akan berkonsultasi dengan Bapas untuk mendampingi pelaku," jelasnya.

Dalam rilisnya, Kombes Pol Ary Fadli menjelaskan ulang kronologi bagaimana AB dan HR menganiaya salah seorang guru pesantren mereka, yakni Ustadz Eko Hadi Prasetya (43) hingga berujung maut.

Di mana pada Rabu (23/2) sekitar Pukul 03.00 Wita, korban yang juga merupakan bagian kesiswaan Pondok Pesantren Al Madina Kampus Putra hendak membangunkan para santrinya untuk menjalankan sholat subuh.

Ketika tiba di kamar HR, terlihat dua ponsel jenis android terletak di atas meja, yang tentu sudah menyalahi aturan ponpes.

Baca juga: Hasil Visum Keluar, Terkuak Guru Ponpes di Samarinda Tewas Akibat Luka Robek Besar di Kepala

"Jadi HP langsung disita oleh korban dan diketahui HR," jelasnya.

Singkat cerita, HR yang berniat mengambil kembali ponselnya pun mengajak AB untuk menghadang gurunya yang baru saja melaksanakan sholat subuh pada Pukul 05.30 Wita.

Tanpa pikir panjang, kedua remaja ini pun langsung memukul korban menggunakan balok kayu, hingga tak berdaya.

Dan kemudian melarikan diri usai mendapat kembali ponsel yang diletakan di dalam jok motor.

Mengira Sedang Membunuh Ular

Berita sebelumnya. Waktu menunjukan Pukul 05.30 Wita saat warga di Jalan Assadah, Gang 4, RT 18 Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, baru selesai menjalankan ibadah sholat subuh.

Tiba-tiba terdengar suara gebukan disertai teriakan keras yang membuat beberapa warga yang tinggal di samping Pondok Pesantren IT Madinah (Kampus Putra) mengakhiri dzikir dan berlari keluar rumah.

Samsudin, salah seorang warga setempat menjelaskan, kala itu dirinya baru selesai menjalankan sholat subuh.

Ketika sedang berdzikir, telinganya langsung menangkap suara seperti orang sedang menggebuki ular besar. Namun karena suara tersebut cukup lama, dirinya pun menghentikan dzikir dan keluar memeriksa.

Baca juga: TERUNGKAP Cara 2 Santri Habisi Guru Ponpes di Samarinda, Ustadz Tewas Masih Pakai Sarung & Baju Koko

Alangkah terkejutnya Ia, sebab terlihat dua orang yang diperkirakan masih remaja tengah memukuli seorang pria menggunakan balok kayu.

"Saya keluar mereka (para pelaku) langsung lari ke atas (arah bukit). Korban ini sudah bersimbah darah," bebernya.

Begitupun Bilqis (29), penghuni rumah tepat di depan lokasi kejadian menerangkan, ketika sedang berdzikir.

Dirinya mendengar suara gebukan keras disertai teriakan kesakitan suara laki-laki. Bertepatan dengan dirinya membuka pintu, ia bersama Samsudin (saksi sebelumnya) mendapati tubuh guru Pondok Pesantren tersebut sudah terkulai lemah.

"Banyak banget darahnya. Sepertimya kepalanya bocor," terang ibu satu anak ini.

Dilanjutkannya, saat itu korban masih mengenakan baju koko dan sarung dan sepertinya juga baru selesai menunaikan ibadah sholat subuh.

"Pas kita dekati masih nafas. Ada 1 kayu di kakinya," terang Ibu anak satu ini.

"Namanya Pak Eko (43). Ustadz dan guru di pesantren ini (IT Madina)," terangnya.

Tidak lama lanjutnya, karena mereka tidak berani menyentuh korban ataupun barang bukti, beberapa saksi di lokasi kejadian langsung menghubungi pondok pesantren tempat korban mengajar.

Akhirnya, dibantu para saksi, pihak Ponpes IT Madinah langsung menghubungi ambulance yang kemudian membawa tubuh malang korban ke RSUD AW Syahranie, Kota Samarinda.

"Tapi informasinya satu jam dirawat di RS meninggal," imbuh Bilqis. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved