Breaking News:

Ekonomi dan Bisnis

Efek Buruk Impor, Harga Sembako di Indonesia Meroket Naik

Kegiatan impor barang dinilai jadi kambing hitam naiknya beberapa harga bahan pangan sembako di berbagai daerah di Indonesia

Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
ILUSTRASI Kondisi pasar menjual kebutuhan sembako masyarakat di Balikpapan, Kalimantan Timur. TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Kegiatan impor barang dinilai jadi kambing hitam naiknya beberapa harga bahan pangan sembako di berbagai daerah di Indonesia.

Konsep operasi pasar masih efektif untuk menekan harga di pasar.

Namun, tentu saja jauh lebih penting adalah perbaikan rantai pasok, sehingga barang yang masyarakat butuhkan tetap tersedia di pasar.

Memasuki awal bulan Juni harga bahan pokok mengalami kenaikan. Salah satunya adalah harga cabai merah keriting yang naik signifikan.

Baca juga: Harga Sembako di Balikpapan, Bawang Putih Turun, Telur dan Tepung Masih Tinggi

Baca juga: Konsumen Sudah Berkurang, Harga Sembako di Kutai Timur Mulai Turun

Baca juga: Dirjen Daglu Kemendag Indrasari Wisnu Diduga Terlibat Kasus Impor Besi, Tengah Didalami Kejagung

Berdasarkan pemantauan di Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) cabai merah
keriting dan cabai rawit merah.

Dua komoditi tersebut mengalami kenaikan yang paling tinggi.

Masing-masing sebesar 29,62 persen dan 33,77 persen dibandingkan 13 Mei 2022.

Cabai merah keriting pada 13 Mei 2022 dijual Rp 39.300 kini menjadi Rp 51.200.

Sementara cabai rawit merah dari Rp 45.900 pada 13 Mei, kini dijual Rp 61.400 per
kilogramnya.

Baca juga: Emak-emak Komplain, Harga Sembako Terkerek Naik, Cabai Sentuh Rp 55 Ribu per Kg

Kenaikan kebutuhan pokok juga terpantau di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved