Berita Nasional Terkini
Demokrat Soroti Elektailitas Prabowo Subianto Menuju Pilpres 2024, Bakal Menurun
Partai Demokrat soroti elektailitas Prabowo Subianto menuju Pilpres 2024, bakal menurun
Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Faizal Amir
TRIBUNKALTIM.CO - Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan elektabilitas Prabowo Subianto dalam hasil rilis sejumlah lembaga survei dinilai sudah maksimal dan tak akan naik.
Dilansir dari Tribunnews.com, bahkan menurutnya, tren elektabilitas Prabowo sebagai tokoh yang digadang maju calon presiden di Pilpres 2024 akan terus menurun. Apalagi Pilpres masih dua tahun ke depan.
"Saya melihat bahwa katakanlah capres yang memiliki survei tinggi sampai sekarang, katakanlah Prabowo, saya melihat Prabowo ini sudah maksimum, tidak akan naik.
Bahkan trennya akan menurun dari hari ke hari, karena kita kan masih ada dua tahun kurang sedikit," kata Syarief dalam diskusi daring Polemik Trijaya, Sabtu (4/6/2022).
Di samping itu menurut Syarief, masyarakat lebih menginginkan calon presiden baru yang sebelumnya belum mengikuti kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden.
"Jadi saya lihat tren untuk Prabowo akan semakin menurun, dan saya yakin rakyat menginginkan perubahan dan perbaikan bangsa, rakyat menunggu siapa capres yang komit terhadap perubahan," ucapnya.
Sebelumnya, Saiful Mujani Research and Consulting ( SMRC) mencatat dalam kurun satu tahun terakhir, tren dukungan pemilih Jokowi pada Pilpres 2019 cenderung ke Ganjar Pranowo.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, dukungan kepada Ganjar justru menurun dan Prabowo Subianto mulai naik.
Pendiri SMRC Saiful Mujani memahami peta dukungan pemilih Jokowi-Maruf Amin penting bagi siapa pun yang akan bertarung di Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
“Pada Pilpers 2019, jumlah mereka banyak, 55 koma sekian persen. Sementara kita semua tahu Pak Jokowi tidak bisa maju lagi.
Jadi pertanyaannya, suara pemilih tersebut akan ke mana?” ujar Saiful dalam kanal Youtube SMRC TV, Jumat (3/6/2022).
Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta ini menambahkan, memahami perilaku pemilih Jokowi-Maruf Amin tidak bisa hanya didasarkan keputusan partai.
“Mungkin ada yang berasumsi seperti itu. Jokowi memang PDIP. Mungkin suara pemilihnya akan mengikuti suara PDIP. Itu asumsi kalau partai politik penting dalam pilpres,” kata Saiful.
Akan tetapi, Saiful mengatakan persentase kekuatan PDIP sekitar 20 persen lebih dari total pemilih nasional.
"Untuk meraih 50 persen plus, butuh dukungan partai lain dan pemilih Jokowi di 2019 kan bukan hanya dari PDIP.
Ada dari Nasdem, Golkar, dan lain-lain Artinya apa? Artinya aspek-aspek dari partai lain juga perlu dihitung, kalau bicara soal partai,” kata Saiful.
Saiful menegaskan, dalam diskusi dan literatur politik selama pemilihan presiden, peran tokoh sangat penting di tengah lemahnya hubungan pemilih dengan partai politik di Indonesia.
Dari survei-survei nasional tatap muka yang dilakukan SMRC selama setahun terakhir, Saiful menemukan bahwa mereka yang memilih Jokowi di Pilpres 2019, trennya cenderung memilih Ganjar, meskipun banyak juga yang bergeser ke Prabowo dan Anies Baswedan.
Dari Mei 2021 hingga Maret 2022, selama empat kali survei, Ganjar merebut paling banyak pemilih Jokowi. Dari 32,8 persen di Mei 2021, sempat melonjak 40,6 persen di Desember 2021, dan terakhir 36,9 persen di Maret 2022.
Prabowo meraih 24,6 persen di Mei 2021, turun 22,4 di Desember 2021, dan naik lagi menjadi 26,3 persen di Maret 2022. Sementar Anies meraih 23,8 di Mei 2021, dan 20,8 persen di Maret 2022. (*)