Berita Internasional Terkini

Gawat, Kadar Karbon Dioksida di Atmosfer Sudah Lewat Ambang Batas, Cek Pemicunya

Gawat, kadar karbon dioksida di atmosfer sudah lewat ambang batas, cek pemicunya

Penulis: Rafan Arif Dwinanto | Editor: Sandrio

TRIBUNKALTIM.CO - National Oceanic and Atmospheric Administration ( NOAA), baru-baru ini mengungkapkan bahwa tigkat karbon dioksida di atmosfer Bumi mencatat rekor tertingginya.

Dilansir dari Kompas.com, dalam laporan yang dirilis NOAA, kadar karbon dioksida pada bulan Mei 2022 setidaknya 50 persen lebih tinggi dibandingkan era pra-industri.
Seperti dilansir dari Science Alert, Sabtu (4/6/2022) hasil itu didapatkan setelah peneliti melakukan pengukuran karbon dioksida di observatorium Mauna Loa di Hawaii.

Mereka berkata, keberadaan gas karbon dioksida di puncak gunung berapi Mauna Loa membuktikan atmosfer Bumi lebih berbahaya dibandingkan saat zaman pra-industri.

Perlu diketahui, karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang memerangkap panas dan secara perlahan menyebabkan pemanasan global.
Gas ini akan tetap berada di atmosfer maupun lautan selama ribuan tahun lamanya.

"Karbon dioksida berada pada tingkat yang belum pernah dialami sebelumnya, tetapi ini bukan hal baru," ujar ilmuwan di Global Monitoring Laboratory Pieter Tans.

Para peneliti menyebut, bulan Mei merupakan bulan dengan tingkat emisi karbon dioksida yang tertinggi di setiap tahunnya.

Namun, berdasarkan pengukuran polusi di atmosfer konsentrasi gas tersebut telah melewati ambang batas yang ditetapkan yakni 420 bagian per sejuta (ppm) pada Mei 2022 lalu.

Sementara Mei 2021 konsentrasinya mencapai 419 ppm, dan pada Mei 2020 sebesar 417 ppm.

"Sebelum Revolusi Industri, tingkat CO2 (karbon dioksida) tetap stabil di sekitar 280 ppm," tulis NOAA dalam laporannya.

Berdasarkan catatan NOAA, tingkat karbon dioksida di atmosfer saat ini serupa dengan yang terjadi sekitar 4,1 hingga 4,5 juta tahun yang lalu, di mana konsentrasinya bisa di atas 400 ppm.

Konsentrasi karbon dioksida yang tinggi itu diprediksi akan terus meningkat, seiring dengan terjadinya pemanasan global atau global warming.

"Kita dapat melihat dampak perubahan iklim di sekitar kita setiap hari.

Peningkatan karbon dioksida tanpa henti yang diukur di Mauna Loa adalah pengingat, bahwa kita perlu mengambil langkah-langkah dan serius untuk menjadi bangsa yang lebih siap menghadapi perubahan iklim," papar Administrator NOAA Rick Spinrad dilansir dari NDTV, Minggu (5/6/2022).

Aktivitas manusia terutama pasokan energi listrik menggunakan bahan bakar fosil, transportasi, produksi semen, atau penggundulan hutan, diyakini sebagai penyebab pemanasan global.

Efek dari pemanasan global, kata NOAA, telah menyebabkan gelombang panas yang ekstrem, kekeringan, kebakaran, bahkan banjir. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved